Jenis-jenis obligasi menjadi salah satu pilihan investasi yang bisa diperdagangkan di pasar keuangan.
Secara umum, terdapat tujuh instrumen investasi yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan profil risiko. Ketujuh instrumen tersebut meliputi tabungan, deposito, reksa dana, obligasi, saham, emas, serta properti.
Setiap produk investasi ini memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, penting untuk mencari informasi selengkap mungkin sebelum menentukan pilihan investasi yang paling sesuai.
Salah satu instrumen yang akan dibahas dalam artikel ini adalah obligasi, mulai dari definisi, contoh, hingga jenis obligasi yang tersedia.
Pernahkah kamu mendengar tentang jenis obligasi yang ada di pasar? Jika melihat perkembangan Obligasi Negara Ritel (ORI), data pemerintah menunjukkan tren peningkatan jumlah investor yang membeli instrumen ini.
Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 2006, ORI menarik minat sebanyak 16.561 investor. Seiring berjalannya waktu, angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2020, ORI-017 mencatatkan rekor sebagai surat berharga negara (SBN) ritel dengan penerbitan tertinggi sejak sistem penjualan daring diberlakukan pada 2018, dengan total nilai hampir Rp18,33 triliun.
Adapun jumlah investor yang membeli ORI-017 mencapai 42.733 orang, di mana sebanyak 23.949 di antaranya merupakan investor baru atau sekitar 56% dari total investor.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap obligasi terus bertumbuh setiap tahunnya. Lantas, apa yang membuat obligasi begitu menarik sebagai produk investasi?
Faktor apa saja yang menjadi daya tarik utama bagi investor hingga mereka rela mengalokasikan dana untuk memiliki obligasi?
Semua pertanyaan tersebut akan dijawab melalui pembahasan lebih lanjut mengenai karakteristik serta manfaat dari jenis-jenis obligasi yang tersedia.
Apa Itu Obligasi?
Obligasi merupakan instrumen keuangan berupa surat utang yang diterbitkan oleh suatu pihak kepada pemegangnya dengan kewajiban untuk mengembalikan dana pokok beserta bunga (kupon) dalam jangka waktu yang telah disepakati.
Dalam konteks regulasi, Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 mendefinisikan Surat Utang Negara sebagai surat berharga dalam mata uang rupiah atau valuta asing yang dijamin pembayarannya oleh pemerintah Indonesia sesuai dengan masa berlaku yang telah ditentukan.
Dalam praktiknya, obligasi memiliki tanggal jatuh tempo yang mencantumkan kapan penerbit harus melunasi pokok utang beserta kuponnya. Di Indonesia, obligasi umumnya memiliki tenor antara satu hingga sepuluh tahun.
Penerbitan obligasi dilakukan untuk menggalang dana dari masyarakat sebagai sumber pembiayaan, baik bagi perusahaan yang membutuhkan modal tambahan untuk mengembangkan bisnis maupun bagi pemerintah dalam menutup defisit anggaran belanja negara.
Seperti halnya saham, obligasi juga dapat diperjualbelikan. Namun, berbeda dengan saham yang transaksinya dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI), obligasi dapat diperoleh langsung dari penerbit melalui mekanisme tertentu.
Misalnya, ketika pemerintah menerbitkan obligasi, investor dapat membelinya melalui agen penjual yang telah ditunjuk, seperti bank, perusahaan sekuritas, atau platform investasi yang berwenang.
Dalam dunia keuangan, terdapat berbagai jenis obligasi yang dibedakan berdasarkan penerbit, jangka waktu, hingga karakteristik kuponnya.
Beberapa di antaranya termasuk obligasi pemerintah, obligasi korporasi, obligasi ritel, serta obligasi syariah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Masing-masing memiliki keunggulan dan risiko tersendiri yang perlu dipahami sebelum berinvestasi.
Jenis-jenis Obligasi
Sama seperti saham dan instrumen investasi lainnya yang memiliki berbagai kategori, obligasi juga terbagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria tertentu.
