Rupiah Menguat 0,48%, Dolar AS Terkoreksi ke Rp17.740

Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:50:32 WIB
Dolar AS Turun ke Rp17.740. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Rupiah tampil dominan saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan kali ini.

Mata uang Garuda ini meneruskan tren positifnya sejalan dengan pelemahan dolar di pasar dunia.

Berdasarkan data Refinitiv, saat penutupan perdagangan Kamis (20/8/2026), rupiah menguat 0,48% menjadi Rp17.740/US$.

Peningkatan ini memperpanjang catatan apik rupiah selama dua hari transaksi berturut-turut.

Pada Rabu (19/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,14% menuju level Rp17.825/US$.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang membandingkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,08% ke angka 98,760.

Penurunan ini meneruskan tekanan dari hari sebelumnya, ketika DXY ditutup terperosok 0,83%.

Indeks dolar pun bertengger di sekitar titik terendahnya dalam tiga bulan belakangan.

Rupiah mendapatkan dorongan positif dari pelemahan dolar AS setelah otoritas Negeri Paman Sam menyatakan rencana untuk menenangkan volatilitas di pasar obligasi.

Departemen Keuangan AS berencana melipatgandakan kegiatan pembelian kembali obligasi berjangka panjang untuk menjaga likuiditas pasar.

Kebijakan ini muncul setelah aksi jual membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh 5,337%, angka tertinggi sejak 2007.

Pasca pengumuman tersebut, imbal hasil berangsur turun ke sekitar 5,184%.

Menurunnya imbal hasil menekan daya tarik aset berbasis dolar dan memberi celah bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk terapresiasi.

Walau begitu, pelaku pasar terus memperhatikan risalah rapat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang memperlihatkan beberapa pejabat masih membuka ruang kenaikan suku bunga jika inflasi belum kembali mencapai target 2%.

Sementara itu, keputusan Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan BI Rate di posisi 5,75% ikut memberi kepastian kepada pasar mengenai arah kebijakan moneter.

Gubernur sementara BI dari Sumbernya menegaskan nilai tukar rupiah ke depan diprediksi terus stabil seiring usaha bank sentral memaksimalkan instrumen moneternya.

"BI menempuh strategi menjaga stabilitas nilai tukar. Ke depan nilai tukar stabil didukung penguatan stabilisasi BI," kata dari Sumbernya, Rabu (19/8/2026).

Tags

Terkini