Pasar Keuangan Domestik Menguat Ditopang Derasnya Capital Inflow

Jumat, 04 September 2026 | 12:10:15 WIB
Illustrasi IHSG, Minyak, Rupiah dan Emas. ( SUMBER : NET )

MEDAN - Derasnya capital inflow melalui pasar obligasi menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan pasar keuangan domestik pada perdagangan Kamis, 3 September 2026.

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan pada pasar obligasi global, serta tensi geopolitik yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.

Gunawan menjelaskan, tekanan jual pada pasar obligasi masih berlanjut.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun sempat menyentuh level 4,8 persen.

Meskipun pada sesi perdagangan waktu Asia berada di kisaran 4,78 persen atau masih lebih tinggi dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.

Sementara itu, kinerja USD Index terpantau melemah ke kisaran 99,5.

Pelemahan tersebut memberikan sentimen positif terhadap mata uang Rupiah.

“Untuk pasar keuangan domestik, derasnya capital inflow lewat pasar obligasi menjadi pendorong penguatan kinerja sektor keuangan tanah air,” ujar Gunawan dari Sumbernya.

Pada sesi pembukaan perdagangan Kamis pagi, IHSG ditransaksikan menguat ke level 6.632.

Penguatan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa saham di Asia yang bergerak positif.

Gunawan menilai IHSG masih berpeluang bertahan di zona hijau selama sesi perdagangan berlangsung.

Bahkan, peluang untuk menguji level psikologis 6.700 masih terbuka.

Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

Harga minyak mentah jenis Brent pada perdagangan pagi berada di kisaran 95,6 dolar AS per barel.

“Kenaikan harga minyak mentah ke level 95,6 dolar AS per barel menambah kekhawatiran pasar akan kemungkinan tekanan lebih lanjut.

Tensi geopolitik masih belum menunjukkan adanya gejala untuk mereda,” kata Gunawan dari Sumbernya.

Menurut Gunawan, kondisi geopolitik masih menjadi salah satu sumber risiko bagi pasar keuangan.

Amerika Serikat masih memberikan indikasi akan melakukan serangan lebih lanjut, sementara Iran juga aktif melakukan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap pasar keuangan global, terutama apabila konflik berkembang menjadi lebih luas.

Di tengah kondisi tersebut, mata uang rupiah pada sesi perdagangan pagi ditransaksikan menguat ke level 17.695 per dolar AS.

Penguatan rupiah ditopang oleh pelemahan USD Index serta arus modal yang masuk ke sistem keuangan domestik.

Gunawan menilai rupiah masih rawan mengalami tekanan apabila tensi geopolitik kembali meningkat.

Meski demikian, selama arus modal masuk tetap terjaga dan USD Index masih berada dalam tren melemah, rupiah berpeluang mempertahankan penguatannya.

“Rupiah diuntungkan dari memburuknya kinerja USD Index serta capital inflow yang masuk ke sistem keuangan tanah air.

Meskipun rawan untuk mengalami tekanan, baik IHSG dan Rupiah berpeluang mampu bertahan di zona hijau,” ujar Gunawan dari Sumbernya.

Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan pagi ditransaksikan menguat ke level 4.410 dolar AS per ons troy atau sekitar 2,53 juta rupiah per gram.

Gunawan mengatakan, penguatan harga emas tersebut terjadi meskipun kenaikan harga minyak mentah dunia pada dasarnya bukan merupakan sentimen yang menguntungkan bagi emas.

“Sentimen teknikal disinyalir sebagai salah satu faktor pemicu kenaikan harga emas saat ini,” kata Gunawan dari Sumbernya.

Tags

Terkini