Secara umum, ada empat faktor utama yang menjadi dasar klasifikasi obligasi, yaitu pihak yang menerbitkannya, nilai nominal yang ditetapkan, mekanisme pembayaran bunga, serta cara perhitungan imbal hasilnya.
Berikut ini adalah jenis-jenis obligasi beserta contoh yang sering ditemui di pasar keuangan.
1. Berdasarkan Karakteristik Hak Penukarannya
Dalam dunia investasi, obligasi dapat dikategorikan berdasarkan hak penukarannya. Berikut beberapa jenisnya:
a. Callable Bond (Obligasi Opsi Beli)
Obligasi ini memberikan hak kepada penerbit untuk membeli kembali surat utang dari investor dengan harga yang telah disepakati. Namun, penerbit tidak bisa menarik kembali obligasi ini sebelum waktu jatuh tempo.
Keuntungan bagi penerbit adalah bisa melunasi utangnya lebih cepat, terutama ketika suku bunga turun. Sementara itu, investor biasanya meminta tingkat kupon lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko tersebut.
b. Convertible Bond (Obligasi Konversi)
Jenis obligasi ini memungkinkan pemegangnya untuk mengonversi surat utang menjadi saham penerbit dengan rasio penukaran tertentu.
Karena memberikan kesempatan bagi investor untuk memiliki saham, obligasi ini umumnya menawarkan kupon lebih rendah dibandingkan obligasi biasa.
c. Exchangeable Bond (Obligasi Tukar)
Obligasi ini mirip dengan Convertible Bond, tetapi perbedaannya terletak pada objek konversinya.
Jika Convertible Bond diubah menjadi saham penerbit obligasi, Exchangeable Bond dapat dikonversi menjadi saham perusahaan afiliasi, seperti anak atau induk perusahaan dari penerbit obligasi.
d. Non-Convertible Bond (Obligasi Non-Konversi)
Seperti namanya, obligasi ini tidak memiliki opsi untuk dikonversi menjadi saham dan tetap berfungsi sebagai surat utang dengan pembayaran bunga yang telah ditentukan.
e. Putable Bond
Jenis obligasi ini memberikan hak bagi investor untuk meminta penerbit membeli kembali obligasi mereka. Dengan adanya opsi ini, investor memiliki perlindungan lebih terhadap potensi penurunan nilai obligasi.
2. Berdasarkan Penerbitnya
Obligasi juga dapat dikategorikan berdasarkan pihak yang menerbitkannya. Berikut beberapa di antaranya:
a. Obligasi Pemerintah (Treasury Bond / TB)
Diterbitkan oleh pemerintah, obligasi ini sering dianggap sebagai instrumen investasi dengan risiko rendah karena pembayaran bunga dan pokoknya dijamin negara.
Di Indonesia, obligasi pemerintah pertama kali diterbitkan pada Agustus 2006 dan mencakup beberapa jenis, seperti:
- Obligasi Rekap: Diterbitkan untuk program rekapitalisasi perbankan.
- Surat Utang Negara (SUN): Bertujuan membiayai defisit APBN.
- Obligasi Ritel Indonesia (ORI): Mirip dengan SUN, tetapi dengan nominal lebih kecil sehingga dapat diakses oleh investor ritel.
- Surat Berharga Syariah Negara (SBSN): Obligasi berbasis syariah yang mekanismenya mengikuti prinsip Islam.
Obligasi pemerintah dapat dibeli melalui perbankan seperti BCA dan BRI. Namun, perlu diketahui bahwa obligasi ini adalah produk pasar modal, bukan produk perbankan, sehingga bank tidak bertanggung jawab atas risiko investasi yang terjadi.
b. Obligasi Korporasi (Corporate Bond / CB)
Obligasi ini diterbitkan oleh perusahaan, baik swasta maupun BUMN, dengan tenor minimal satu tahun.
Contohnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) pernah menerbitkan obligasi senilai Rp2 triliun pada tahun 2014 dengan tingkat kupon tetap dan tenor lima tahun.
c. Obligasi Daerah (Municipal Bond / MB)
Diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek-proyek pembangunan yang berkaitan dengan kepentingan publik. Meskipun memiliki risiko lebih rendah dibanding obligasi korporasi, Municipal Bond tetap memiliki potensi risiko tertentu.
Dalam beberapa kasus, bunga yang diperoleh dari obligasi ini tidak dikenakan pajak oleh pemerintah daerah yang menerbitkannya.
d. Foreign Bond (FB)
Obligasi yang diterbitkan oleh negara asing dengan risiko tambahan berupa fluktuasi nilai tukar mata uang dan kemungkinan gagal bayar dari negara penerbitnya.
3. Berdasarkan Nominalnya
Obligasi dapat dibedakan menurut nilai nominalnya menjadi dua kelompok utama. Berikut penjelasannya:
a. Conventional Bond (Obligasi Konvensional)
Obligasi jenis ini memiliki nilai nominal yang cukup besar, biasanya sekitar Rp1 miliar per lot.
Dengan menerbitkan obligasi ini, penerbit meminjam dana dari masyarakat dan berkewajiban membayar bunga secara berkala, serta melunasi pokok utang sesuai periode yang telah ditentukan.
b. Retail Bond (Obligasi Ritel)
Obligasi ritel memiliki nominal yang lebih kecil, misalnya Rp1 juta, sehingga lebih mudah diakses oleh investor individu.
Meskipun umumnya diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan juga bisa menerbitkan obligasi ritel untuk mendapatkan pendanaan dari masyarakat.
4. Berdasarkan Sistem Pembayaran Bunganya
Jika dikategorikan menurut metode pembayaran bunga, obligasi dapat dibagi menjadi empat jenis utama:
a. Interest Bearing Bond (Obligasi Kupon)
Obligasi ini memberikan bunga atau kupon secara berkala kepada investor. Besaran kupon yang diberikan sesuai dengan perjanjian antara penerbit dan pemegang obligasi.
Penghasilan dari kupon ini dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 20% dari jumlah bruto bunga yang diterima, sedangkan keuntungan dari selisih harga jual juga dikenakan pajak dengan tarif yang sama.
b. Zero Coupon Bond (Obligasi Tanpa Bunga)
Berbeda dengan obligasi kupon, jenis obligasi ini tidak memberikan pembayaran bunga secara berkala. Sebagai gantinya, investor memperoleh keuntungan dari selisih harga beli yang lebih rendah dibandingkan nilai nominal saat jatuh tempo.
Jangka waktu obligasi ini bervariasi, mulai dari kurang dari satu tahun hingga lebih dari 10 tahun. Pajak yang dikenakan hanya berlaku pada selisih harga jual dan harga perolehan dengan tarif 20%.
c. Fixed Coupon Bond (Obligasi Kupon Tetap)
Jenis obligasi ini menawarkan bunga dengan tingkat yang tetap sepanjang masa berlakunya.
Pembayaran kupon dilakukan secara berkala hingga tanggal jatuh tempo, sehingga investor dapat memperkirakan imbal hasil yang akan diterima sejak awal investasi.
d. Floating Rate Note (Obligasi Kupon Mengambang)
Obligasi dengan kupon mengambang memiliki bunga yang nilainya berubah sesuai indeks pasar uang, seperti LIBOR atau Euribor.
Meski demikian, terdapat batas minimal untuk kupon pertama yang ditetapkan, sehingga tingkat bunga tidak akan turun di bawah angka tersebut hingga jatuh tempo.
