JAKARTA — Perubahan struktur kepemilikan di Indonesia Battery Corporation (IBC) menandai fase baru dalam pengembangan industri baterai nasional. Keputusan strategis yang baru saja diumumkan menjadikan BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID sebagai pemegang saham mayoritas di IBC, menggantikan porsi kepemilikan yang sebelumnya lebih merata antar mitra BUMN. Langkah ini terjadi seiring turunnya kontribusi modal dari PT PLN (Persero), dan menjadi sorotan dalam rapat dengar pendapat antara manajemen IBC dan anggota Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.
Perubahan Komposisi Pemegang Saham IBC
Secara historis, IBC dibentuk sebagai konsorsium antara empat BUMN besar dengan porsi saham yang sama: MIND ID, PT Aneka Tambang (Antam), Pertamina New & Renewable Energy (NRE), dan PLN masing-masing 25%. Model ini dipilih dengan tujuan agar para pemilik di sepanjang value chain industri baterai dapat saling berkontribusi dalam pengembangan ekosistem baterai domestik.
Namun, komposisi pemegang saham kini telah berubah signifikan setelah PLN mengurangi porsi sahamnya dari 25 persen menjadi 7,5 persen. Sebagian besar saham yang dilepas oleh PLN tersebut kemudian diambil alih oleh MIND ID melalui dua entitasnya: Antam dan Inalum.
Penjelasan ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, kepada media. “PLN masih ada, 7,5 persen sekarang,” tutur Aditya saat ditemui dalam acara di parlemen. Namun ia belum mengelaborasi alasan di balik keputusan penurunan porsi saham oleh PLN.
MIND ID Kini Menguasai Mayoritas Saham
Dengan akuisisi tambahan tersebut, MIND ID kini memegang total 67,5 persen saham di IBC, terdiri dari 33,75 persen melalui Antam dan 33,75 persen melalui Inalum. Persentase ini menjadikannya mayoritas pemegang saham, meskipun menurut pernyataan Aditya belum ada satu entitas pun yang secara tunggal menjadi pengendali saham terbesar (single controlling shareholder).
Sementara itu, Pertamina NRE masih mempertahankan porsi saham sebesar 25 persen, dan PLN kini hanya di posisi 7,5 persen. Struktur ini menggambarkan pergeseran dominasi kepemilikan dari model yang seimbang menjadi lebih berat di tangan MIND ID sebagai induk holding pertambangan.
Perubahan tersebut dipandang sejalan dengan peran strategis MIND ID dalam menyediakan bahan baku utama seperti nikel — komoditas penting bagi industri baterai listrik — yang merupakan fokus utama IBC dalam pengembangan ekosistem baterai untuk kendaraan listrik (EV) dan teknologi penyimpanan energi.
Peran IBC dalam Pengembangan Industri Baterai Nasional
IBC bukan sekadar korporasi pengelola saham; ia menjadi simbol kolaborasi BUMN untuk memperkuat downstreaming mineral di Indonesia. Perusahaan ini ditugaskan sebagai ujung tombak dalam pengembangan ekosistem baterai, terutama dalam konteks kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik yang prospektif di pasar global.
Dalam diskusi di DPR RI, Aditya menjelaskan bahwa pada awalnya struktur kepemilikan dibentuk agar setiap pemilik — dari hulu hingga hilir — dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan industri baterai. Porsi yang merata dianggap sebagai cerminan keterlibatan setiap pemangku kepentingan dalam rantai pasok industri ini.
Namun dinamika pasar, pertimbangan modal, serta perubahan strategi masing-masing pemegang saham kini membuat struktur itu bergeser, dengan MIND ID mengambil peran yang lebih dominan. Meski demikian, menurut pernyataan resmi, masih belum terdapat satu entitas tunggal yang mencatat pengendalian penuh atas IBC.
Implikasi dan Pertanyaan Selanjutnya
Perubahan struktur kepemilikan ini membuka beberapa pertanyaan strategis seputar masa depan IBC dan posisi PLN dalam industri baterai nasional. Langkah PLN mengurangi porsi sahamnya — walaupun masih tercatat sebagai pemegang minoritas — dianggap sebagai keputusan strategis yang perlu dijelaskan lebih rinci kepada publik. Aditya sendiri menyarankan agar pertanyaan mengenai keputusan tersebut ditanyakan langsung kepada para pemegang saham terkait.
Lebih jauh, dominasi kepemilikan oleh MIND ID bisa menjadi cermin dari besarnya tantangan dan kebutuhan modal dalam pengembangan industri yang bersifat teknologi tinggi seperti baterai kendaraan listrik. Perubahan ini juga menandai kepercayaan yang diberikan kepada MIND ID sebagai holding BUMN untuk memimpin dan mensinergikan kekuatan BUMN tambang dalam menghadapi persaingan global.
Kesimpulan: Momentum Baru untuk Industri Baterai
Intinya, bergesernya kepemilikan saham IBC ke tangan MIND ID menunjukkan transformasi penting dalam upaya pembangunan ekosistem baterai nasional. Dominasi baru ini mencerminkan peran strategis holding pertambangan negara dalam mengarahkan investasi, modal, dan teknologi ke sektor yang dinilai memiliki prospek besar seiring meningkatnya permintaan global akan kendaraan listrik dan solusi energi terbarukan.
Langkah ini sekaligus menjadi momentum bagi kolaborasi lintas BUMN untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai nilai industri baterai di panggung internasional — sekaligus tantangan bagi PLN dan mitra lainnya untuk menemukan kembali peran strategis mereka di dalam korporasi ini.