Apa Itu Traction Control adalah Fungsi hingga Cara Kerjanya

Jumat, 11 April 2025 | 12:59:23 WIB
apa itu traction control

JAKARTA - Apa itu traction control? Mungkin masih banyak yang belum familiar dengan fitur ini, padahal hampir semua mobil keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan teknologi tersebut. 

Traction control atau kontrol traksi berperan dalam menjaga traksi roda agar tidak kehilangan cengkeraman, terutama saat mobil melaju di jalanan licin akibat hujan atau kondisi permukaan yang tidak stabil. 

Namun, seberapa krusial fitur ini bagi keselamatan berkendara? Dan kapan waktu yang paling tepat untuk menggunakannya?

Ketika jalanan licin atau pengemudi tidak sengaja melaju dengan kecepatan berlebih, mobil yang sudah memiliki traction control dapat mengalami selip, terutama saat menikung. 

Untuk memahami lebih dalam, penting untuk mengetahui komponen-komponen yang membentuk sistem ini serta bagaimana mekanismenya bekerja dalam menjaga stabilitas kendaraan.

Dengan memahami apa itu traction control secara lebih menyeluruh, pengemudi bisa memanfaatkannya dengan lebih optimal demi keamanan dan kenyamanan selama perjalanan.

Apa Itu Traction Control?

Apa itu traction control? Fitur ini kini hampir selalu hadir pada mobil keluaran terbaru karena memiliki peran krusial dalam meningkatkan keselamatan berkendara, terutama di musim hujan. 

Traction Control System (TCS) merupakan bagian dari sistem pengereman kendaraan yang bekerja untuk mencegah roda kehilangan cengkeraman, terutama saat melaju di jalanan basah atau licin.

Teknologi ini dirancang untuk mengurangi risiko ban mengalami slip dengan menjaga perputaran roda tetap stabil. 

Ketika sistem mendeteksi salah satu roda berputar lebih cepat dari yang seharusnya, TCS akan segera mengaktifkan rem pada roda tersebut untuk memperlambat lajunya, sehingga keseimbangan traksi kembali terjaga.

Selain Traction Control System, mobil-mobil modern juga dilengkapi dengan Electronic Stability Control (ESC). Meski keduanya berfungsi dalam menjaga stabilitas kendaraan, ESC memiliki cakupan yang lebih luas. 

Jika TCS berfokus pada traksi roda, ESC bertugas untuk menjaga kestabilan mobil saat melaju di jalur yang berkelok atau melalui tikungan tajam. 

ESC bekerja dengan mengaktifkan rem pada roda tertentu guna menghindari efek understeer atau oversteer, memberikan kendali yang lebih presisi bagi pengemudi.

Keberadaan ESC juga berperan dalam mengurangi risiko aquaplaning, yaitu kondisi saat ban kehilangan traksi akibat lapisan air yang menghalangi kontak dengan permukaan jalan. 

Situasi ini dapat menyebabkan mobil tergelincir, sehingga fitur ESC sangat membantu dalam mempertahankan kendali kendaraan. 

Tak heran, menurut data dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) di Amerika Serikat, ESC terbukti mampu menekan angka kecelakaan hingga sepertiga dari total kejadian di jalan raya.

Meskipun traction control memberikan banyak manfaat, ada kondisi tertentu di mana fitur ini sebaiknya dinonaktifkan, seperti saat mobil harus melewati tanjakan yang curam. 

Mematikan TCS dalam situasi ini dapat membantu kendaraan mendapatkan daya dorong maksimal agar tidak kehilangan tenaga. 

Namun, pengemudi tetap perlu menjaga ritme injakan pedal gas agar tenaga yang tersalurkan tidak berlebihan, sehingga mobil tetap melaju dengan stabil tanpa risiko selip.

Sejarah Traction Control

Traction Control adalah salah satu fitur keselamatan modern yang telah menjadi standar pada banyak kendaraan saat ini. 

Teknologi ini juga dikenal dengan berbagai nama, seperti Vehicle Stability Control atau Electronic Stability Program, dan berfungsi untuk mencegah roda mengalami selip dengan menyesuaikan daya mesin secara otomatis.

Fitur ini pertama kali diperkenalkan pada awal 1990-an oleh Frank Werner-Mohn, seorang insinyur keselamatan dari Mercedes-Benz. 

Sistemnya bekerja dengan menggabungkan Engine Control Unit (ECU) dan sensor Anti-lock Braking System (ABS). 

Sensor ini mampu mendeteksi jika ada roda yang kehilangan traksi, lalu mengurangi tenaga mesin agar pengemudi bisa mengendalikan mobil kembali dengan lebih stabil. Seiring perkembangan teknologi, Traction Control kini semakin canggih. 

Beberapa mobil modern tidak hanya dapat menyesuaikan tenaga mesin, tetapi juga menyalurkan pengereman ke roda tertentu yang mengalami kehilangan traksi atau bahkan mengurangi tekanan boost pada mesin turbo. 

Fitur ini sangat berguna dalam situasi oversteer, di mana bagian belakang mobil kehilangan kendali lebih dulu, maupun understeer, saat mobil tidak merespons setir sesuai dengan arah yang diinginkan.

Kesadaran akan pentingnya fitur ini membuat Mercedes-Benz membagikan teknologi Traction Control secara gratis kepada produsen otomotif lainnya demi meningkatkan keselamatan berkendara secara global. 

Banyak negara pun mulai mewajibkan penggunaan fitur ini pada mobil baru. Kanada menerapkan aturan ini sejak 2011, diikuti oleh Amerika Serikat pada 2012, dan Eropa pada 2014.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, Chevrolet Spark menjadi salah satu mobil dengan harga terjangkau yang telah dilengkapi dengan Traction Control di semua variannya. Namun, di Indonesia, fitur ini masih belum menjadi standar pada semua mobil murah.

