Asing Lanjut Beli Bersih, IHSG Melesat Ditopang Saham Bank

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:14:44 WIB
IHSG terus bangkit. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Investor asing melanjutkan aksi beli bersih di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (30/07/2026).

Dana asing mulai mengalir kembali ke sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama saham-saham perbankan, sehingga mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 94,977 poin atau 1,56% ke level 6.186,363.

Berdasarkan IDX Daily Statistics edisi Kamis (30/7/2026), yang merupakan hari perdagangan ke-134 sepanjang 2026, IHSG dibuka dari posisi sebelumnya 6.091,386.

Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di antara level terendah 6.106,546 dan tertinggi 6.186,363, yang sekaligus menjadi posisi penutupan.

Penguatan tajam IHSG terutama ditopang saham-saham bank besar.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,79% dan memberikan kontribusi 15,44 poin terhadap kenaikan indeks.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 2,40% dengan kontribusi 10,22 poin, sedangkan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 1,71% dan menyumbang 5,71 poin.

Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga menguat 2,60% dan menambah 2,97 poin terhadap IHSG.

Kenaikan saham-saham bank besar tersebut memperlihatkan mulai munculnya kembali minat investor terhadap sektor perbankan setelah saham sektor ini mengalami koreksi cukup dalam sejak awal tahun.

Selain saham bank, penguatan indeks ditopang saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang melonjak 4,30% dan memberikan kontribusi 10,15 poin.

Saham PT Siloam International Hospitals Tbk atau SRAJ naik 5,45%, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 3,07%, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 1,02%, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) melesat 6,12%, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) meningkat 3,80%.

Di sisi lain, kenaikan IHSG tertahan oleh pelemahan beberapa saham berkapitalisasi besar.

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 1,52% dan mengurangi indeks 1,93 poin.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merosot 4,09%, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melemah 0,62%, PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) turun 2,63%, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) melemah 1,02%.

Saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) turun 3,10%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 1,52%, PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) turun 0,54%, PT Astra International Tbk (ASII) melemah 0,20%, dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) turun 2,50%.

Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 262,93 miliar, atau sekitar US$ 14,54 juta, pada perdagangan Kamis.

Aksi beli bersih ini melanjutkan kecenderungan masuknya kembali dana asing ke pasar saham domestik setelah sehari sebelumnya investor asing juga membukukan pembelian bersih dalam jumlah besar.

Meski demikian, secara kumulatif sejak awal tahun atau year-to-date (ytd), investor asing masih mencatatkan net sell Rp71,737 triliun, setara sekitar US$3,968 miliar.

Berkurangnya akumulasi penjualan bersih asing memperlihatkan bahwa tekanan arus keluar modal mulai mereda.

Kembali masuknya dana asing ke saham perbankan juga menjadi sinyal awal bahwa investor mulai melihat valuasi saham bank Indonesia semakin menarik setelah mengalami koreksi panjang.

Aktivitas perdagangan saham mencapai volume 29,706 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp 12,921 triliun, setara sekitar US$ 715 juta.

Frekuensi perdagangan mencapai 1,741 juta kali.

Namun, nilai transaksi tersebut masih berada di bawah rata-rata harian sepanjang 2026.

Secara ytd, rata-rata volume perdagangan harian tercatat 39,524 miliar saham, dengan rata-rata nilai transaksi Rp22,543 triliun dan frekuensi rata-rata 1,307 juta kali.

Penguatan IHSG mengangkat total kapitalisasi pasar BEI menjadi Rp10.812 triliun, setara sekitar US$ 598 miliar berdasarkan kurs Bank Indonesia Rp 18.078 per dolar AS.

Kapitalisasi pasar IHSG berdasarkan perhitungan free-float adjusted tercatat Rp2.691 triliun atau sekitar US$149 miliar.

BBCA masih menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, yakni Rp787 triliun atau setara 7,28% dari total kapitalisasi pasar.

Posisi kedua ditempati PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan kapitalisasi pasar Rp456 triliun atau 4,22%.

