Rupiah Menguat dan Dana Asing Mulai Masuk, Reksa Dana Apa yang Menarik?

Kamis, 10 September 2026 | 10:47:19 WIB
Ilustrasi mata uang. ( sumber : net )

JAKARTA - Penguatan pasar keuangan domestik mulai memberikan ruang bagi investor untuk kembali menata portofolio.

Namun, di tengah membaiknya sejumlah indikator pasar, investor tetap perlu selektif menentukan instrumen investasi dan tidak sekadar mengejar momentum penguatan pasar.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri, menilai strategi portofolio saat ini lebih tepat diarahkan pada balanced selective risk taking daripada aggressive risk-on.

Menurutnya, risk-reward aset domestik membaik dari sisi penguatan rupiah dan aliran dana asing, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi tekanan dari sisi inflasi dan kondisi suku bunga global.

Dari pasar valuta asing, rupiah menguat dari sekitar Rp 17.722 per dollar AS pada akhir Agustus menjadi Rp 17.632 per dollar AS pada 8 September 2026.

Novani menyebut, penguatan rupiah dan meningkatnya foreign flow menunjukkan ketahanan aset domestik, meski tekanan global masih perlu diperhatikan.

Di pasar pendapatan tetap, yield SBN tenor 10 tahun mencapai sekitar 7,11 persen, sehingga entry yield kembali lebih menarik bagi investor, meski strategi tetap perlu dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan volatilitas suku bunga.

“Reksa dana obligasi kembali sedikit lebih menarik setelah SBN 10Y naik ke 7,11 persen, tetapi preferensi tetap pada portofolio yang berfokus pada obligasi short-to-medium duration, dengan extension ke tenor panjang dilakukan bertahap karena volatilitas duration masih tinggi,” ujar Novani lewat keterangan pers, Rabu (9/9/2026).

Sementara itu, pada reksa dana saham, membaiknya aliran dana asing dan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memberikan ruang untuk mempertahankan eksposur pada saham-saham dengan fundamental berkualitas, khususnya saham berkapitalisasi besar dan likuid.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan potensi volatilitas dan dispersion yang meningkat.

Novani juga menilai reksa dana pasar uang masih memiliki peran penting sebagai liquidity anchor dalam portofolio.

Meski demikian, forward return reksa dana pasar uang berpotensi mengalami normalisasi apabila biaya likuiditas menurun ke depan namun tetap lebih menarik jika hanya ditempatkan di deposito perbankan.

Dengan kondisi tersebut, Novani menilai pendekatan yang lebih seimbang menjadi penting bagi investor.

Untuk investor dengan profil moderat, indikasi alokasi saat ini dapat berada pada 35 persen reksa dana pasar uang, 40 persen reksa dana pendapatan tetap, dan 25 persen reksa dana saham.

Komposisi tersebut bersifat indikatif dan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, kebutuhan likuiditas, serta horizon investasi masing-masing investor.

Tags

Terkini