JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) tetap optimistis kredit pemilikan rumah (KPR) secara industri mampu tumbuh mencapai 8% hingga 11% sepanjang 2026, meski tren pertumbuhan KPR hingga saat ini masih melambat.
Institutional Relationship Department Head BTN Yulia Fitri Nurman mengungkapkan, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan KPR hingga Mei 2026 berada di kisaran 4,7%, lebih rendah dibandingkan posisi Januari 2026 yang tumbuh 5,5%.
“Saat ini tren KPR sedikit menurun dari awal tahun.
Jadi untuk KPR kalau misalnya pertumbuhan kebutuhan atau suku bunga naik segala macam itu mempengaruhi ke KPR,” ujarnya, dalam talkshow bertajuk Tren Properti: Hunian Sebagai Simbol Peningkatan Kualitas Hidup, yang digelar Pinhome, di Jakarta, Rabu (29/7/2026), dari Sumbernya.
Baca Juga IMREI Perkuat Kolaborasi dengan AREA Indonesia untuk Tingkatkan Daya Saing Industri Properti Meski begitu, kata Yulia, BTN meyakini prospek KPR masih sangat menjanjikan hingga akhir tahun.
Kebutuhan rumah pertama yang masih tinggi, besarnya backlog perumahan, serta dominasi usia produktif menjadi faktor utama yang akan menopang pertumbuhan pembiayaan perumahan.
“Kami yakin kalau pertumbuhan KPR itu pasti akan naik seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dari pertumbuhan itu diprediksi 8%-11%, sedikit naik dari tahun 2025,” katanyadari Sumbernya.
“Memang karena backlog perumahan itu tetap ada, terus kemudian kebutuhan rumah pertama itu masih ada apalagi generasi yang produktif ini masih banyak,” sambung Yulia.
Masyarakat Makin Selektif Pilih KPR Ia menilai, pola pikir masyarakat dalam membeli rumah juga mulai berubah.
Jika sebelumnya kepemilikan rumah lebih dipandang sebagai aset, kini calon debitur semakin memperhatikan kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang.
“Mereka (masyarakat) lebih selektif, lebih banyak kritis untuk memilih KPR karena ada beberapa pertimbangan,” kata Yulia, dari Sumbernya.
Masyarakat bukan hanya sekadar melihat lokasi rumah, tapi juga mempertimbangkan akses transportasi, kesiapan bangunan, besaran cicilan, perubahan angsuran, hingga fleksibilitas tenor yang sesuai dengan cashflow mereka.
Menurut Yuli, perubahan preferensi tersebut turut menggeser minat masyarakat dari rumah baru (primary) menuju rumah bekas (secondary) dan fasilitas pengalihan KPR (takeover).
Ia menjelaskan, rumah secondary dinilai lebih menarik karena sudah siap ditempati sehingga konsumen dapat langsung mengalihkan biaya sewa atau kontrakan menjadi cicilan KPR.
Selain itu, tren pengajuan takeover KPR juga terus meningkat setelah kenaikan suku bunga acuan sejak April.
Menurutnya, banyak debitur yang ingin memperoleh bunga lebih kompetitif atau tenor yang lebih panjang agar angsuran menjadi lebih ringan.
Menurutnya, takeover meningkat karena setelah masa bunga tetap (fixed) berakhir, banyak nasabah mulai khawatir ketika memasuki bunga floating.
Akhirnya, mereka mencari bank yang menawarkan bunga lebih menarik atau tenor yang bisa diperpanjang sehingga angsurannya lebih ringan.
Baca Juga Kinerja BTN (BBTN) Lampaui Ekspektasi, Begini Target Harga Terbaru Sahamnya Pertumbuhan KPR Didorong Sejumlah Hal Yulai menambahkan, optimisme pertumbuhan KPR juga didorong berbagai program pemerintah yang terus diperluas, mulai dari Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) hingga Manfaat Layanan Tambahan (MLT) BPJS Ketenagakerjaan.
Menurutnya, program MLT BPJS Ketenagakerjaan menawarkan skema pembiayaan yang unik karena suku bunganya mengikuti BI Rate ditambah margin tetap sebesar 3%, sehingga cicilan dapat turun jika suku bunga acuan BI mengalami penurunan.
“Jadi suku bunganya itu dari awal sampai akhir mengikuti suku bunga BI.
Kalau BI itu naik, kami (MLT BPJS Ketenagakerjaan) akan naik, BI Rate turun kami juga akan turun.
Jadi satu-satunya KPR dengan suku bunga yang angsurannya bisa turun,” ucap Yulia, dari Sumbernya.