Pengaruh BI Rate 5,75% ke Bunga KPR Menurut BI Sumut

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:50:14 WIB
Bunga KPR. ( SUMBER : NET )

MEDAN - Kebijakan Bank Indonesia dalam mengerek suku bunga acuan ke posisi 5,75% sempat mendatangkan rasa cemas bagi publik, utamanya para nasabah KPR aktif di wilayah Sumut.

Mereka menduga situasi itu menjadikan cicilan KPR bakal melonjak tajam.

Merespons situasi itu, pihak sentral menyatakan bahwa pengaruh kebijakan tersebut terhadap tingkat bunga kredit di bank tidak langsung berubah seketika.

Mereka menyatakan terdapat jeda masa sebelum pihak bank melakukan penyesuaian bunga KPR.

"Biasanya transmisi dari suku bunga kepada lending itu memiliki jeda waktu cukup lebar, biasanya 2-3 triwulan," ungkap Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Iman Gunadi kepada Sumbernya, Senin (10/8/2026).

Maksudnya, dampak dari lonjakan suku bunga tidak dapat langsung nampak pada fase awal pemberlakuan melainkan perlu durasi guna memantau pengaruhnya secara utuh pada bidang perumahan.

Di sisi lain, Iman menerangkan bahwa pihak bank sentral telah menyiapkan format tertentu agar kalangan perbankan tidak bimbang dalam mengalirkan dana KPR.

Otoritas moneter memperlebar rentang suku bunga simpanan di angka 4,75% dan suku bunga pinjaman pada posisi 6,50%.

Berdasarkan keterangan Iman, cara ini ditempuh agar institusi perbankan tidak tertarik menanamkan dana nganggur pada bank sentral, melainkan menyalurkannya kembali kepada publik berupa pembiayaan hunian serta modal kerja.

"Bunga ke bawah sengaja dibuat lebih rendah agar minat perbankan untuk menaruh uang di Bank Indonesia berkurang," ujarnya.

Sempat bikin warga pemegang KPR merasa cemas, pejabat tersebut memastikan bahwa kondisi industri perbankan tetap berada dalam batas terkendali.

Dia menyampaikan potensi pembiayaan macet pada sektor properti masih jauh dari batas kritis.

Besaran Non-Performing Lending atau tingkat risiko kredit macet terpantau berada di angka 1,9%, jauh di bawah batas aman 5%.

Sedangkan nilai NPL net berada pada kisaran stabil antara 1,1% sampai 1,2%.

"Bank memiliki tingkat keamanan yang tinggi, risiko NPLnya sangat rendah. Ruang untuk ekspansi kredit masih sangat besar guna menopang pertumbuhan ekonomi ke depan," ucapnya.

Tags

Terkini