BCA Cetak Laba Bersih Rp 29,5 Triliun di Semester I 2026

BCA Cetak Laba Bersih Rp 29,5 Triliun di Semester I 2026
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam konferensi pers virtual. ( sumber : net )

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk atau BCA membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 29,5 triliun sepanjang Semester I 2026.

Capaian ini tumbuh tipis sekitar 1,72 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar Rp 29 triliun.

Pertumbuhan laba bersih kala itu bahkan mencapai 8 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Laba bersih itu diperoleh ketika pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA mengalami penurunan 0,6 persen (yoy) menjadi Rp 42,5 triliun.

Sedangkan pendapatan non bunga (non interest income) tumbuh mencapai 11 persen (yoy) menjadi Rp 13,2 triliun.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, kondisi tersebut dikarenakan perseroan dapat menumbuhkan penyaluran kredit serta giro dan tabungan (CASA).

"Tentunya di BCA sendiri kami terus disiplin dalam mengenai biaya, juga kredit, kami juga disiplin, pertumbuhan casa, tentunya juga akan banyak membantu juga pertumbuhan laba bersih kami," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (28/7/2026), dari Sumbernya.

Lebih lanjut Hendra membeberkan, penyaluran kredit BCA pada paruh pertama tahun ini mencetak rekor dengan mencapai angka Rp 1.036 triliun.

Alhasil, penyaluran kredit tersebut tumbuh 8 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp 959 triliun.

Capaian tersebut didukung pendanaan solid, dengan pertumbuhan CASA sebesar 10,2 persen (yoy) menjadi Rp 1.082 triliun.

CASA tersebut terdiri dari tabungan sebesar Rp 638 triliun atau tumbuh 6,9 persen (yoy) dan giro sebesar Rp 444 triliun atau tumbuh 15,3 persen (yoy).

Sementara, total Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 7,9 persen (yoy) menjadi Rp 1.284 triliun.

Dengan begitu, porsi CASA mencapai sekitar 84,3 persen dari total DPK.

"Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan," ucapnya, dari Sumbernya.

Adapun kredit BCA ditopang pembiayaan produktif sebesar Rp 802 triliun, meningkat 11 persen (yoy).

Penyaluran tersebut mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6 persen (yoy) menjadi Rp 513,4 triliun, serta kredit komersial dan UKM dengan pertumbuhan 6,6 persen (yoy) menjadi Rp 288,5 triliun.

Penyaluran kredit tersebut diiringi dengan rasio loan at risk (LAR) dan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang masih terjaga, masing-masing sebesar 4,9 persen dan 1,9 persem.

Pada periode yang sama, bank dengan kode saham BBCA ini juga menyalurkan kredit hijau (green financing) sebesar Rp 123 triliun atau tumbuh 19 persen (yoy).

Capaian ini salah satunya ditopang pembiayaan berkelanjutan ke sektor Energi Baru Terbarukan yang tumbuh hingga 82 persen (yoy) menjadi Rp 7,7 triliun.

Selain itu, kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 25 persen (yoy) menjadi Rp 4 triliun.

Sepanjang Semester I 2026, BCA memiliki total aset mencapai Rp 1.661 triliun atau tumbuh 10,4 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1.504 triliun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index