Proporsi Pembelian Rumah Lewat KPR Turun Menjadi 69 Komat 87 Persen

Proporsi Pembelian Rumah Lewat KPR Turun Menjadi 69 Komat 87 Persen
Ilustrasi Rumah (sumber foto: NET)

JAKARTA - Tidak hanya nilai penyalurannya saja yang mengalami perlambatan, proporsi pembelian hunian dengan menggunakan skema KPR juga terpantau turun tipis menjadi 69,87 persen pada kuartal I 2026, dari yang sebelumnya mencapai 70,68 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, porsi sistem pembayaran dengan skema tunai bertahap justru naik menjadi 19,61 persen dari posisi 19,53 persen, sementara untuk sistem pembelian tunai meningkat menjadi 10,53 persen dari posisi 9,79 persen.

Kondisi ini berjalan sejalan dengan hasil data survei otoritas moneter yang menunjukkan tingkat penjualan rumah pada kuartal I 2026 merosot sebesar 25,67 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Padahal, pada periode yang sama di tahun sebelumnya, tingkat penjualan properti residensial tersebut masih sanggup mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,73 persen secara yoy.

Jika diperinci berdasarkan klasifikasi ukuran hunian, segmen rumah dengan tipe kecil dan tipe besar secara bersama-sama mencatatkan adanya kontraksi pada awal periode tahun ini.

Volume penjualan untuk unit kategori rumah tipe kecil terjun bebas hingga menyentuh angka 45,59 persen secara yoy, sedangkan untuk tipe besar meluncur turun sebesar 8,03 persen secara yoy.

Di sisi lain, untuk unit kategori tipe menengah justru masih mampu memperlihatkan tren positif dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,28 persen secara yoy.

Pengamat ekonomi menilai fenomena penurunan volume penjualan pada kategori hunian bertipe kecil ini menjadi indikasi awal yang paling mengkhawatirkan bagi pasar properti nasional.

Faktor pemicunya adalah karena unit hunian bertipe kecil ini umumnya dibeli oleh kelompok konsumen perdana atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Lesunya tingkat transaksi mencerminkan adanya tekanan inflasi yang kuat serta lonjakan biaya hidup sehari-hari yang sayangnya tidak diimbangi oleh aspek peningkatan pendapatan masyarakat.

"Itu membuat kelompok ini menunda pembelian aset tetap," ujarnya.

Sementara itu, penurunan pada angka penjualan properti berukuran besar dinilai sebagai bentuk cerminan atas sikap menanti perkembangan situasi atau wait and see dari kalangan masyarakat kelas atas.

Di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global dan pergerakan nilai tukar, kelompok masyarakat mapan disebut-sebut lebih memilih mengalihkan dana mereka pada instrumen jangka pendek yang likuid.

Opsi penempatan dana tersebut dialokasikan ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun produk deposito dalam bentuk valuta asing.

Terbatasnya tingkat penyaluran pembiayaan perumahan juga dipengaruhi oleh kebijakan internal perbankan yang kini jauh lebih selektif dalam mengucurkan dana kredit kepada calon debitur.

Prinsip kehati-hatian finansial tersebut kemungkinan besar masih akan terus berlanjut di industri perbankan setidaknya hingga memasuki masa akhir periode semester I 2026.

Melihat kondisi yang berkembang saat ini, pertumbuhan pembiayaan kepemilikan hunian hingga penutupan tahun diproyeksikan masih akan tertahan pada level satu digit saja.

Pihak pengawas perbankan menjelaskan bahwa implementasi proses evaluasi kelayakan atau underwriting yang jauh lebih ketat sengaja diterapkan demi menjaga tingkat kolektibilitas atau kemampuan bayar nasabah dalam jangka panjang.

Aspek pertumbuhan kredit ini tidak hanya digerakkan oleh sisi ketersediaan pasokan dana dari lembaga perbankan, melainkan juga ditentukan oleh tingkat daya beli riil masyarakat dalam menyelesaikan kewajiban angsuran.

Faktor ketidakpastian kondisi ekonomi global juga memaksa industri perbankan domestik untuk bertindak lebih hati-hati demi mempertahankan kualitas portofolio kredit mereka agar tetap sehat.

Meski begitu, otoritas terkait tetap memberikan dorongan penuh bagi industri perbankan nasional untuk terus mengoptimalkan peran strategisnya sebagai roda penggerak pembangunan ekonomi.

"Bank dapat mengoptimalkan dukungan kebijakan pemerintah dan bauran kebijakan," katanya.

Sejumlah jajaran bank berskala besar di tanah air juga kedapatan mencatatkan performa pertumbuhan kredit properti yang lebih terbatas sepanjang kuartal I 2026 ini.

Salah satu bank spesialis perumahan mencatat laju pertumbuhan pembiayaan hunian di angka 6,8 persen secara yoy dengan nominal kumulatif sebesar Rp 306,12 triliun.

Pencapaian performa tersebut terhitung melambat jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan pada kuartal yang sama di tahun sebelumnya yang mampu menyentuh level 7,8 persen secara yoy.

Di tempat lain, salah satu bank swasta terbesar nasional membukukan tingkat pertumbuhan kredit serupa di angka 5,2 persen secara yoy menjadi sebesar Rp 142,4 triliun, lebih rendah dari capaian tahun lalu yang berada di posisi 10,5 persen secara yoy.

Pihak manajemen komunikasi bank swasta tersebut menyatakan bahwa gejala perlambatan ini berjalan selaras dengan situasi dinamika perekonomian yang tengah terjadi saat ini.

Meski diterpa tantangan, lembaga keuangan ini tetap konsisten berupaya merangsang minat pasar lewat peluncuran aneka program promosi menarik bagi nasabah baru.

Langkah taktis yang ditempuh meliputi penawaran suku bunga spesial, pemberian diskon untuk biaya provisi, hingga pemotongan premi asuransi jiwa guna mendongkrak volume pengajuan berkas baru.

"BCA senantiasa mendorong penyaluran kredit secara pruden, dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin," katanya.

Di sisi lain, salah satu bank swasta besar lainnya terpantau belum berhasil mencatatkan kenaikan pada angka akumulasi pinjaman berjalan untuk sektor properti ini.

Pada periode kuartal I 2026, nilai sisa pinjaman berjalan kepemilikan rumah di bank tersebut tampak berjalan stagnan pada level nominal angka Rp 41,78 triliun.

Padahal pada catatan periode tahun sebelumnya, lembaga keuangan ini sudah sempat mengalami koreksi penurunan sebesar 2,7 persen secara yoy untuk segmen pembiayaan tersebut.

Pimpinan manajemen bank swasta tersebut mengungkapkan bahwa tingkat permintaan pasar untuk sektor pembiayaan ini sekarang memang masih tergolong relatif rendah.

Kondisi lesu ini terutama dirasakan dari segmen kelompok masyarakat kelas menengah yang dinilai belum memiliki kelonggaran ruang finansial untuk menambah pos beban angsuran baru.

Pihaknya juga mengakui bahwa perusahaan kini menerapkan sistem seleksi yang jauh lebih ketat dalam meloloskan permohonan kredit demi menjaga kelancaran pembayaran serta kualitas aset operasional perusahaan.

Oleh sebab itu, hingga masa akhir periode 2026 nanti, pertumbuhan sektor pembiayaan hunian diproyeksikan masih akan berjalan secara moderat di bawah bayang-bayang tekanan daya beli domestik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index