BRI Peduli Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Gempa NTT

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:57:59 WIB
BRI Peduli. ( sumber : net )

KUPANG - Pascagempa bumi yang mengguncang Flores Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah warga masih bertahan di posko pengungsian.

Meski kondisi berangsur membaik, rasa trauma membuat sebagian warga belum berani kembali ke rumah.

Di tengah kondisi ini, BRI Peduli bersama Danantara turut hadir menyalurkan bantuan logistik mulai dari sembako, obat-obatan, pampers, hingga kebutuhan anak-anak.

Di wilayah Nagekeo Nusa Tenggara Timur, tim logistik BRI Peduli menyambangi sejumlah posko pengungsian.

Bantuan yang dibawa tidak hanya berupa kebutuhan pokok.

Tim terlebih dahulu memetakan kebutuhan warga di lapangan agar logistik yang disalurkan sesuai dengan kondisi para pengungsi mulai dari makanan dan minuman, obat-obatan, hingga kebutuhan khusus bagi lansia dan anak-anak.

“Kami ditugasi oleh Kantor Pusat untuk melakukan distribusi dan membantu saudara-saudara kita di NTT, khususnya kami di sini bertugas di wilayah Nagekeo, tapi jangkauan kami sampai ke Kabupaten Ngada dan terus ke bawah ke arah Ende, yang mana terutama untuk teman-teman yang terkena bencana dan yang prioritas yang mengalami rusak berat dan korban tsunami, seperti inilah teman-teman lihat di belakang kami ini.” kata dari Sumbernya, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Minggu, 30 Agustus 2026.

Bagi tim BRI Peduli, kebutuhan masyarakat di lokasi bencana tidak selalu sama.

Karena itu, selain sembako, bantuan juga mencakup mainan untuk anak-anak, popok untuk lansia, obat-obatan, dan perlengkapan khusus lainnya.

Bantuan ini kemudian diterima warga yang masih bertahan di sejumlah posko.

Salah satunya San yang mengungsi bersama keluarga besarnya.

Di posko ini, ia mengatakan ada puluhan keluarga yang memilih bertahan bersama, bukan semata-mata karena tidak memiliki tempat untuk pulang, namun karena rasa takut masih membayangi mereka.

“Untuk saat ini kami mengungsi di sini bukan karena apa tapi karena ketakutan terlalu berlebihan, orang tua-orang tuanya takut toh karena posisi tanggal hari Sabtu itu waktu kejadian tanggal 15 itu tuh banyak yang hampir kena tindih batu, makanya trauma sekali makanya ambil keputusan untuk mengungsi di maluruma di sini di tempat di sini di base camp di sini.” ucap dari Sumbernya.

Bagi San dan warga lainnya, berkumpul di posko menjadi cara untuk saling menjaga, terutama ketika para orang tua dan anak-anak masih diliputi kekhawatiran jika harus kembali ke rumah.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan logistik menjadi penopang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi warga, bantuan yang datang bukan sekedar logistik untuk bertahan hidup.

Di tengah trauma dan ketidakpastian, kehadiran mereka yang datang membantu menjadi pengingat bahwa para pengungsi tidak sendirian.

Sebab pemulihan pasca bencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah, tetapi juga mengembalikan rasa aman dan keyakinan masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan.

Tags

Terkini