BMKG

BMKG Prediksi ‘Salju Abadi’ di Puncak Jayawijaya Bakal Hilang di 2027 atau 2028

BMKG Prediksi ‘Salju Abadi’ di Puncak Jayawijaya Bakal Hilang di 2027 atau 2028
BMKG Prediksi ‘Salju Abadi’ di Puncak Jayawijaya Bakal Hilang di 2027 atau 2028

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa salju abadi di Puncak Jayawijaya, Papua, yang selama ini menjadi salah satu fenomena alam unik Indonesia, akan lenyap total dalam waktu dekat, sekitar 2027 atau 2028, jika tren pencairan saat ini terus berlanjut. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam sebuah diskusi ilmiah yang digelar baru‑baru ini, Senin (10 Februari 2026) — menggambarkan kekhawatiran lembaga iklim paling berwenang di Indonesia terkait nasib salju tropis itu.

Pengamatan Satelit dan Data Historis

BMKG menyatakan hasil pemantauan menggunakan citra satelit menunjukkan penurunan drastis luas dan ketebalan lapisan es di puncak tertinggi Pegunungan Jayawijaya ini. Dari luasan yang diperkirakan mencapai sekitar 10 kilometer persegi pada awal abad ke‑20, bagian es yang tersisa kini diperkirakan tinggal kurang dari 0,1 kilometer persegi. Data menunjukkan tren penurunan terus menerus, sehingga menurut BMKG, keberadaan “salju abadi” ini semakin mendekati titik kepunahan.

Lebih lanjut, Ardhasena mengatakan, “Kalau melihat tren dari data satelit, luas es di Puncak Jayawijaya terus menurun. Sekarang sudah kurang dari 0,1 kilometer persegi. Dengan kondisi ini, kemungkinan besar salju abadi akan hilang pada 2027 atau 2028.” Pernyataan ini menjadi peringatan kuat bahwa perubahan iklim dan pemanasan global telah memengaruhi salah satu ciri khas geografis Indonesia yang paling ikonik.

Dampak Perubahan Iklim yang Terukur

Fenomena mencairnya salju abadi di Puncak Jayawijaya tidak terlepas dari dampak pemanasan global. Para ahli iklim menilai bahwa peningkatan suhu permukaan bumi, perubahan pola curah hujan, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem turut mempercepat proses pencairan es tersebut. Salju yang selama ini menjadi identitas alam unik kawasan tropis kini semakin menyusut tipis dari tahun ke tahun.

Data historis yang dihimpun dari berbagai studi dan pemantauan menunjukkan bahwa penurunan luas salju di puncak gunung ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Penelitian jangka panjang mencatat bahwa ketebalan es sudah mengalami penurunan signifikan, angka kehilangan permukaan es terus naik, dan laju pencairan meningkat seiring dengan tren suhu global yang terus meningkat.

Para peneliti menyebut bahwa pencairan salju ini merupakan bukti nyata perubahan iklim yang tak hanya berdampak di daerah kutub, tetapi juga di daerah tropis seperti Papua. Jika tren yang ada tidak berubah, salju abadi yang selama ini menjadi ikon keunikan geografi Indonesia diperkirakan benar‑benar akan hilang dalam beberapa tahun ke depan.

Rekomendasi dan Imbauan BMKG

BMKG menyerukan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah mitigasi guna mengurangi laju perubahan iklim. Berbagai sektor dinilai perlu berkolaborasi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan mempercepat transisi menuju energi bersih untuk membantu memperlambat pemanasan global.

Langkah‑langkah adaptasi dan mitigasi juga dinilai penting untuk dilakukan, mengingat hilangnya salju abadi bukan hanya sekadar perubahan visual lanskap, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekosistem lokal, sumber air, dan kehidupan masyarakat serta flora dan fauna yang bergantung pada kondisi iklim setempat.

Komunikasi dan Kesadaran Publik

Pernyataan BMKG ini sekaligus menjadi panggilan bagi publik dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan nyata. Fenomena pencairan salju abadi selama ini sering menjadi simbol perubahan iklim, namun kini menjadi kenyataan yang semakin sulit diabaikan. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk pendidikan dan media, dinilai penting untuk memperluas pemahaman tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan upaya penanggulangan perubahan iklim.

Dengan prediksi hilangnya salju abadi di Puncak Jayawijaya pada 2027 atau 2028, BMKG berharap fenomena ini dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat aksi iklim di tingkat nasional maupun global. Fenomena ini tidak hanya berdampak lokal tetapi juga mencerminkan tantangan perubahan iklim yang dihadapi seluruh dunia.

Prediksi itu sekaligus menegaskan bahwa keberadaan salju tropis yang pernah eksis puluhan hingga ratusan tahun kini bergantung pada kemampuan manusia untuk meredam dampak pemanasan global. Di tengah dinamika iklim yang terus berubah, salju abadi di Puncak Jayawijaya menjadi salah satu indikator paling nyata bahwa aksi terhadap perubahan iklim tidak bisa ditunda lagi.

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index