IHSG Berbalik Menguat ke 7.029 Seiring Menciutnya Net Sell Asing

IHSG Berbalik Menguat ke 7.029 Seiring Menciutnya Net Sell Asing
Ilustrasii saham

JAKARTA - Aksi jual menciut pada akhir sesi 1 perdagangan hari ini, Selasa (5/5/2026) bila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

Situasi ini menandakan adanya perbaikan minat pelaku pasar terhadap bursa domestik setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup masif.

Investor asing membukukan net sell Rp 102,6 miliar di seluruh pasar pada penutupan perdagangan tengah hari ini.

Angka ini jauh lebih kecil jika disandingkan dengan catatan pada pekan lalu yang mencapai total Rp 8 triliun.

Pada pekan lalu, asing mencatat net sell Rp 8 triliun atau kalau dirata-ratakan mencapai Rp 2 triliun per hari.

Penurunan intensitas pelepasan aset ini memberikan ruang bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk merangkak naik ke zona hijau.

Pada perdagangan sesi 1 kemarin asing memang mencatat net buy Rp 2,3 triliun, tetapi perlu dicatat bahwa sebanyak Rp 2,6 triliun di antaranya terjadi di pasar negosiasi.

Secara teknis, pergerakan dana asing pada hari ini memperlihatkan fokus yang lebih selektif pada saham-saham tertentu.

Hari ini asing paling banyak melepas saham GOTO dengan net sell Rp 166,9 miliar.

Tekanan pada emiten teknologi ini terjadi seiring dengan rencana pemerintah untuk melakukan penyesuaian potongan komisi bagi driver menjadi hanya 8%.

Kemudian saham yang juga mencatat net sell signifikan adalah Bank Mandiri (BMRI) Rp 146,7 miliar.

Posisi berikutnya dalam daftar jual asing ditempati oleh PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) senilai Rp 70,8 miliar.

Aksi pelepasan juga melanda PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai bersih sebesar Rp 42,9 miliar.

Saham PT Timah Tbk (TINS) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masing-masing mencatat net sell Rp 30,3 miliar dan Rp 21,1 miliar.

Selanjutnya, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dilepas masing-masing Rp 21 miliar dan Rp 20,1 miliar.

Dua posisi terakhir dalam daftar sepuluh besar jual bersih ditempati oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp 20 miliar dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Rp 19 miliar.

Meskipun daftar jual cukup panjang, aliran modal masuk masih terpantau mengalir deras ke saham-saham berkapitalisasi pasar besar lainnya.

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi saham yang paling banyak diborong asing, dengan nilai net buy Rp 261,3 miliar.

Aksi beli masif pada BBRI ini disusul oleh Barito Pacific (BRPT) yang mencatatkan akumulasi asing sebesar Rp 177,8 miliar.

PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) juga masuk dalam radar koleksi dengan nilai beli bersih mencapai Rp 62,2 miliar.

Bank BUMN lain yang juga masuk daftar net buy adalah Bank Negara Indonesia (BNNI) Rp 21,9 miliar.

Selanjutnya, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 20 miliar pada sesi pertama ini.

Emiten infrastruktur PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) menyusul dengan nilai akumulasi asing sebesar Rp 9,7 miliar.

Saham berbasis petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga dibeli investor mancanegara senilai Rp 8,3 miliar.

Tiga saham lainnya yang menutup daftar beli bersih adalah PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp 7,9 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp 7,5 miliar, dan PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) Rp 7,3 miliar.

Peningkatan gairah pasar ini berujung pada penguatan IHSG sebesar 0,83% atau naik 57,90 poin ke level 7.029,86.

Laju indeks sempat tertahan di zona merah pada awal perdagangan sebelum akhirnya berbalik arah dengan tenaga yang cukup kuat.

Penguatan ini dipicu oleh optimisme setelah rilis data makroekonomi terbaru oleh otoritas terkait.

Sebanyak 346 saham menguat, 297 turun dan 169 lainnya tidak bergerak pada penutupan sesi satu kali ini.

Total transaksi saham hari ini mencapai Rp 9,21 triliun yang melibatkan 25,34 miliar saham dalam 1,47 juta kali transaksi.

Sektor industri dasar memimpin penguatan dengan kenaikan 1,68%, diikuti oleh sektor keuangan sebesar 1,48%.

Selain itu, sektor infrastruktur melonjak 1,41%, transportasi naik 1,20%, dan sektor energi berada di level 0,86%.

Data pertumbuhan ekonomi menjadi katalis utama yang memberikan angin segar bagi para pelaku pasar modal.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan 5,61% secara tahunan atau year on year (yoy).

Pencapaian ini melampaui angka pertumbuhan pada kuartal sebelumnya maupun pada periode yang sama tahun lalu.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% pada kuartal I-2026," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi yang solid ini diharapkan terus menopang kepercayaan investor asing untuk kembali masuk ke pasar saham tanah air.

Menciutnya aksi jual asing menjadi indikasi awal bahwa pasar mulai merespons positif fundamental ekonomi nasional yang tetap terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index