JAKARTA — Konsolidasi besar-besaran badan usaha milik negara (BUMN) kini menjadi strategi utama pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan pembiayaan pembangunan dan kebutuhan investasi di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis. Melalui pembentukan entitas strategis baru bernama Danantara, pemerintah ingin menyatukan seluruh aset BUMN ke dalam satu kerangka terkoordinasi agar pengelolaan investasi bisa lebih efektif dan efisien, sekaligus membuka peluang kerja sama lebih luas dengan investor internasional.
Kenapa Danantara Dibentuk: Tantangan Pembiayaan dan Peran BUMN
Pemerintah melalui Danantara mengambil langkah untuk mengonsolidasikan ratusan hingga ribuan BUMN yang selama ini tersebar di berbagai sektor usaha. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa konsolidasi ini mencakup lebih dari 1.000 perusahaan negara.
Tujuan utama dari konsolidasi ini bukan semata administrasi semata, tetapi juga untuk meningkatkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional. Dalam sambutannya di acara CNA Summit pada 5 Februari 2026, Rosan menekankan bahwa struktur baru ini akan memungkinkan optimalisasi aset sehingga dividen yang dihasilkan BUMN dapat dimanfaatkan kembali untuk investasi strategis tanpa tergantung kepada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Menurutnya, “Dana yang berasal dari dividen bisa kami investasikan kembali, termasuk untuk berinvestasi bersama investor asing.”
Langkah ini menjadi penting di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan jangka menengah yang semakin besar, yang menuntut pemerintah mencari sumber pendanaan alternatif di luar jalur fiskal tradisional.
Efisiensi Aset: Dari Fragmentasi ke Integrasi Pan-Nasional
Sebelumnya, aset BUMN dibagi ke dalam banyak unit usaha yang tersebar tanpa kerangka koordinasi strategis. Dengan hadirnya Danantara, pemerintah berharap efisiensi operasional dapat meningkat. Pengelolaan aset yang terpusat dipandang sebagai upaya menekan tumpang tindih investasi antar perusahaan negara dan memaksimalkan pemanfaatan modal.
Konsolidasi ini dipandang sebagai bagian dari transformasi kelembagaan BUMN agar lebih adaptif terhadap perubahan lanskap ekonomi global. Dengan struktur pengelolaan terpadu, pengambilan keputusan investasi diyakini dapat dilakukan lebih terarah dan terukur.
Bahkan jauh sebelum pengumuman konsolidasi aktif pada 2026, berbagai rencana terkait nilai dan struktur aset Danantara telah muncul. Misalnya, total aset yang dikelola diperkirakan mencapai US$900 miliar atau lebih, dan pemerintah menargetkan pertumbuhan nilai tersebut tiga kali lipat menuju 2030 melalui serangkaian transformasi usaha.
Transformasi Peran BUMN: Dari Operator ke Motor Investasi
Perubahan yang diimplementasikan melalui Danantara bukan sekadar pemangkasan administratif di internal BUMN. Pemerintah ingin BUMN berperan lebih progresif sebagai motor investasi nasional yang mampu menarik kemitraan global untuk mendukung proyek strategis nasional, termasuk infrastruktur, hilirisasi industri, dan energi bersih.
Dengan strategi ini, dividen dari BUMN tidak langsung kembali ke kas negara, tetapi diolah lebih dulu untuk mendukung investasi baru. Hal ini diharapkan memperluas kapasitas pembiayaan proyek infrastruktur yang selama ini masih bergantung pada APBN.
Beberapa pihak menilai Danantara sejalan dengan model sovereign wealth fund (SWF) yang menjadi instrumen investasi negara, meskipun struktur dan fungsi Danantara lebih fokus pada pengelolaan aset BUMN.
Peluang dan Tantangan yang Muncul dari Konsolidasi Ini
Meski konsolidasi besar ini dinilai strategis, ada beberapa dinamika yang perlu diperhatikan. Transformasi kelembagaan BUMN melalui Danantara memiliki implikasi pada tata kelola internal, tuntutan transparansi, dan respons pasar terhadap pergerakan modal.
Pendekatan ini juga menimbulkan perdebatan di kalangan pengamat ekonomi. Transformasi skala besar seperti ini berpotensi menambah kompleksitas birokrasi, namun di sisi lain diharapkan memperbaiki efisiensi dan daya saing BUMN secara keseluruhan.
Selain itu, tantangan perubahan budaya perusahaan dan penyesuaian strategi investasi menjadi hal yang harus diatasi dalam jangka panjang. Pemerintah dan manajemen Danantara dituntut untuk menjaga akuntabilitas dan profesionalisme dalam pengelolaan modal dan aset agar dampak positifnya benar-benar maksimal.
Harapan terhadap Kontribusi BUMN bagi Pertumbuhan Ekonomi
Konsolidasi aset BUMN melalui Danantara dipandang sebagai tonggak baru dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pengelolaan aset lebih terintegrasi dan keputusan investasi yang lebih strategis, pemerintah berharap kontribusi BUMN terhadap perekonomian akan meningkat secara berkelanjutan.
Ke depan, mekanisme kerja sama dengan investor global di berbagai sektor strategis diharapkan mampu mendorong penyerapan modal yang lebih optimal, memperluas kapasitas produksi nasional, serta memperkuat ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.