5. Berdasarkan Imbal Hasil
Obligasi dapat dikelompokkan berdasarkan cara pemberian imbal hasilnya. Berikut ini beberapa jenis obligasi yang masuk dalam kategori tersebut:
a. Conventional Bond (Obligasi Konvensional)
Jenis obligasi ini diterbitkan oleh suatu pihak untuk memperoleh dana yang digunakan sebagai tambahan modal. Sebagai kompensasi, investor akan menerima imbal hasil berupa bunga dalam jangka waktu tertentu.
b. Sharia Bond (Obligasi Syariah)
Berbeda dengan obligasi konvensional, obligasi syariah tidak mengandung unsur riba. Imbal hasil yang diberikan berupa uang sewa (ujrah) yang perhitungannya berpedoman pada prinsip syariah Islam.
Pembayaran imbal hasil ini dilakukan secara berkala sesuai dengan periode yang telah ditentukan.
c. Junk Bond (Obligasi Berimbal Hasil Tinggi)
Jenis obligasi ini memiliki peringkat di bawah standar investasi menurut lembaga pemeringkat kredit.
Oleh karena itu, risiko dari obligasi ini lebih tinggi dibandingkan obligasi lainnya. Sebagai kompensasi, investor biasanya mendapatkan imbal hasil yang lebih besar.
6. Berdasarkan Jangka Waktu
Berdasarkan periode jatuh temponya, obligasi dapat dibedakan menjadi dua kategori utama:
a. Obligasi Jangka Panjang
Jenis obligasi ini memiliki masa jatuh tempo lebih dari satu tahun. Biasanya, semakin lama jangka waktu obligasi, semakin tinggi pula tingkat bunga atau imbal hasil yang ditawarkan.
b. Obligasi Jangka Pendek
Obligasi dengan jangka waktu pendek memiliki periode jatuh tempo maksimal satu tahun. Obligasi ini sering digunakan sebagai instrumen keuangan untuk kebutuhan likuiditas dalam waktu singkat.
7. Berdasarkan Jaminan atau Kolateral
Obligasi juga dapat dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya jaminan yang menyertainya. Berikut pembagian jenisnya:
a. Secured Bond (Obligasi dengan Jaminan)
Obligasi ini didukung oleh aset milik penerbit atau pihak ketiga sebagai jaminan. Beberapa jenisnya meliputi:
- Mortgage Bond → Surat utang yang dijamin dengan aset properti, seperti gedung atau bangunan.
- Collateral Trust Bond → Jenis obligasi yang jaminannya berupa saham atau obligasi lain yang dimiliki oleh penerbit.
- Equipment Trust Certificate → Digunakan untuk mendanai pembelian aset tertentu, seperti pesawat atau kendaraan komersial. Dana yang diperoleh dari obligasi ini dipakai untuk membeli aset, kemudian aset tersebut disewakan kepada perusahaan.
b. Unsecured Bond (Obligasi Tanpa Jaminan)
Obligasi ini tidak memiliki jaminan aset tertentu, sehingga kepercayaan investor terhadap penerbit menjadi faktor utama. Jenisnya antara lain:
- Debentures → Surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan yang memiliki reputasi baik.
- Subordinated Debentures → Surat utang yang hanya dibayarkan setelah kewajiban dari obligasi senior terpenuhi.
- Income Bond → Jenis obligasi yang pembayaran bunganya tergantung pada laba perusahaan, sering kali digunakan dalam proses restrukturisasi bisnis.
8. Jenis Lainnya yang Beredar di Pasar
Selain klasifikasi obligasi yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat beberapa jenis obligasi lain yang juga tersedia di pasar keuangan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
a. Inflation-Linked Bond (Obligasi Inflasi)
Obligasi ini memiliki nilai pokok yang disesuaikan dengan tingkat inflasi, sehingga nilai pelunasan dan kupon yang diterima investor juga mengalami penyesuaian.
Meskipun suku bunga yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan obligasi berbunga tetap, keuntungan dari obligasi ini adalah perlindungan terhadap kenaikan harga barang dan jasa.
b. Subordinated Bond (Obligasi Subordinasi)
Jenis obligasi ini memiliki prioritas pembayaran yang lebih rendah dibandingkan obligasi lainnya jika terjadi likuidasi.
