Rupiah Menguat Tajam, Dolar AS Tertekan

Rupiah Menguat Tajam, Dolar AS Tertekan
Nilai tukar rupiah melemah 44 poin. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Rupiah mencatatkan kenaikan nilai tukar yang selaras dengan sebagian besar mata uang di kawasan Asia.

Pada hari Kamis (20/8), nilai tukar mata uang rupiah di pasar spot meningkat Rp 92 atau sekitar 0,52% hingga mencapai Rp 17.748 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kurs acuan Jisdor juga mengalami penguatan sebanyak Rp 65 atau 0,36% ke posisi Rp 17.779 per dolar AS.

Kenaikan nilai tukar rupiah terjadi selama dua hari berturut-turut pasca Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada angka 5,75%.

Tingkat imbal hasil obligasi Indonesia untuk tenor 5 tahun pun merosot ke posisi paling rendah dalam kurun waktu lebih dari dua bulan setelah penentuan BI Rate tersebut.

Plt Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti yang saat ini juga menjadi calon tunggal, kembali menegaskan bahwa kebijakan moneter akan terus berfokus pada mata uang dan memperluas skema insentif lindung nilai untuk menarik lebih banyak arus masuk dana.

Rupiah menempati posisi terdepan dalam penguatan mata uang di Asia.

Selain rupiah, apresiasi juga dialami oleh ringgit Malaysia yakni sebesar 0,39%.

Peso Filipina naik 0,26%.

Baht Thailand naik 0,21%.

Yuan China naik 0,13%.

Rupee India naik 0,06%.

Dolar Taiwan naik 0,05%.

Dolar Singapura naik 0,04%.

Tiga mata uang Asia mengalami penurunan nilai pada perdagangan hari ini.

Won Korea turun 0,42%.

Yen Jepang turun 0,09%.

Dolar Hong Kong turun 0,03%.

Indeks dolar yang menggambarkan pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia terkoreksi 0,22% menjadi 98,62.

Penyusutan selama dua hari terakhir membuat indeks dolar berada di bawah angka 99.

Penurunan dolar AS yang terjadi akhir-akhir ini dipicu oleh dampak intervensi pemerintah guna membendung kenaikan biaya bunga AS.

Para pelaku pasar memandang tindakan ini sebagai sebuah perubahan arah.

Pemerintah AS mengambil peran yang lebih aktif dalam menjaga biaya pinjaman tetap rendah.

Upaya untuk mengendalikan imbal hasil jangka panjang yang sebelumnya mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menghidupkan kekhawatiran bahwa kebijakan AS dapat melemahkan kepercayaan terhadap dolar dan mendorong investor mencari investasi alternatif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index