JAKARTA - Kebijakan tidak terduga Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler mulai mendapatkan respons positif dari para investor asing. Kenaikan suku bunga serta imbal hasil instrumen keuangan domestik telah mendorong peningkatan aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia dalam sepekan terakhir.
Seperti diketahui, bank sentral secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Selasa, 9 Juni 2026. Langkah tersebut ditempuh untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya terus mencetak rekor pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat.
Minat investor asing terlihat dari meningkatnya partisipasi dalam lelang sekuritas rupiah Bank Indonesia bertenor hingga satu tahun yang digelar pada 10 Juni 2026. Dalam lelang tersebut, bank sentral berhasil menghimpun dana sebesar Rp15 triliun.
"Arus masuk modal asing juga mulai kembali ke pasar obligasi pemerintah, terutama pada tenor jangka pendek dan menengah," ujar Denny.
Bank Sentral akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global maupun domestik. Hal ini dilakukan sekaligus untuk menjaga daya tarik instrumen keuangan dalam negeri guna mendukung keberlanjutan arus modal asing.
Selain melalui kebijakan suku bunga, langkah stabilisasi nilai tukar rupiah juga ditegaskan bakal terus dilakukan. Salah satunya melalui intervensi secara konsisten dan terukur di pasar Non-Deliverable Forward offshore, pasar domestik, maupun pasar spot.
Langkah tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas rupiah yang sepanjang tahun ini mengalami tekanan cukup besar. Pada perdagangan Jumat pagi, 12 Juni 2026, rupiah tercatat menguat 0,25 persen ke level Rp17.930 per dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya sempat mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, secara year to date, rupiah masih mencatat pelemahan sekitar 7 persen dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2025. Kondisi ini menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.
Penguatan rupiah juga ditopang oleh membaiknya sentimen global setelah meningkatnya optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut berpotensi menurunkan harga minyak dunia dan meredakan tekanan inflasi global.
Kombinasi faktor eksternal yang lebih kondusif serta langkah agresif bank sentral dinilai membantu memulihkan kepercayaan investor terhadap aset-aset keuangan Indonesia.