BBRI berada di posisi ketiga dengan kapitalisasi Rp449 triliun atau 4,15%, disusul BREN senilai Rp435 triliun atau 4,02%, dan BYAN sebesar Rp403 triliun atau 3,72%.

BMRI berada di posisi keenam dengan kapitalisasi pasar Rp384 triliun atau 3,56%.

Berikutnya adalah PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) Rp297 triliun atau 2,75%, AMMN Rp289 triliun atau 2,67%, TLKM Rp264 triliun atau 2,45%, serta ASII Rp200 triliun atau 1,85%.

Secara keseluruhan, sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut menguasai sekitar 36,67% kapitalisasi pasar BEI.

TPIA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp1,164 triliun atau 9,01% dari seluruh transaksi saham.

Namun, saham-saham bank menempati posisi dominan berikutnya.

Nilai transaksi BBCA mencapai Rp976 miliar atau 7,55% dari total transaksi.

BBRI mencatatkan nilai transaksi Rp656 miliar atau 5,08%, sedangkan BMRI mencapai Rp430 miliar atau 3,33%.

Saham lain yang masuk sepuluh besar nilai transaksi adalah BACH sebesar Rp464 miliar, TLKM Rp453 miliar, BUMI Rp363 miliar, BUVA Rp328 miliar, AMMN Rp285 miliar, serta BULL Rp283 miliar.

Dari sisi volume, saham DOOH menjadi yang paling aktif dengan volume 4,242 miliar saham atau 14,28% dari total volume perdagangan.

Berikutnya BNBR sebanyak 2,357 miliar saham, BUMI 2,230 miliar saham, KOTA 1,672 miliar saham, dan MDIA 1,532 miliar saham.

Lima saham lainnya dalam daftar volume terbesar adalah PADI sebanyak 980 juta saham, BULL 661 juta saham, BACH 640 juta saham, BIPI 588 juta saham, dan TPIA 547 juta saham.

Berdasarkan frekuensi, TPIA menjadi saham paling aktif dengan 80.932 kali transaksi.

KOTA ditransaksikan sebanyak 65.980 kali, MDIA 63.318 kali, BNBR 54.658 kali, dan BACH 54.099 kali.

Selanjutnya, BULL ditransaksikan 38.186 kali, BUMI 36.041 kali, BBCA 29.761 kali, BBRI 28.152 kali, dan DEWA 26.142 kali.

Rata-rata rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio (PER) pasar berada di level 12,71 kali, sedangkan rasio harga terhadap nilai buku atau price-to-book value (PBV) tercatat 1,64 kali.

Valuasi tersebut tergolong semakin menarik setelah IHSG terkoreksi 28,46% sejak awal tahun.

Penurunan indeks yang jauh lebih dalam dibandingkan penurunan fundamental sebagian besar emiten membuat sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya bank, diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.

Dari 963 saham yang tercatat di BEI, sebanyak 171 saham menguat, terdiri atas 55 saham yang naik lebih dari 2% dan 116 saham yang naik antara 0% hingga 2%.

Sebanyak 281 saham tidak berubah.

Sementara itu, 511 saham mengalami penurunan, terdiri atas 249 saham yang turun hingga 2% dan 262 saham yang turun lebih dari 2%.

Meski jumlah saham yang turun lebih banyak, kenaikan terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Berdasarkan kapitalisasi pasar, saham yang menguat lebih dari 2% mewakili Rp2.245 triliun atau 21% kapitalisasi pasar.

Saham yang naik hingga 2% mewakili Rp848 triliun atau 8%.

Saham yang stabil mencakup kapitalisasi Rp3.519 triliun atau 33%, sedangkan saham yang turun hingga 2% mewakili Rp3.699 triliun atau 34%.

Saham yang merosot lebih dari 2% hanya mencakup sekitar Rp502 triliun atau 5% kapitalisasi pasar.

Saham PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) menjadi pencetak kenaikan tertinggi dengan melonjak 34,65% dari Rp127 menjadi Rp171.

Saham MDIA naik 34,62% dari Rp130 menjadi Rp175, sedangkan TIFA meningkat 25% dari Rp256 menjadi Rp320.

