JAKARTA - Arsenal kembali mencuri perhatian publik setelah memastikan satu tiket di partai final Carabao Cup musim 2025–26. Namun di balik euforia lolos ke pertandingan puncak di Wembley Stadium pada 22 Maret mendatang, The Gunners kini menghadapi beban sejarah yang tak mudah diabaikan.
Meski keberhasilan ke final merupakan bukti konsistensi tim besutan Mikel Arteta, teka‑teki besar kini muncul: apakah Arsenal sanggup menaklukkan tekanan besar dan menutup rapor negatif mereka di kompetisi ini yang sudah berlangsung tiga dekade lebih?
Sejarah Arsenal di Final: Bukti Bahwa Piala Ini Bukan Sekadar Hadiah
Arsenal sebenarnya bukan nama asing di putaran final Carabao Cup. Klub berjuluk The Gunners sudah delapan kali mencapai pertandingan puncak di kompetisi ini sepanjang sejarah mereka. Namun catatan itu justru lebih banyak mencatat cerita pahit ketimbang kemenangan.
Debut final mereka terjadi pada musim 1967–68, saat Arsenal kalah tipis 0–1 dari Leeds United.
Musim berikutnya, mereka kembali finis sebagai runner‑up, kalah 1–3 dari Swindon Town—tim yang saat itu bermain di dua divisi di bawah mereka.
Namun gol kemenangan pertama di final Carabao Cup baru datang pada 1986–87, saat Arsenal mengalahkan Liverpool 2–1 berkat dua gol Charlie Nicholas.
Trofi kedua pun mereka raih enam tahun kemudian, 1992–93, mengalahkan Sheffield Wednesday 2–1.
Di luar kemenangan itu, enam penampilan final lainnya berakhir dengan kekalahan, yang menunjukkan bahwa Arsenal kerap kesulitan menghadapi momen penentuan di kompetisi ini.
Tekanan Mental: Beban Tak Tertulis di Wembley
Statistik di atas memberi gambaran jelas: Arsenal belum pernah memenangkan Carabao Cup sejak 1992–93, lebih dari 30 tahun yang lalu.
Fakta ini menciptakan sebuah tekanan mental tambahan bagi skuad Arteta, terutama mengingat kubu lawan mereka di final akan menjadi pemuncak duel antara Manchester City atau Newcastle United.
Sekalipun lolos ke puncak turnamen adalah prestasi tersendiri, pertanyaan yang menggantung kini adalah: apakah Mental Arsenal sudah cukup kuat menghadapi tensi besar di final nanti, mengingat catatan buruk mereka di beberapa kesempatan final sebelumnya?
Mikel Arteta: Peluang Melampaui Bukti Sejarah
Bagi Mikel Arteta, pencapaian lolos ke final Carabao Cup bukan sekadar langkah menuju trofi, melainkan bagian penting dari ambisi yang lebih besar musim ini: meraih quadruple — empat gelar utama.
Keberhasilan ini menjadi kesempatan emas bagi Arteta untuk menutup catatan negatif panjang klub di kompetisi ini. Sebab, setelah lolos melalui agregat 4–2 atas Chelsea di semifinal, Arsenal kini berpeluang membuktikan bahwa mereka bukan hanya pencipta peluang tapi juga juara dalam pertandingan besar.
Kesuksesan di Wembley akan menjadi bukti strategi, mental, dan kerja keras tim yang solid sepanjang musim. Terlebih, gelar Carabao Cup akan menjadi trofi besar pertama Arsenal sejak mereka meraih FA Cup pada musim 2019–20.
Ambisi Lebih dari Sekadar Gelar
Bukan sekadar mengakhiri kutukan panjang di final, namun gelar Carabao Cup juga akan menjadi batu loncatan utama menuju musim yang lebih gemilang.
Arsenal datang ke final dengan momentum besar setelah lolos dari semifinal dramatis. Gol lambat di menit akhir oleh pemain seperti Kai Havertz belum lama ini menyegel kemenangan yang membawa mereka ke final, menunjukkan karakter mental tim yang tak mudah runtuh di momen krusial.
Jika Arteta berhasil membawa Arsenal mengangkat piala, itu menjadi bukti tidak hanya taktik jitu, tetapi juga keberanian menghadapi tekanan besar yang pernah lama membayangi klub ini.
Mengubah Tekanan Menjadi Sejarah Baru
Kesimpulannya, perjalanan Arsenal ke final Carabao Cup telah membuka lembaran baru dalam sejarah klub. Namun kini yang menjadi fokus bukan hanya partai puncak, melainkan cara The Gunners menjawab tantangan besar yang sudah menunggu di Wembley.
Final bukan sekadar pertandingan — itu adalah kesempatan bagi Arsenal untuk mengakhiri catatan kurang bersahabat mereka di kompetisi ini, sekaligus membuktikan bahwa tekanan besar bisa diubah menjadi sejarah kesuksesan baru.