Pesona Desa Wisata Prai Ijing Sumba Binaan Bakti BCA

Selasa, 08 September 2026 | 13:47:48 WIB
Menjelajah Prai Ijing. ( sumber : net )

KABUPATEN SUMBA BARAT - Bentangan bentang alam perbukitan di wilayah Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyimpan peninggalan budaya yang masih lestari sampai saat ini.

Salah satunya dapat dijumpai di Kampung Adat Prai Ijing, di Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, suatu kawasan yang menjaga tradisi, struktur rumah adat, beserta kearifan lokal warga Sumba.

Memasuki kampung ini, pelancong bakal disambut jajaran rumah adat beratap tinggi yang masyhur sebagai Umma Kalada.

Keramahan penduduk, rutinitas harian masyarakat, hingga deru alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dipakai para perajin turut menyajikan pengalaman berwisata yang autentik.

Sebagai salah satu Desa Bakti BCA, Kampung Adat Prai Ijing kini terus dikembangkan sebagai destinasi pelesiran berbasis komunitas.

Pengembangan tersebut tidak sekadar bertujuan mendongkrak kunjungan turis, melainkan pula menjamin aktivitas pariwisata menyumbangkan faedah langsung bagi warga sekaligus menopang pelestarian budaya.

Semenjak memperoleh pendampingan Bakti BCA pada 2024, Kampung Adat Prai Ijing membukukan eskalasi pendapatan hingga 26 persen pada pengujung 2025.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyatakan, pendampingan Bakti BCA diarahkan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan desa agar masyarakat dapat menjadi pelaku utama dalam mengelola potensi wilayahnya.

“Setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Melalui pendampingan dan pengembangan potensi lokal, BCA ingin mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam mengelola desanya,” jelas Hera dari Sumbernya.

Menurutnya, pengembangan potensi budaya dan pariwisata di Kampung Adat Prai Ijing diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Harapannya, potensi budaya dan pariwisata yang dimiliki Kampung Adat Prai Ijing dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap terjaga untuk generasi mendatang,” lanjut Hera dari Sumbernya.

Guna menyuguhkan pengalaman yang lebih terarah serta nyaman, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prai Ijing bersama Bakti BCA menyediakan dua opsi paket wisata bagi pengunjung.

Pertama, Prai Ijing Full Day Tour dengan durasi sekitar 6–8 jam.

Melalui tarif Rp430.000 per jiwa, pelancong sanggup mengikuti tur keliling kampung bersama pemandu lokal untuk mengenali arsitektur rumah adat dan sejarah desa.

Paket itu pun menawarkan pengalaman menjajal permainan tradisional, menikmati santapan siang bersama hidangan khas lokal, mengikuti workshop tenun, hingga berfoto mengenakan busana adat Sumba.

Nominal paket telah mencakup tiket retribusi, pemandu lokal, snack dan makan siang, workshop tenun, sewa pakaian adat, serta suvenir khas.

Bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas, tersedia Prai Ijing Heritage Tour dengan durasi maksimal tiga jam.

Melalui biaya Rp250.000 per jiwa, pelancong sanggup mengikuti tur sejarah kampung adat, menjajal workshop pembuatan kain tenun, menikmati snack lokal, mengikuti sesi foto mengenakan busana adat, serta memperoleh pendampingan pemandu lokal dan suvenir.

Tidak hanya menikmati panorama dan arsitektur tradisional, pengunjung pun sanggup berinteraksi langsung bersama kehidupan masyarakat Prai Ijing.

Salah satu kegiatan yang menarik untuk dicoba ialah permainan tradisional Kagorokana Alu, permainan ketangkasan memakai bambu yang merefleksikan keceriaan sekaligus spirit kebersamaan warga setempat.

Aktivitas lainnya adalah belajar menenun kain khas Sumba.

Lewat workshop ringkas, wisatawan sanggup menyaksikan sekaligus menjajal proses menata benang hingga melahirkan lembaran kain berhias motif dan tekstur khas.

Bagi warga setempat, giat pelesiran tersebut pun merintis peluang ekonomi baru.

Kehadiran wisatawan ikut menggerakkan berbagai sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai dari penyedia kuliner lokal, penyewaan busana adat, pemandu wisata, hingga perajin suvenir.

Pengalaman menjelajahi Prai Ijing pun sanggup diperpanjang dengan bermukim di rumah penduduk lewat paket homestay.

Melalui tarif Rp300 ribu per jiwa per malam, pelancong memperoleh fasilitas menginap sekaligus tiga kali makan.

Opsi tersebut sanggup menjadi alternatif bagi turis yang ingin merasakan atmosfer kampung adat secara lebih dekat, sekaligus berinteraksi bersama warga dan memahami kehidupan lokal dari sudut pandang penduduk.

Guna memperoleh pengalaman yang lebih optimal, wisatawan pun disarankan menggunakan jasa pemandu lokal, khususnya bagi mereka yang hendak memahami sejarah, filosofi rumah adat, serta bermacam tradisi yang terdapat di Prai Ijing.

Jangan lupa membawa perlengkapan dokumentasi.

Setiap sudut kampung, mulai dari rumah adat, aktivitas menenun, pakaian tradisional hingga lanskap perbukitan Sumba, menawarkan daya tarik visual yang sayang untuk dilewatkan.

Dengan perpaduan antara kekayaan budaya, aktivitas masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal, Kampung Adat Prai Ijing menunjukkan bahwa pariwisata dapat tumbuh tanpa harus meninggalkan akar tradisi.

Di tempat ini, budaya bukan sekadar tontonan bagi wisatawan, melainkan bagian dari kehidupan yang terus dirawat sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Tags

Terkini