Karena risikonya yang lebih besar, obligasi subordinasi umumnya memiliki peringkat kredit yang lebih rendah dibandingkan obligasi senior. Obligasi jenis ini sering diterbitkan oleh sektor perbankan dan terkait dengan Efek Beragun Aset (EBA).
c. Asset-Backed Securities (Efek Beragun Aset)
Obligasi ini memperoleh pendanaan dari arus kas aset tertentu yang dijadikan sebagai dasar penerbitannya.
Contohnya termasuk Mortgage-Backed Securities (MBS) yang berbasis kredit perumahan, Collateralized Mortgage Obligations (CMOs), dan Collateralized Debt Obligations (CDOs) yang berisi kumpulan aset berpendapatan tetap.
d. Indexed Bonds (Obligasi Indeks Lainnya)
Obligasi ini dikaitkan dengan indeks tertentu, seperti ekuitas, pendapatan, atau indikator ekonomi lainnya.
Contohnya adalah obligasi yang mengikuti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) atau indeks bisnis yang mencerminkan kondisi perekonomian suatu negara.
d. Perpetual Bond (Obligasi Abadi)
Obligasi ini tidak memiliki tanggal jatuh tempo, sehingga investor dapat terus menerima pembayaran kupon tanpa batas waktu. Dalam beberapa kasus, obligasi ini memiliki nilai pokok yang mendekati nol seiring berjalannya waktu.
e. Bearer Bond (Obligasi Atas Unjuk)
Jenis obligasi ini tidak mencantumkan nama pemegangnya, sehingga siapa pun yang memegang sertifikatnya dapat menuntut pembayaran.
Obligasi ini diberi nomor seri untuk mencegah pemalsuan, tetapi tetap dapat diperdagangkan layaknya uang tunai. Namun, risiko kehilangan atau pencurian tetap menjadi perhatian utama.
f. Registered Bond (Obligasi Tercatat)
Obligasi ini memiliki sistem pencatatan kepemilikan yang dilakukan oleh penerbit atau lembaga administrasi efek. Semua pembayaran kupon dan pokok utang akan dikirim langsung kepada pemegang yang terdaftar dalam sistem.
g. Book Entry Bond (Obligasi Tanpa Warkat)
Obligasi ini tidak memiliki sertifikat fisik karena seluruh transaksi dan pencatatan kepemilikan dilakukan secara elektronik. Sistem ini diterapkan untuk mengurangi biaya pembuatan sertifikat dan mempermudah proses perdagangan di pasar modal.
h. Lottery Bond (Obligasi Lotere)
Obligasi yang umumnya diterbitkan oleh negara-negara Eropa ini memiliki sistem pembayaran bunga yang mirip dengan obligasi berbunga tetap.
Namun, penerbit secara acak menebus obligasi tertentu dengan harga lebih tinggi dibandingkan nilai nominalnya pada waktu yang telah ditentukan.
i. Eurobond
Obligasi yang diterbitkan di luar negeri menggunakan mata uang asing. Biasanya digunakan oleh perusahaan atau pemerintah untuk menarik modal dari pasar internasional.
j. Yankee Bond
Obligasi yang diterbitkan di suatu negara dalam mata uang domestik negara tersebut tetapi dijual kepada investor asing. Misalnya, obligasi yang diterbitkan di Amerika Serikat dalam dolar AS oleh entitas non-AS.
k. War Bond (Obligasi Perang)
Jenis obligasi ini diterbitkan oleh pemerintah untuk membiayai keperluan militer dan operasional selama masa perang. Obligasi ini sering kali dipasarkan sebagai bentuk dukungan patriotik bagi masyarakat.
Sebagai penutup, dengan memahami jenis-jenis obligasi, investor dapat memilih instrumen yang paling sesuai dengan kebutuhan dan toleransi risiko mereka.