Prediksi Kurs Rupiah Pekan Depan Berada di Kisaran 17.700 per USD

Prediksi Kurs Rupiah Pekan Depan Berada di Kisaran 17.700 per USD
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan masih tertahan di kisaran angka Rp17.000 per dolar AS pada saat pembukaan sesi perdagangan pasar uang di awal pekan depan.

Tren koreksi ini diperkirakan masih berlanjut setelah pada penutupan sesi perdagangan Jumat kemarin mata uang domestik berakhir di level Rp17.712 per dolar AS.

Kondisi tersebut merefleksikan dinamika pasar yang masih dibayangi oleh sentimen negatif baik dari faktor eksternal maupun internal dalam beberapa waktu terakhir.

“Untuk sepekan ya, kemungkinan besar di Rp 17.680-17.800 per dolar,” ujar Ibrahim Assuaibi pada Jumat, 22 Mei 2026.

Berdasarkan hasil analisis, situasi global yang dipenuhi ketidakpastian menjadi pemicu utama, terutama eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Selain itu, transisi kepemimpinan di tingkat bank sentral Federal Reserve dari Jerome Powell ke Kevin Warsh turut memicu kekhawatiran pelaku pasar keuangan.

Sebab, pergantian tersebut belum memberikan sinyal pemangkasan suku bunga acuan, melainkan memunculkan spekulasi kenaikan hingga 50 basis points ke depan.

Sementara dari koridor domestik, capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61% dinilai belum mampu menyokong penguatan nilai tukar rupiah.

Guna mengantisipasi tekanan yang kian dalam, pemerintah menempuh langkah intervensi lewat aksi pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder senilai Rp2,2 triliun.

Kebijakan pembentukan Badan Usaha Milik Negara baru, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang mengontrol sektor ekspor komoditas alam juga ikut disorot.

Langkah korporasi berskala besar tersebut dinilai memicu kekhawatiran monopoli usaha yang berpotensi mendorong derasnya aliran modal asing keluar dari pasar domestik.

Di sisi lain, otoritas keuangan menegaskan bahwa kondisi pelemahan mata uang saat ini tidak akan sampai terperosok sedalam masa krisis moneter pada 1998 silam.

Meskipun secara nominal, posisi pergerakan kurs terhadap dolar AS pada periode sekarang telah melampaui level terendah pada masa itu yang berada di angka Rp16.500.

Pasokan mata uang dolar AS dalam jumlah besar diproyeksikan bakal segera mengalir masuk ke dalam sistem perekonomian nasional pada periode Juni mendatang.

Seiring dengan proyeksi tersebut, para pelaku bisnis valuta asing diimbau untuk segera melepaskan simpanan aset dolar mereka ke pasar dalam waktu dekat.

“Kalau saya bilang pemain valas cepat-cepat jual lah, Kami akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Pihak otoritas juga memastikan terus aktif melakukan penetrasi ke dalam pasar obligasi demi menjaga agar tingkat imbal hasil atau yield tidak melonjak terlalu tinggi.

Melalui skema penyelamatan ini, para investor internasional diharapkan tidak terpaksa melakukan aksi jual massal akibat mengalami kerugian portofolio.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index