BALI - Transformasi bentang alam ekonomi serta keuangan dunia yang dipicu oleh pecahan geoekonomi, perbaikan digital, hingga naiknya ancaman sistemik menyebabkan cara pandang aturan bank sentral tidak lagi bisa berjalan secara sektoral.
Bank Indonesia (BI) berpandangan, diperlukan regulasi yang lebih menyatu supaya sanggup merawat kestabilan ekonomi di tengah cobaan global yang kian rumit.
Amanat itu disampaikan Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, saat meresmikan Pertemuan Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 serta Call for Papers di Bali, Kamis (31/7/2026).
Sidang tahun ini mengambil topik "Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks".
Lewat laporan tertulis, Selasa (4/8/2026), Destry memastikan bahwa bank sentral kini dituntut memadukan beragam instrumen kebijakan, bermula dari kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, sampai sinkronisasi bersama kebijakan fiskal.
Berdasarkan pandangannya, pendekatan antarsektor menjadi keperluan guna menjawab pergerakan ekonomi global yang terus maju.
Demi menopang langkah tersebut, Destry membeberkan, Bank Indonesia mengarahkan penelitian bank sentral pada empat pokok prioritas utama.
Prioritas kesatu yakni memperkokoh pemahaman ihwal mekanisme penularan kebijakan moneter di tengah pecahan geoekonomi yang berdampak pada perekonomian bumi.
Kedua, memperdalam kajian mengenai kemajuan keuangan digital, mencakup dampak sistem pembayaran digital, kecerdasan buatan (AI), teknologi finansial (fintech), aset kripto, serta uang digital terhadap kemanjuran kebijakan bank sentral.
Agenda ketiga memusatkan perhatian pada pengembangan pengukuran ancaman sistemik serta pengawasan makrofinansial yang sanggup menangkal bermacam bahaya anyar, seperti bahaya siber, pergeseran iklim, bahaya likuiditas, sampai bahaya antarnegaran.
Sedangkan agenda keempat yaitu memperkuat integritas lembaga serta penyampaian kebijakan sebagai landasan di dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bank sentral.
"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global," tegas Destry dari Sumbernya.
Melalui penguatan kajian serta kerja sama akademik, Bank Indonesia menaruh harapan sanggup melahirkan usulan kebijakan yang lebih luwes dalam menangkis tantangan global, seraya mengawal ketahanan sistem keuangan nasional pada era digital serta naiknya ketidakpastian ekonomi semesta.