Pertumbuhan Kredit Paylater Perbankan Capai 33,54 Persen di Juni

Rabu, 05 Agustus 2026 | 11:23:08 WIB
Ilustrasi Bank Mandiri. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan posisi baki debit kredit buy now pay later (BNPL) atau paylater dunia perbankan menembus angka Rp30,71 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 33,54 persen secara tahunan (year on year/yoy) per Juni 2026.

Besaran persentase tersebut sedikit mengalami perlambatan apabila disandingkan dengan laju pertumbuhan bulan Mei 2026 yang menyentuh 37,72 persen.

Kendati laju kenaikannya melambat, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menuturkan bahwa kelompok bank berlandaskan modal inti (KBMI) 1 serta KBMI 3 membukukan peningkatan pembiayaan paylater dalam level dua digit.

“Pertumbuhan baki debet pay later didorong terutama oleh bank KBMI 1 dan KBMI 3 yang mampu mencatat pertumbuhan double digit,” kata Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK bulan Juli 2026, Jakarta, Selasa (4/8/2026) dari Sumbernya.

Dian memaparkan, persentase porsi kredit paylater terhadap keseluruhan total pinjaman perbankan masih tergolong kecil, yakni sekadar menyentuh angka 0,34 persen.

Lebih mendalam, Dian membeberkan bahwa total kepemilikan rekening paylater perbankan menggapai jumlah 32,80 juta rekening sampai dengan kurun waktu Juni 2026.

Besaran rata-rata baki debit pada masing-masing rekening tercatat senilai Rp940.000.

Ditinjau dari segi mutu pembiayaan, Dian menyatakan bahwa tingkat kerawanan kredit paylater senantiasa berada pada posisi yang terkendali.

Angka perbandingan kredit macet atau non-performing loan (NPL) terpantau di level 2,36 persen pada Juni 2026, yang mana membaik sekiranya dibandingkan bulan Mei 2026 yang berada pada posisi 2,50 persen.

Dian menggarisbawahi, pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap usaha perbankan demi menyediakan fasilitas peruntukan dana yang aman serta praktis bagi kalangan warga lewat beragam inovasi produk beserta layanan yang selaras dengan kapasitas serta kapabilitas masing-masing bank.

“Kami memandang bahwa pay later perbankan masih memberikan prospek yang baik seiring dengan berkembangnya ekosistem ekonomi digital dan kemudahan akses yang ditawarkan oleh platform fintech dan juga e-commerce,” tuturnya dari Sumbernya.

Dian menerangkan, fasilitas layanan paylater memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan suntikan dana konsumtif masa dekat melalui tahapan seleksi kredit berlandaskan informasi data yang dikerjakan oleh pihak pengelola jasa yang bermitra bersama perbankan dengan senantiasa mendahulukan asas kehati-hatian serta pengaturan risiko.

Pihaknya menilai unsur kepraktisan, kecepatan, serta keefisienan tahapan otorisasi menjadikan paylater bertindak sebagai salah satu opsi alternatif pembiayaan yang kian digandrungi manakala disandingkan dengan instrumen pinjaman konsumtif alternatif, contohnya kartu kredit.

“Kemudian juga perilaku konsumsi masyarakat khususnya generasi muda itu menunjukkan kecenderungan menjadikan cicilan berbunga jangka pendek itu sebagai bagian dari gaya hidup,” tuturnya dari Sumbernya.

Dian mengutarakan, perkembangan paylater dari sudut pandang tinjauan makroekonomi bertindak sebagai cerminan atas ikhtiar khalayak dalam mencukupi keperluan hidup memakai kredit paylater sebagai bentuk tanggungan masa dekat.

“Dari perspektif ekonomi makro meningkatnya penggunaan kredit pay later dapat mencerminkan upaya rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi utang jangka pendek melalui layanan digital menjadi salah satu solusi legitimasi yang cepat diakses oleh masyarakat,” pungkasnya dari Sumbernya.

Tags

Terkini