Otonomi Bank Indonesia Dianggap Fondasi Utama Jaga Stabilitas Rupiah

Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:34 WIB
Ekonom Center of Economic and Law Studies. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Pakar dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat bahwa otonomi Bank Indonesia (BI) berperan sebagai pertahanan paling akhir dalam memelihara stabilitas ekonomi negara.

“Ketika fiskal kami ini buruk pengelolaannya … seharusnya ada pengawal terakhir yang itu dipegang oleh otoritas moneter yang tidak boleh diintervensi siapa pun dan apa pun,” ucap Nailul dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Nailul, otonomi BI krusial supaya bank sentral bisa melaksanakan peran memelihara stabilitas moneter beserta nilai tukar tanpa adanya tekanan dari kepentingan kebijakan fiskal pemerintah.

Ia menuturkan riwayat banyak negara memperlihatkan bahwa ketergantungan bank sentral kepada pemerintah dapat memicu masalah saat kebijakan moneter dipakai demi memenuhi kebutuhan fiskal.

Nailul menerangkan penguatan otonomi bank sentral merupakan salah satu pelajaran berharga dari beragam krisis ekonomi yang berlangsung sejak era setelah Perang Dunia.

Menurut ia, pada masa tersebut beberapa bank sentral masih di bawah kendali pemerintah lantaran diperlukan guna mendukung pendanaan pembangunan serta perbaikan ekonomi sesudah perang.

Akan tetapi, sejarah inflasi tinggi lalu memicu pergantian sudut pandang menuju bank sentral yang lebih mandiri.

Indonesia, tutur ia, pun merasakan pergantian itu sesudah krisis ekonomi 1997-1998.

Penebalan otonomi BI selanjutnya dimuat melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang kemudian menerima revisi pada 2004.

Nailul berpandangan otonomi itu kian vital sejalan dengan terbukanya lalu lintas modal.

Menurut ia, saat lalu lintas modal dapat mengalir keluar-masuk secara gesit, bank sentral memerlukan kredibilitas guna memelihara stabilitas moneter beserta nilai tukar.

Ia pun memperingatkan bahaya jika kebijakan moneter terlalu difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fiskal pemerintah.

Situasi tersebut, menurut ia, bisa memicu kecemasan pasar terhadap kredibilitas kebijakan serta pada akhirnya mendorong lalu lintas modal ke luar.

Lebih jauh, Nailul memperingatkan bahwa tekanan fiskal yang tidak diatur secara benar pun bisa berdampak pada kepercayaan terhadap rupiah.

Ketika kepercayaan terhadap mata uang dalam negeri merosot, publik maupun penanam modal bisa memindahkan asetnya ke mata uang asing sehingga memperbesar tekanan terhadap nilai tukar.

Ia berharap pimpinan BI nantinya tetap sanggup memelihara otonomi bank sentral dari tekanan pemerintah atau kepentingan kebijakan dalam jangka singkat.

Tags

Terkini

Kelolaan Emas Pegadaian Lampaui Target Jadi 153 Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:35 WIB

Kelolaan Emas Bullion Bank Pegadaian Tembus 153 Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:35 WIB