PALU - Bank Indonesia (BI) bertekad menstimulasi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Tengah (Sulteng) agar naik kelas via kegiatan pembinaan.
"UMKM memiliki peran strategis dalam menggerakkan aktivitas ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna di Palu, Kamis.
Ia membeberkan bermacam-macam pembinaan bagi pelaku usaha mikro mencakup eskalasi kapasitas beserta mutu produk, penguatan daya saing, digitalisasi, serta perluasan akses pasar ataupun pembiayaan, termasuk menyertakan UMKM yang telah mapan di dalam agenda Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta.
Di tingkat lokal KKI pun dieksekusi lewat bermacam-macam program, mencakup program transformasi serta kurasi UMKM Sulawesi Tengah (Potomu Sulteng), Semarak Sulteng Nambaso, pendampingan dan pelatihan UMKM wastra dan barista, serta Posalia atau pesta rakyat Sulteng Digifest.
Satu dari sekian UMKM binaan Bank Indonesia yang ikut serta berpartisipasi dalam KKI 2026 ialah Febry Ferry Fabry (FFF), pelaku usaha mode asal Kota Palu yang telah merangsek pasar global lewat partisipasi di dalam bermacam-macam ajang fashion show internasional.
"Kami memiliki 100 lebih UMKM binaan yang terus digodok supaya mereka semakin profesional menjalankan usaha untuk bersaing di pasar lebih luas," ujarnya.
Berdasar keterangannya, sejalan dengan ikhtiar penguatan daya saing, digitalisasi menjelma satu di antara fokus pengembangan UMKM binaan KPwBI.
Pemanfaatan kanal pembayaran digital lewat QRIS sekalian perluasan pemasaran secara daring terus dikuatkan guna mendongkrak efisiensi transaksi, sekalian memperluas cakupan konsumen.
Berdasar data Bank Indonesia pemakai QRIS di Sulteng sampai Juni 2026 menggapai 409,32 ribu pemakai atau menaik 17,83 persen (yoy), termasuk merchant QRIS di provinsi itu pun terus menaik menjadi 346 ribu merchant.
Sedangkan dari sisi transaksi QRIS sampai Juni 2026 menggapai 47,53 juta transaksi atau menaik 236 persen secara tahunan (yoy).
"Kami ingin praktik usaha UMKM di daerah ini semakin maju dan memiliki tata kelola keuangan yang baik, maka intervensi berbagai program merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk menciptakan inkulisivitas," tutur Irfan.