Alasan Utama Elon Musk dan Mark Zuckerberg Memilih KPR

Alasan Utama Elon Musk dan Mark Zuckerberg Memilih KPR
Ilustrasi bunker triliuner di Miami, Florida, AS. ( sumber : net )

JAKARTA - Elon Musk serta Mark Zuckerberg sesungguhnya tidak butuh cicilan untuk membeli rumah.

Mereka mempunyai kekayaan lebih dari cukup guna membayar secara tunai.

Anehnya, kedua triliuner itu justru memutuskan mengambil kredit kepemilikan rumah demi membeli tempat tinggal mewah milik mereka.

Pertanyaannya, kenapa?

Para pakar keuangan menyebut langkah ini sebagai siasat finansial sangat cemerlang.

Bagi kalangan super kaya, mengambil cicilan rumah meski sanggup bayar kontan justru dapat menjadi keputusan moneter paling menguntungkan.

Elon Musk, manusia terkaya di muka bumi, tercatat mempunyai sejumlah cicilan hunian dengan nominal sangat masif.

Salah satunya yakni pinjaman 61 juta dollar AS atau sekitar Rp 1 triliun dari Morgan Stanley, guna memborong lima properti di California.

Jumlah ini tampak masif, namun sebenarnya cuma setetes air dari total kekayaan Musk yang menyentuh 703 miliar dollar AS atau sekitar Rp 12 triliun.

Tetapi kenyataannya alasan tersebut cukup sederhana, bukan perihal mampu atau tidak, melainkan soal di mana sebaiknya menempatkan dana.

Salah satu pemicu utama kalangan super kaya memilih cicilan hunian ialah karena mayoritas kekayaan mereka tidak berwujud uang kontan.

Harta para triliuner, seperti Musk serta Zuckerberg umumnya tertanam dalam instrumen investasi, saham, serta obligasi.

Mereka tidak menyimpan banyak dana dalam bentuk likuid.

"Orang dengan kekayaan sangat tinggi alias ultra-high-net-worth berpikir berbeda soal likuiditas dan utang," kata Miltiadis Kastanis, direktur eksekutif penjualan di perusahaan properti Compass, sebagaimana dihimpun dari Sumbernya.

"Mereka lebih suka uangnya tetap bekerja untuk mereka dalam bentuk investasi, bisnis, atau bahkan koleksi seni, daripada terkunci semua di satu properti."

Logikanya begini, jika seseorang menanamkan uangnya pada saham atau bisnis lalu mendulang profit, katakanlah sepuluh persen per tahun, sementara suku bunga cicilan huniannya cuma lima persen, maka ia justru untung dengan mengambil utang.

"Jika mereka yakin investasi mereka akan menghasilkan keuntungan lebih besar daripada bunga yang dibayarkan untuk cicilan, lebih masuk akal membiayai properti dengan kredit," kata Kastanis.

Menurut Kastanis, persoalannya bukan pada ongkos pinjaman, melainkan pada cara mengoptimalkan alokasi dana mereka.

Mark Zuckerberg, CEO Meta sekaligus orang terkaya nomor tujuh di dunia, turut menerapkan siasat serupa.

Pada 2012, Zuckerberg melakukan pembiayaan ulang untuk tempat tinggalnya di Palo Alto memakai kredit jangka waktu 30 tahun serta tingkat suku bunga sangat rendah, hanya 1,05 persen.

Dengan bunga serendah itu, cicilan huniannya praktis nyaris tanpa biaya.

Tentu saja, jauh lebih logis guna tidak mengunci dana hampir enam juta dollar AS di dalam bangunan, serta memakainya untuk penanaman modal lain berpotensi mendatangkan laba jauh lebih besar.

Era suku bunga ultra rendah pada dekade 2010-an memang menjadi periode emas bagi kaum elit untuk mengambil pinjaman jangka panjang.

Banyak pembeli kaya berhasil mengunci kredit dengan bunga jauh lebih kecil dibanding standar saat ini.

Di samping faedah investasi, terdapat insentif perpajakan yang juga sangat menggiurkan.

Bunga cicilan hunian di Amerika Serikat bisa menjadi instrumen pengurang pajak untuk pinjaman hingga 750.000 dollar AS, bagi mereka yang merinci laporan pajaknya.

Walau cicilan Zuckerberg jauh melampaui batas tersebut, ia tetap dapat mereduksi sebagian bunga utangnya dari pendapatan kena pajak, yang akhirnya menekan ongkos pinjaman.

"Cicilan rumah juga memungkinkan optimisasi pajak di beberapa negara, karena pembayaran bunga bisa menjadi pengurang pajak," kata Islay Robinson, pendiri sekaligus CEO perusahaan pialang kredit Enness Global.

Ia pun menerangkan bahwasanya dalam situasi inflasi tinggi, nilai uang cenderung merosot seiring berjalannya waktu.

Oleh sebab itu, meminjam uang sekarang lalu melunasinya kemudian hari menggunakan uang yang nilainya telah lebih rendah mampu menjadi opsi jauh lebih menguntungkan.

Terdapat satu lagi siasat yang jarang dibahas tetapi amat menguntungkan bagi kalangan super kaya, yakni pinjaman berbasis investasi.

Konsepnya, kaum elit meminjam uang dengan menjadikan saham serta aset investasi mereka sebagai agunan, tanpa harus melepas saham tersebut.

"Daripada menjual investasi Anda untuk mengumpulkan uang, meminjam dengan jaminan aset memungkinkan Anda tetap berinvestasi, menunda pajak, dan membebaskan uang untuk peluang lain," tulis bank JP Morgan dalam panduannya kepada nasabah kaya.

Mengapa hal ini menguntungkan?

Di dalam regulasi perpajakan Amerika Serikat, dana pinjaman tidak diklasifikasikan sebagai penghasilan kena pajak.

Melalui cara tersebut, orang kaya sanggup membiayai gaya hidup mereka dengan meminjam terhadap aset kepunyaan mereka, tanpa dikenakan pajak penghasilan sama sekali.

Para analis menamai praktik ini sebagai siasat beli, pinjam, mati alias buy, borrow, die.

Caranya, himpun aset yang nilainya terus merangkak naik, pinjam memakai aset tersebut sebagai jaminan guna membiayai pengeluaran, dan akhirnya wariskan aset itu kepada penerima hak.

Manakala aset diwariskan, terjadi stepped-up basis, yang menyebabkan sebagian besar pajak keuntungan modal atau capital gains tax yang telah menumpuk bertahun-tahun praktis lenyap.

Bagi pembeli hunian konvensional, siasat para triliuner ini tentu tidak bisa dicontek mentah-mentah.

Tidak semua orang mempunyai akses terhadap suku bunga 1,05 persen atau sanggup meminjam puluhan juta dollar AS dengan agunan saham.

Namun prinsip dasarnya tetap bisa dipelajari.

"Pesan untuk pembeli biasa bukan untuk meniru pendekatan persis mereka, tapi untuk memahami prinsipnya," kata Harlow.

Menurut dia, langkah finansial paling cerdas terkadang bukan melunasi semuanya, melainkan menjaga uang agar tetap fleksibel serta terus bekerja bagi pemiliknya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index