Pertumbuhan KPR Melambat, Suku Bunga dan Ekonomi Tekan Sektor Hunian

Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:05 WIB
Kredit Perumahan. ( sumber : net )

JAKARTA - Laju kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan kian kehilangan tenaga hingga pertengahan 2026 dan diprediksi masih bakal tertahan sampai tutup tahun.

Suku bunga yang tinggi, turunnya daya beli warga, serta masalah pada pasokan dan distribusi kredit merupakan penyebab utama yang mengganjal perkembangan pembiayaan perumahan.

Informasi analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) memperlihatkan kenaikan KPR di industri perbankan hanya sampai di level 4,7% secara tahunan (yoy) pada Mei 2026, merosot dari 5,5% pada Januari.

Kelesuan ini pun terlihat pada capaian PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).

Sampai Juni 2026, saldo KPR BTN naik 5,8% yoy menjadi Rp 309,94 triliun, lebih kecil daripada kenaikan sebelumnya di angka 7,4%.

Dari jumlah tersebut, KPR nonsubsidi hanya bertambah 2%, sementara KPR subsidi naik 8,1%.

Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menuturkan kelesuan KPR di pasar perdana dipengaruhi oleh hambatan suplai akibat masalah izin lahan di beberapa wilayah, termasuk Jawa Barat.

Di samping itu, minat beli properti, khususnya untuk segmen harga lebih dari Rp 1 miliar, belum memperlihatkan perbaikan.

“Permintaan juga belum pulih sepenuhnya, terutama untuk rumah di segmen harga di atas Rp 1 miliar yang masih relatif stagnan,” ujar Nixon dari Sumbernya.

Guna menjaga laju pembiayaan, BTN menambah jangkauan ke pasar hunian bekas lewat kolaborasi bersama kanal digital seperti Pinhome dan Rumah123.

Taktik ini meliputi kredit pembelian properti bekas yang telah diperbaiki, perbaikan rumah, hingga perluasan bangunan.

BTN tetap menjaga target kenaikan kredit di kisaran 8%-10% sampai akhir 2026.

Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih membukukan peningkatan pembiayaan griya.

Hingga Mei 2026, aset pembiayaan griya BSI menyentuh Rp 60,8 triliun, naik 3,2% dari Rp 58,96 triliun pada Juni 2025.

BSI berpendapat bahwa kebutuhan hunian oleh masyarakat serta bantuan skema pemerintah masih menjadi penyokong permintaan pembiayaan properti syariah.

Akan tetapi, ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy memproyeksikan kelesuan KPR masih bakal terus terjadi hingga akhir tahun.

Menurut dia, tingginya suku bunga, melemahnya daya beli masyarakat, serta meningkatnya kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit akan terus membatasi pertumbuhan pembiayaan sektor perumahan.

Terkini