Pasar Tertekan Kenaikan Minyak, IHSG dan Rupiah Kompak Melemah

Jumat, 04 September 2026 | 12:10:15 WIB
Illustrasi IHSG, Rupiah dan Emas. ( SUMBER : NET )

MEDAN - Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pelemahan mayoritas bursa saham di Asia turut menyeret kinerja IHSG pada perdagangan Rabu, 2 September 2026.

Tekanan pasar semakin kuat seiring kembali memanasnya tensi geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

IHSG ditutup melemah 0,06 persen di level 6.595,776.

Selama sesi perdagangan berlangsung, IHSG sempat terpuruk hingga level 6.561, meski sebelumnya mencapai posisi tertinggi di level 6.629.

“Kinerja IHSG mengalami tekanan sejalan dengan memburuknya sentimen pasar pada perdagangan hari ini.

Utamanya dipicu oleh kembali memanasnya tensi geopolitik yang telah menyulut kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar Gunawan dari Sumbernya.

Ia menyebutkan, pada sesi perdagangan sore harga minyak mentah dunia ditransaksikan di kisaran 94,8 dolar AS per barel.

Sementara itu, sejumlah indikator keuangan AS seperti USD Index mengalami kenaikan ke level 99,8.

Tekanan terhadap pasar juga diperkuat oleh kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang mencapai sekitar 4,8 persen.

Menurut Gunawan, kenaikan imbal hasil tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak.

“Kenaikan imbal hasil US Treasury telah memberikan gambaran bahwa pelaku pasar tengah mengkhawatirkan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak.

Tekanan jual pada obligasi AS sulit dihindarkan seiring dengan ekspektasi kenaikan imbal hasil pada surat utang AS,” kata Gunawan dari Sumbernya.

Selain IHSG, mata uang rupiah juga ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Rupiah berakhir di level Rp17.760 per dolar AS setelah selama sesi perdagangan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.780 per dolar AS.

Gunawan mengatakan, rupiah konsisten berada di zona merah seiring memburuknya sentimen yang memengaruhi pasar selama perdagangan berlangsung.

Penguatan USD Index dan kenaikan imbal hasil US Treasury turut memberikan tekanan terhadap mata uang rupiah.

Sementara itu, harga emas dunia justru masih mampu bertahan dengan pergerakan yang relatif stabil.

Pada sesi perdagangan sore, harga emas ditransaksikan di kisaran 4.308 dolar AS per troy ounce atau sekitar Rp2,47 juta per gram.

Menurut Gunawan, perkembangan pasar keuangan dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan pergerakan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga minyak berpotensi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter global.

Tags

Terkini