JAKARTA – Rencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga 40 tahun dinilai tidak akan efektif apabila tidak diiringi dengan upaya menekan harga rumah dan suku bunga kredit. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa masalah utama kepemilikan rumah bukan pada lamanya tenor, melainkan pada harga lahan dan bangunan.
“Masalah utama yang lebih serius adalah harga lahan, harga bangunan,” kata Bhima, Sabtu 4 Juli 2026. Ia menambahkan, pemerintah perlu mengatasi spekulasi properti dan memberikan subsidi pajak yang tepat sasaran agar masyarakat, terutama generasi muda dan keluarga baru, dapat mengakses hunian terjangkau di lokasi dekat pusat aktivitas ekonomi.
Bhima menilai, apabila harga rumah tetap tinggi sementara suku bunga KPR masih mahal, maka manfaat tenor panjang menjadi terbatas. “Cicilan bulanannya seolah ringan, tapi suku bunga tetap sama. Jangan sampai 10 tahun mencicil kredit hanya untuk bayar bunga,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat kebijakan publik Adib Miftahul menilai kebijakan memperpanjang tenor KPR merupakan langkah tepat untuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “Masyarakat berpenghasilan rendah itu harus menjadi skala prioritas, ada urgensi yang mendesak agar mereka punya akses kepemilikan rumah yang sangat mudah dan cenderung murah,” jelasnya.
Menurut Adib, kebijakan ini juga menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam program 3 juta rumah. Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah agar menyiapkan mitigasi risiko agar kebijakan tersebut tidak meningkatkan potensi gagal bayar, termasuk bagi pengemudi ojek online yang masuk sebagai debitur.
Adib mendorong pemerintah memperkuat dukungan terhadap pengembang perumahan skala kecil, memanfaatkan aset negara yang belum produktif, serta melibatkan sektor swasta untuk memperluas penyediaan rumah bagi MBR. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan backlog perumahan dan membuka akses hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.