Misalnya, Honda Brio RS manual yang dibanderol sekitar Rp 209 juta belum memiliki Traction Control sebagai fitur bawaan.

Komponen Traction Control System

1. Wheel Speed Sensor (WSS)

Sensor ini berperan dalam mendeteksi kecepatan putaran roda dan mengirimkan sinyal ke sistem ABS sebelum diteruskan ke ECU.

2. Hydraulic Unit

Bagian ini bertanggung jawab untuk memompa cairan minyak rem guna menciptakan tekanan pada kaliper, sehingga membantu mengontrol putaran roda saat selip terjadi.

3. Engine Control Unit (ECU)

ECU menerima sinyal dari WSS dan kemudian memberikan perintah untuk menyesuaikan kecepatan roda agar tetap stabil.

4. Fuel Injection dan Ignition Control

Komponen ini berfungsi mengatur tekanan pompa mesin secara bertahap guna mengurangi risiko selip. Sistem injeksi bahan bakar juga berperan dalam menyesuaikan suplai bahan bakar agar mesin tetap bekerja secara optimal.

5. Electronic Throttle Control Actuator

Perangkat ini memastikan bukaan gas tetap terkendali agar tidak berlebihan ketika roda mengalami spin atau kehilangan traksi. ECU akan secara otomatis membatasi tenaga mesin untuk menjaga kestabilan kendaraan.

Dalam operasinya, sistem traction control dapat bekerja dengan berbagai metode, seperti memutus suplai bahan bakar ke ruang bakar, menutup throttle pada kendaraan dengan sistem drive-by-wire, atau mengurangi tekanan boost pada mesin turbo.

Fungsi Traction Control

1. Menjaga Stabilitas Kendaraan Saat Menikung

Saat menghadapi tikungan tajam, risiko selip dapat menyebabkan mobil tergelincir dan sulit dikendalikan. Hal ini bisa menjadi situasi yang menegangkan bagi pengemudi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, fitur traction control hadir sebagai solusi guna mencegah roda kehilangan traksi, terutama di jalan basah.

Teknologi ini umumnya sudah disematkan pada mobil keluaran terbaru sebagai bagian dari sistem keselamatan berkendara. 

Cara kerjanya cukup sederhana, di mana sistem akan mendeteksi daya cengkeram pada setiap roda dan secara otomatis mengaktifkan pengereman pada roda yang membutuhkan. 

Pengemudi hanya perlu memastikan fitur ini aktif melalui tombol yang biasanya terletak di dekat kemudi.

2. Membantu Pengemudi Saat Berbelok

Mengendalikan kendaraan saat menikung membutuhkan koordinasi antara akselerasi, pengereman, dan kemudi. Bagi pengemudi yang belum terbiasa, hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri. 

Traction control dirancang untuk membantu pengemudi dengan menyesuaikan pengereman pada setiap roda secara otomatis, sehingga manuver di tikungan menjadi lebih aman dan stabil.

Sistem ini bekerja dengan menyesuaikan kekuatan pengereman pada masing-masing roda sesuai kebutuhan. 

Misalnya, jika kendaraan memasuki tikungan dengan kecepatan tinggi, traction control akan secara perlahan mengurangi kecepatan roda yang berisiko tergelincir. 

Begitu pula saat kendaraan keluar dari tikungan, fitur ini membantu mengontrol laju mobil agar tetap berada di jalur yang aman, terutama jika pengemudi terlalu cepat menginjak pedal gas.

Cara Kerja Traction Control

Pada dasarnya, traction control berfungsi untuk mendeteksi kapan roda kehilangan traksi dan mulai berputar dengan kecepatan tidak normal. Sistem ini bekerja dengan memperlambat putaran roda atau mengurangi daya mesin agar kendaraan tetap stabil.

Untuk melakukan tugasnya, traction control menggunakan sensor ABS yang mendeteksi perbedaan kecepatan antar roda. Jika salah satu roda berputar lebih cepat dari yang lain, sistem akan segera merespons untuk mengembalikan keseimbangan traksi.

Ketika sensor mendeteksi kehilangan cengkeraman pada roda, sistem traction control akan mengirimkan sinyal ke ECU untuk mengambil tindakan yang diperlukan. 

Biasanya, sistem akan menerapkan pengereman secara bertahap pada roda yang mengalami selip atau menyesuaikan tenaga mesin agar roda kembali mendapatkan traksinya. 

Dengan demikian, teknologi ini bekerja sebagai pelengkap fitur keselamatan lainnya seperti ABS. Prinsip kerja traction control sangat bergantung pada sensor kecepatan roda, yang terus memantau pergerakan roda selama kendaraan berjalan. 

Sensor ini menghasilkan sinyal yang mencerminkan kecepatan roda, memungkinkan sistem mendeteksi jika ada roda yang mengalami slip. 

Ketika hal ini terjadi, sistem akan segera mengaktifkan rem pada roda yang kehilangan traksi agar putarannya kembali seimbang dengan roda lainnya.

Selain traction control, beberapa fitur keselamatan lain juga penting untuk memastikan kenyamanan berkendara. 

Misalnya, hill descent control, yang membantu menjaga kecepatan saat melewati jalanan menurun yang curam, serta hill start assist, yang mencegah kendaraan mundur ketika berhenti di tanjakan. 

Tak ketinggalan, Isofix car seat juga menjadi fitur penting bagi keluarga yang mengutamakan keamanan anak saat berkendara.

Sebagai penutup, dengan memahami apa itu traction control, kamu bisa lebih percaya diri dalam berkendara, terutama di kondisi jalan yang menantang.

Terkini