JAKARTA - Harga emas dunia melonjak lebih dari 5 persen sepanjang pekan ini, mencatatkan kenaikan mingguan ketiga secara beruntun.
Penguatan harga emas didorong pelemahan dollar Amerika Serikat (AS) serta sinyal teknikal bullish setelah harga emas menembus sejumlah level teknikal penting.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 2,4 persen menjadi 4.623,94 dollar AS per troy ounce pada akhir perdagangan Jumat (21/8/2026) waktu setempat.
Harga emas sempat menyentuh 4.631,99 dollar AS per troy ounce, yang merupakan level tertinggi sejak 15 Mei 2026.
Secara mingguan, harga emas spot telah naik lebih dari 5 persen.
Kenaikan tersebut juga membawa emas menuju penguatan mingguan ketiga berturut-turut.
Sementara itu, harga emas berjangka AS naik 2,4 persen dan ditutup pada 4.680,60 dollar AS per troy ounce.
Harga emas juga telah berada di atas sejumlah rata-rata pergerakan utama.
Emas menembus moving average 200 hari yang berada di sekitar 4.513 dollar AS per troy ounce.
"Faktor besarnya tentu saja adalah teknikal. Langkah berikutnya adalah 4.700 dollar AS jika momentum ini berlanjut, tetapi menurut saya penguatan ini juga sangat didorong oleh penurunan dollar AS," ujar Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek.
Dollar AS berada di dekat level terendah sejak pertengahan Mei 2026.
Investor mempertanyakan apakah upaya Departemen Keuangan AS untuk menenangkan pasar obligasi justru dapat mengurangi kepercayaan terhadap mata uang tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Kamis (20/8/2026) bahwa pemerintah dapat memperluas pembelian kembali obligasi pemerintah AS (Treasury buyback).
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana menggandakan pembelian kembali surat utang bertenor lebih panjang.
Pelemahan dollar AS cenderung membuat emas lebih menarik bagi investor, karena harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Selain pelemahan dollar AS, permintaan terhadap opsi beli emas (gold call option) juga meningkat tajam seiring kembali meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai (safe haven) dari risiko kebijakan makroekonomi global.
Goldman Sachs menyebut kenaikan permintaan tersebut dapat memperbesar pergerakan harga emas, baik ke arah kenaikan maupun penurunan.
Goldman Sachs juga mencatat keyakinan pasar terhadap kenaikan suku bunga AS melemah setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli dan data ekonomi AS menunjukkan pelemahan.
Kondisi tersebut kembali mendorong minat spekulatif terhadap emas di bursa COMEX serta meningkatkan permintaan terhadap produk exchange-traded fund (ETF) emas yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Di pasar fisik, kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir mulai menekan minat pembelian ritel di India.
Sementara itu, permintaan emas di China, salah satu konsumen emas terbesar dunia, masih relatif stabil.
Bank sentral Polandia juga memperlambat pembelian emas menjadi 7,8 ton pada Juli 2026, berdasarkan data yang dirilis pada Jumat (21/8/2026).
Meski telah menguat lebih dari 5 persen dalam sepekan, harga emas masih berada sekitar 1.000 dollar AS di bawah rekor tertingginya.
Harga emas sempat mencapai rekor 5.594,82 dollar AS per troy ounce pada 29 Januari 2026.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7.
Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi.