JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir pada level 5.342 dalam perdagangan Senin, di tengah tekanan yang terjadi di seluruh sektor saham.
Sektor industri mengalami pelemahan terdalam sebesar 6,39 persen, sementara nilai tukar rupiah turut terdepresiasi 0,84 persen ke posisi Rp18.188 per dolar AS.
Analis menilai tekanan pasar domestik berpotensi berlanjut karena IHSG ditutup di bawah rata-rata pergerakan 200 bulanan.
Kondisi ini membuka peluang penurunan lebih lanjut dalam jangka pendek.
"Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA200 monthly, sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya diperkirakan IHSG berpotensi akan menguji level support di 5.100," tulis riset tersebut pada Selasa (9/6/2026).
Tekanan pasar dipengaruhi indikator domestik, termasuk cadangan devisa Mei 2026 yang turun menjadi US$144,9 miliar dari US$146,2 miliar pada April 2026.
Penurunan dipicu pembayaran utang pemerintah dan intervensi Bank Indonesia demi menjaga stabilitas rupiah.
Meski cadangan devisa masih setara dengan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah, penurunan berkelanjutan dikhawatirkan memengaruhi persepsi investor.
Selain itu, data penjualan sepeda motor nasional Mei 2026 turun 5,1 persen secara tahunan menjadi 479.388 unit, yang mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat.
Di sisi lain, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level 7,27 persen.
Kenaikan ini dianggap penyesuaian untuk menarik minat investor asing terhadap surat utang negara.
"Ketika imbal hasil obligasi 10 tahun berhasil menyentuh 7 persen, maka alarm pun berbunyi menjadi sebuah tanda untuk melakukan akumulasi dalam porsi bertahap," tulis riset tersebut.
Secara eksternal, data ketenagakerjaan Amerika Serikat masih solid meski melambat, memberi ruang bagi bank sentral AS menjaga inflasi.
Sementara pertumbuhan ekonomi Jepang di atas ekspektasi memberi ruang bagi normalisasi kebijakan moneter di negara tersebut.
Hari ini, IHSG diperkirakan bergerak melemah dengan rentang support dan resistance di level 5.230 hingga 5.370.
Sentimen pasar juga dipengaruhi meredanya ketegangan antara Iran dan Israel.
Pemerintah juga memberikan klarifikasi mengenai isu penerapan skema gross split di sektor mineral dan batu bara.
Hal ini dinilai sebagai sentimen positif bagi emiten tambang.
“Kepastian bahwa mekanisme tersebut tidak akan diterapkan di sektor minerba dinilai dapat mengurangi ketidakpastian regulasi dan menjaga iklim investasi di sektor pertambangan,” lanjut riset tersebut.