Kredit 2026 Diproyeksi Tumbuh di Atas 10 Persen, OJK Optimistis

Kamis, 16 Juli 2026 | 10:59:30 WIB
Ilustrasi uang rupiah. (FOTO:NET)

JAKARTA - Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaruh harapan besar agar tingkat ekspansi penyaluran pinjaman sektor perbankan mampu menembus angka di atas 10 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada penghujung tahun ini.

Akselerasi penyaluran dana pinjaman tersebut ditopang oleh kondisi ketahanan likuiditas yang solid serta posisi suku bunga yang terjaga dengan baik.

“Mudah-mudahan kita akan mencapai pertumbuhan di atas 10 persen (kredit) pada akhir tahun nanti. Mudah-mudahan ini akan menjadi semakin baik,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae saat ditemui wartawan di Kantor OJK, Jakarta, dikutip dari Antara , Rabu, 15 Juli 2026.

Dian mempunyai pandangan bahwa kondisi ketersediaan dana likuid perbankan pada saat sekarang ini sama sekali tidak memicu problematika.

Fenomena tersebut berjalan selaras dengan ketetapan dari pihak eksekutif demi tidak melakukan penarikan terhadap dana saldo anggaran lebih (SAL) yang dialokasikan pada institusi perbankan kelompok Himbara, bahkan justru menyuntikkan dana likuid tambahan ke dalam sistem perbankan.

Dian memberikan catatan bahwa jika ditinjau dari beragam indikator yang tersedia, performa likuiditas pada dunia perbankan pun tercatat masih bertengger jauh di atas ambang batas minimal yang ditetapkan.

Oleh karena itu, potensi risiko yang berkaitan dengan aspek likuiditas dikategorikan berada pada tingkat yang sangat minim.

Pada dimensi yang berbeda, Dian pun mengamati bahwa laju penyerapan pinjaman secara konsisten memperlihatkan tren pergerakan yang positif dari tahun ke tahun.

Dinamika positif ini dipercayai bakal mengawal momentum ekspansi penyaluran pinjaman sampai dengan akhir periode tahun ini.

Pihak OJK memprediksi tingkat suku bunga pinjaman bakal bergerak lebih terkendali, beriringan dengan kondisi perolehan dana pihak ketiga (DPK) yang diestimasi akan tetap stabil.

Sekalipun Bank Indonesia kedapatan telah mengerek tingkat suku bunga acuan (BI-Rate), Dian memproyeksikan bahwa efeknya terhadap langkah adaptasi suku bunga pinjaman tidak akan berjalan secara spontan.

"Saya kira seperti biasanya, perbankan itu masih memerlukan waktu untuk penyesuaian kredit (bunga kredit pasca BI-Rate). Karena kan tidak sampai menimbulkan masalah ke debitur. Jadi ini akan ada penyesuaian, tapi masa penyesuaian yang menurut saya normal saja, biasanya akan berlangsung beberapa bulan," kata Dian.

Lembaga OJK memproyeksikan target pertumbuhan penyaluran pinjaman sepanjang tahun 2026 mampu menyentuh rentang 10 hingga 12 persen secara tahunan, selaras dengan pemaparan yang telah diumumkan dalam agenda Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) pada masa awal tahun ini.

Di sisi lain, perolehan DPK diproyeksikan bakal membukukan pertumbuhan pada kisaran tujuh hingga sembilan persen.

Memasuki bulan Mei 2026, catatan pinjaman perbankan terdata tumbuh sebesar 11,51 persen (yoy) dengan akumulasi nominal menyentuh level Rp8.918 triliun.

Pencapaian pertumbuhan tersebut terpantau lebih memuaskan apabila disandingkan dengan periode bulan sebelumnya yang bertengger di angka 9,98 persen (yoy).

Pada bagian lain, perolehan DPK mencatatkan pertumbuhan pada angka 13,49 persen (yoy) hingga menyentuh Rp10.294 triliun.

Jika dibedah secara lebih rinci, komponen giro, deposito, beserta tabungan secara berturut-turut mencatatkan pertumbuhan sebesar 20,53 persen (yoy), 10,17 persen (yoy), dan 10,21 persen (yoy).

Kondisi ketahanan likuiditas sektor perbankan pada bulan Mei 2026 terpantau tetap berada dalam level yang mencukupi.

Hal tersebut ditunjukkan oleh besaran rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) serta alat likuid/dana pihak ketiga (AL/DPK) yang masing-masing bertengger di level 108,20 persen dan 24,74 persen.

Angka pencapaian tersebut masih berada jauh di atas batas minimal masing-masing yang dipatok sebesar 50 persen dan 10 persen.

Sementara itu, untuk tingkat rasio cakupan likuiditas (LCR) terpantau kokoh berada pada level 186,54 persen.

Terkini