NIKEL

Harga Nikel 2026 Diproyeksikan Naik, Tekanan Pasokan RI Jadi Pemicu Utama

Harga Nikel 2026 Diproyeksikan Naik, Tekanan Pasokan RI Jadi Pemicu Utama

JAKARTA - Prospek harga nikel di pasar global kembali menjadi perhatian utama dalam tahun 2026. Dua lembaga besar, Goldman Sachs dan Macquarie, baru-baru ini merevisi prediksi mereka dan menyampaikan pandangan yang lebih optimis dibanding sebelumnya. Keduanya menilai bahwa pengetatan pasokan, terutama dari Indonesia — produsen terbesar dunia — akan mendorong tren kenaikan harga komoditas logam ini. Revisi ini mencerminkan perubahan sentimen pasar dari kekhawatiran oversupply ke kemungkinan defisit pasokan apabila kebijakan Indonesia berjalan konsisten.

Perubahan Proyeksi dari Goldman Sachs dan Macquarie
Goldman Sachs menyampaikan bahwa pandangannya terhadap harga nikel untuk 2026 mengalami peningkatan dibanding sebelumnya, seiring sinyal pasokan global yang makin ketat. Sementara itu Macquarie juga mengikuti dengan menaikkan proyeksi harga rata-rata nikel di London Metal Exchange (LME) untuk tahun depan. Menurut Macquarie, harga LME 2026 kini diperkirakan mencapai rata-rata US$17.750 per ton, naik dari sebelumnya sekitar US$15.000 per ton. Pendekatan kedua lembaga ini didasari oleh asumsi bahwa pengetatan kuota dan kebijakan pasokan Indonesia akan mengurangi surplus global secara signifikan, sehingga memberikan dukungan terhadap harga.

Revisi pandangan tersebut menjadi sorotan karena terjadi pada periode ketika permintaan nikel di pasar baterai dan baja tahan karat masih kuat, sedangkan pasokan tidak meningkat secepat ekspektasi awal.

Dampak Pengetatan Pasokan Indonesia
Indonesia merupakan pemain kunci dalam pasar nikel global, menyumbang porsi besar dari total produksi dunia. Pengetatan pasokan oleh Indonesia, yang tercermin dari kuota produksi yang direvisi untuk 2026, telah memicu reaksi di pasar. Sebelumnya, kuota produksi bijih nikel internasional telah mencatat angka tinggi, namun pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk mengawasi volume lebih ketat dalam upaya mengimbangi ekspansi cepat produksi smelter domestik yang memerlukan pasokan bahan baku yang stabil.

Pengetatan ini diyakini akan memangkas surplus global secara tajam — dari ratusan ribu ton menjadi hanya puluhan ribu ton — bahkan berpotensi membawa pasar menuju posisi keseimbangan atau defisit ringan pada beberapa segmen tertentu. Menurut Macquarie, imbas bersih dari kebijakan ini akan menekan proyeksi surplus pasar nikel global menjadi sekitar 90.000 ton, jauh lebih rendah dibanding surplus sebelumnya yang diperkirakan mencapai ratusan ribu ton.

Respons Pasar: Harga dan Sentimen Investor
Respons pasar atas proyeksi baru ini cukup responsif. Harga nikel di bursa LME menunjukkan tren peningkatan secara year-to-date, dengan perdagangan mencapai level yang lebih tinggi dibanding rentang beberapa bulan sebelumnya. Investor dan pelaku pasar mulai menimbang ulang strategi mereka, mengingat kemungkinan harga yang lebih tinggi dari perkiraan awal bisa mendorong peluang keuntungan.

Selain itu, sentimen terhadap saham emiten nikel di berbagai bursa, terutama di pasar Indonesia, turut menunjukkan dinamika positif. Ketika harga komoditas inti seperti nikel diproyeksikan meningkat, sejumlah saham penambang dan produsen nikel memperoleh perhatian dari investor ritel maupun institusi, yang melihat potensi kenaikan pendapatan emiten dari harga komoditas yang lebih tinggi.

Namun, setiap lonjakan harga juga membawa risiko volatilitas. Pasar nikel dikenal cukup sensitif terhadap perubahan kebijakan, data industri, serta permintaan dari sektor baterai dan baja. Jika pasokan ternyata tidak serketat yang diperkirakan atau permintaan melambat secara tak terduga, spekulasi harga dapat berubah arah dalam jangka pendek.

Faktor Risiko di Balik Proyeksi Optimis
Meskipun revisi proyeksi harga tampak optimis, sejumlah risiko masih membayangi pasar nikel global. Pertama, keseimbangan antara produksi dan konsumsi di tingkat global masih dipengaruhi oleh kapasitas produksi di luar Indonesia. Beberapa analis pasar melihat bahwa peningkatan kapasitas di negara lain dapat menahan laju kenaikan harga jika permintaan tidak tumbuh secepat yang diantisipasi.

Selain itu, kebijakan luar negeri seperti pembatasan ekspor atau perubahan tarif juga bisa memainkan peran penting dalam dinamika pasar nikel. Perubahan sikap pemerintah terhadap produksi dan ekspor sumber daya alam sering kali menciptakan sentimen pasar jangka pendek yang signifikan, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan bagi investor. Bahkan jika pasar bergerak ke arah defisit, tekanan makroekonomi global seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat atau fluktuasi nilai tukar mata uang juga dapat berdampak pada harga komoditas.

Keseimbangan Antara Peluang dan Tantangan
Revisi proyeksi harga nikel 2026 oleh Goldman Sachs dan Macquarie menunjukkan bahwa pasar komoditas logam ini sedang memasuki fase baru, di mana pengetatan pasokan — terutama dari Indonesia — menjadi faktor utama yang memengaruhi perkiraan harga. Perubahan pandangan ini memberikan sinyal bahwa pasar nikel bisa bergerak menuju kisaran harga yang lebih tinggi dibanding sebelumnya, meskipun tidak bebas dari risiko volatilitas dan faktor eksternal.

Investor, pembuat kebijakan, serta pelaku industri harus terus mencermati pergerakan pasokan dan permintaan, karena dinamika pasar nikel akan tetap bergantung pada kebijakan produksi, kondisi global, serta tren permintaan dari sektor industri vital seperti baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index