JAKARTA - Ketika Indonesia berada di persimpangan kebijakan strategis sumber daya alam dan reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lahirnya PT Perusahaan Mineral Nusantara (Perminas) menjadi sorotan utama. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi membentuk Perminas sebagai entitas BUMN baru yang fokus pada pengelolaan mineral strategis. Sektor pertambangan yang selama ini tersebar di berbagai perusahaan besar kini memiliki satu wajah baru: Perminas.
Langkah ini menandai perpindahan peran penting dalam pengelolaan sumber daya mineral Indonesia — dari fokus semata pada beberapa holding besar ke arah korporasi baru yang dirancang khusus untuk menangani berbagai mineral strategis.
Transformasi Kebijakan: Dari Fragmentasi ke Fokus Mineral Nasional
Pembentukan Perminas menjadi bagian dari strategi besar Danantara untuk merasionalisasi pengelolaan aset negara, terutama mineral. Sebelumnya, sumber daya mineral dikelola oleh berbagai BUMN yang tersebar di bawah payung besar holding yang ada. Namun kini, dengan berdirinya Perminas, ada konsentrasi pengelolaan pada badan usaha yang memang dibentuk untuk itu.
Perminas diproyeksikan memusatkan pengelolaan mineral strategis seperti bijih besi, nikel, tembaga, emas, perak, dan logam tanah jarang — yang selama ini menjadi komoditas utama Indonesia di pasar global. Langkah ini dipandang sebagai bagian penting untuk memanfaatkan potensi mineral yang besar dan beragam, sekaligus mengurangi tumpang tindih antara berbagai perusahaan pelat merah yang sebelumnya mengelolanya.
Perminas dan Pengambilalihan Aset Tambang Martabe
Salah satu isu yang mengemuka adalah rencana pengambilalihan pengelolaan tambang emas Martabe di Sumatera Utara oleh Perminas. Tambang ini sebelumnya berada di bawah operator swasta besar dan dianggap sebagai tambang penting secara ekonomi. Keputusan ini menimbulkan perdebatan karena menyangkut masa depan tenaga kerja, investasi, dan tata kelola lingkungan.
Danantara dan pemerintah belum mengumumkan secara rinci skema alih kelola tambang tersebut, termasuk bagaimana rencana pengelolaan, perlindungan pekerja, dan kepastian operasional akan dijalankan. Dilansir dari pernyataan CEO Danantara saat konferensi pers di Wisma Danantara, skema tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan berbagai pihak terkait sebelum keputusan final dikeluarkan.
Langkah ini tidak hanya soal aset, tetapi juga mencerminkan bagaimana negara ingin mempertahankan kendali atas komoditas yang sangat dibutuhkan di pasar global — terutama logam tanah jarang yang kini menjadi komoditas bernilai tinggi.
Argumentasi Publik: Potensi dan Tantangan
Pembentukan Perminas mendapat respons beragam dari analis dan pelaku industri. Di satu sisi, adanya badan usaha baru yang fokus penuh pada mineral strategis memberikan peluang transformasi nilai tambah yang lebih besar bagi negara. Pengelolaan yang terpusat diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, koordinasi, dan potensi pemasukan devisa yang selama ini tersebar di berbagai unit usaha.
Namun, tak sedikit pihak yang menyoroti bahwa tantangan besar tetap ada, khususnya terkait tata kelola yang baik dan transparan. Ketika sebuah badan usaha baru diberi mandat besar untuk mengelola aset mineral strategis, pertanyaan tentang kompetensi, mekanisme pengawasan, dan optimalisasi sumber daya menjadi sorotan.
Perminas harus membuktikan diri tidak hanya sekadar menampung aset, tetapi mampu mengelolanya secara profesional dan berkelanjutan. Hal ini penting lantaran kritik terhadap pengelolaan tambang sering kali berkutat pada isu lingkungan, hak pekerja, dan tata kelola konsesi pertambangan yang adil.
Bangun Indonesia Berbasis Sumber Daya Mineral
Secara strategis, pembentukan Perminas juga ditempatkan dalam konteks upaya pemerintah memaksimalkan sumber daya mineral sebagai instrumen pembangunan ekonomi jangka panjang. Indonesia dikenal memiliki cadangan mineral yang sangat besar, termasuk logam tanah jarang — bahan penting dalam industri teknologi tinggi global.
Dengan demikian, hadirnya Perminas memberi sinyal bahwa pemerintah ingin tidak hanya menjadi eksportir bahan baku, tetapi juga menjadi pemain yang lebih berpengaruh di hilir industri mineral. Ini mencakup kemampuan untuk menambah nilai melalui pengolahan dan industrialisasi sumber daya.
Dalam skenario tersebut, keberhasilan Perminas akan diukur dari kemampuannya menarik investasi, menjaga tata kelola yang baik, serta memastikan kontribusi terhadap penerimaan negara yang berkelanjutan. Jika berhasil, langkah ini dapat memperkuat posisi Indonesia di peta industri mineral global dan sekaligus mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Titik Balik Sektor Mineral Indonesia
PT Perminas, sebagai BUMN yang baru dibentuk oleh Danantara, bukan sekadar nama baru dalam peta industri negara. Ia menjadi simbol perubahan strategi pengelolaan sumber daya mineral nasional. Dengan tanggung jawab yang besar untuk menangani komoditas mineral strategis, Perminas berpotensi membawa Indonesia ke posisi yang lebih kuat dalam pengelolaan aset mineralnya — asalkan dibarengi tata kelola yang transparan, profesional, dan produktif.
Perjalanan ke depan masih panjang — dari alih kelola tambang besar, penataan ekonomi sumber daya mineral, hingga integrasi Perminas dalam sistem investasi nasional. Namun, langkah awal pembentukan ini telah membuka babak baru dalam sejarah pengelolaan BUMN dan sumber daya alam di Indonesia.