Kisah Juang Mantri BRI Melayani Warga di Kepulauan Wakatobi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:50:16 WIB
Dedikasi Mantri BRI untuk Masyarakat Wakatobi. ( SUMBER : NET )

WAKATOBI - Pada gugusan Kepulauan Wakatobi, suatu kawasan yang termasyhur secara global berkat panorama bawah lautnya, tersimpan sebuah cerita perjuangan.

Di balik ketenteraman air lautnya, tersaji hambatan riil bagi pihak yang mengemban tugas mengawal perputaran roda perekonomian di beranda nusantara.

Salah satu sosok tersebut ialah Wa Ode Sitti Rahmatiah Jufri, atau yang kerap disapa Titin, seorang Mantri BRI dari Unit Wangi-Wangi, Kantor Cabang BRI Baubau.

Berperan sebagai seorang Mantri, dirinya bertindak sebagai garda terdepan literasi serta inklusi keuangan bagi warga.

Semenjak dipindahtugaskan pada Januari 2024, Titin wajib menerima kenyataan bahwa daerah operasionalnya bukan sekadar daratan, melainkan mencakup sembilan desa di Pulau Kaledupa yang harus dijangkau lewat pelayaran melintasi samudera luas dari pusat kabupaten, Wangi-Wangi.

Mobilitas rutin Titin dari kantor di Wangi-Wangi menuju wilayah tugasnya di Kaledupa merupakan sebuah kisah tentang keteguhan hati.

Dalam situasi normal, perjalanan mempergunakan perahu fiber ataupun speedboat menghabiskan durasi kira-kira 1 jam 40 menit.

Akan tetapi, tatkala cuaca bersikap tidak ramah, perlintasan tersebut sanggup berubah menjadi lebih dari dua jam di tengah terjangan gelombang tinggi.

“Salah satu pengalaman yang paling melekat dalam ingatan saya adalah saat ia harus menyeberang pada musim ombak besar sekitar bulan Januari atau Februari. Saat itu, cuaca mendadak gelap dan tidak ada satu pun kapal reguler yang berani mengambil risiko untuk menyeberang. Namun, karena komitmen saya terhadap nasabah, saya harus mencari cara lain untuk pulang. Akhirnya, kami menyewa 'body batang' (perahu kecil bermesin) milik suku Bajo," kenang Titin dari Sumbernya.

Bersama lima orang pendamping lain, sehingga totalnya menjadi enam jiwa yang terdiri dari tiga perempuan serta tiga pria, ia nekat menerjang samudra yang kala itu sedang mengamuk.

Di tengah perairan, mereka berhadapan langsung dengan gulungan ombak setinggi empat meter.

"Lailahaillallah, itu kalau kami sudah di atas ombak, kami lihat ke bawah itu tinggi sekali. Kami dikasih naik, lalu turun lagi ke bawah, dan sekeliling kami itu cuma ada air," tuturnya dari Sumbernya menggambarkan situasi mencekam tersebut.

Rute yang semestinya singkat justru membengkak hingga hampir tiga jam lamanya.

Mereka mendarat di Wangi-Wangi ketika senja menjelang magrib dengan pakaian basah kuyup, kepayahan, namun tetap bersyukur lantaran dilindungi keselamatan.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi Titin bahwa profesinya tidak sekadar berkutat pada angka, melainkan menyangkut pertaruhan jiwa demi mendedikasikan pelayanan kepada publik.

Ia mengisahkan, dorongan terbesar Titin bertahan pada kawasan penuh rintangan tersebut adalah niat kuat untuk menolong sesama.

Titin menyadari sepenuhnya bahwa perekonomian masyarakat kepulauan sangat bertumpu pada kekayaan alam.

Di Kaledupa, mayoritas penduduk menyandarkan penghidupan mereka dari komoditas rumput laut dan kopra.

Tags

Terkini