Saham KJEN naik 22,22%, NICK melonjak 21,67%, KOTA menguat 20,80%, BAJA naik 20,42%, DOSS meningkat 19,40%, JSPT naik 15,94%, dan KDTN menguat 15,60%.

Sebaliknya, saham BLUE menjadi pencetak penurunan terdalam dengan melemah 8,70% dari Rp2.760 menjadi Rp2.520.

AKSI turun 6,56%, HELI melemah 6,22%, ZONE turun 6,21%, dan GMTD melemah 6,01%.

Saham ASLC turun 5,97%, MCAS melemah 5,80%, AISA turun 5,47%, KOPI melemah 5,45%, dan ECII turun 5,23%.

Kenaikan IHSG diikuti seluruh indeks utama BEI.

Indeks LQ45 meningkat 2,03% menjadi 618,857, tetapi masih terkoreksi 26,90% secara ytd.

IDX30 naik 2,11% ke 348,586 dan masih turun 20,28% sejak awal tahun.

IDX80 meningkat 1,94% ke 92,785, tetapi secara ytd masih melemah 30%.

IDX SMC Composite menguat 2% menjadi 388,268, sedangkan IDX SMC Liquid naik 2,30% ke 297,686.

IDX High Dividend 20 meningkat 1,76%, IDX BUMN20 naik 2,04%, IDX Value30 menguat 1,78%, dan IDX Growth30 melonjak 2,53%.

IDX Quality30 naik 2,06%, IDX ESG Leaders menguat 1,97%, IDX LQ45 Low Carbon Leaders meningkat 1,87%, dan IDX Cyclical Economy 30 naik 2,19%.

Indeks KOMPAS100 naik 1,87% menjadi 811,011, tetapi masih turun 32,05% secara ytd.

BISNIS-27 menguat 2,22%, SRI-KEHATI naik 1,55%, dan Pefindo I-Grade meningkat 2,24%.

Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI naik 1,72%, ESG Quality 45 IDX KEHATI menguat 1,61%, SMinfra18 meningkat 1,58%, dan Investor33 naik 1,93%.

Indeks infobank15 menguat 2,26%, sedangkan IDX-PEFINDO Prime Bank 10 melonjak 2,34% ke level 153,154.

Kenaikan indeks khusus saham bank ini semakin menegaskan kuatnya pemulihan saham perbankan pada perdagangan Kamis.

MNC36 naik 2,17%, sedangkan IDX-Infovesta Multi-Factor 28 menguat 2,17%.

Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) naik 1,59% menjadi 213,731, tetapi secara ytd masih terkoreksi 30,74%.

Jakarta Islamic Index (JII) meningkat 2,01% menjadi 368,583, meski masih turun 36,28% sejak awal tahun.

JII70 naik 1,95%, IDX-MES BUMN 17 menguat 1,72%, dan IDX Sharia Growth meningkat 1,98%.

Volume perdagangan saham anggota ISSI mencapai 19,575 miliar saham atau 65,9% dari total volume perdagangan BEI.

Nilai transaksinya mencapai Rp7,499 triliun atau 58% dari total nilai transaksi, dengan frekuensi 1,146 juta kali atau 65,8% dari total frekuensi perdagangan.

Kapitalisasi pasar saham anggota ISSI mencapai Rp5.315 triliun, setara sekitar US$294 miliar, atau 49,2% dari kapitalisasi pasar BEI.

Seluruh indeks sektoral BEI menguat.

Sektor barang konsumen siklikal mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 2,25%, disusul sektor barang konsumen primer yang naik 2,12%.

Sektor energi menguat 1,87%, tetapi masih menjadi salah satu sektor yang terkoreksi paling dalam secara ytd, yakni turun 33,75%.

Sektor properti dan real estat juga naik 1,87%, tetapi masih melemah 34,46% sejak awal tahun.

Sektor bahan baku menguat 1,43%, perindustrian naik 1,54%, kesehatan meningkat 1,24%, dan keuangan menguat 1,43%<

Terkini