JAKARTA - Memasuki pertengahan bulan Juli 2026, instrumen deposito di sektor perbankan masih menjadi primadona investasi bagi publik. Pilihan ini diambil lantaran masyarakat mendambakan keamanan modal serta return yang pasti di tengah iklim ekonomi global.
Kebijakan pengetatan moneter dari Bank Sentral Eropa dan Jepang diproyeksikan bakal mengerek suku bunga dunia secara masif. Tren ini dipicu oleh laju inflasi global yang urung menunjukkan tanda-tanda penurunan berarti.
Berdasarkan pengecekan berkala pada portal resmi masing-masing bank per Senin (13/7/2026), bank BUMN belum mengubah suku bunga deposito mereka. Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, dan Bank Mandiri masih mempertahankan skema bunga dari periode lalu.
Besaran imbal hasil ini terpantau stagnan pasca intervensi moneter agresif dari Bank Indonesia pada Juni kemarin. Kala itu, BI mengerek suku bunga acuan hingga 100 bps dalam sebuah manuver yang tergolong historis.
Langkah kenaikan suku bunga acuan tersebut berdampak langsung pada tergerusnya ruang likuiditas di industri perbankan nasional. Tekanan makin kuat akibat koreksi nilai tukar Rupiah dan lompatan imbal hasil SBN akibat gejolak konflik bersenjata Iran-AS.
Kendati demikian, instrumen ini dijamin bebas dari risiko penurunan nilai akibat sentimen pasar. Seluruh modal deposan dipastikan aman di bawah perlindungan LPS yang saat ini menaikkan pagu bunga penjaminan menjadi 3,75% dari posisi 3,50%.
Nasabah Bank Rakyat Indonesia dapat membuka tabungan deposito mulai dari Rp 1 juta apabila memanfaatkan saluran internet banking. Namun, bagi nasabah yang lebih memilih bertransaksi langsung lewat kantor unit fisik, syarat setorannya adalah sebesar Rp 10 juta.
Hingga pertengahan Juli 2026, BRI mengalokasikan imbal hasil yang menarik bagi penyimpanan modal jangka pendek. Deposito berjangka waktu 1 bulan diganjar keuntungan sebesar 3,25% bergantung dari skala jumlah simpanan nasabah.
Tingkat pengembalian tertinggi dipatok seragam pada angka 3,50% untuk nasabah yang mengambil jangka waktu 3 bulan. Sebaliknya, simpanan berdurasi panjang mulai dari 6 hingga 36 bulan diposisikan stabil pada level 3,00%.
Untuk penempatan dana pada Bank Negara Indonesia, persyaratan modal awal yang dibebankan kepada masyarakat sangat terjangkau yaitu Rp 5 juta. BNI memberlakukan bunga deposito seragam untuk seluruh rentang nominal saldo simpanan pada Juli 2026 ini.
BNI memberikan suku bunga dasar sebesar 2,25% bagi nasabah yang menaruh dana mereka dengan jangka waktu 1 bulan. Persentase keuntungan tersebut kemudian naik ke angka 2,50% saat nasabah memilih masa simpanan 3 bulan.
Keuntungan maksimal ditawarkan BNI untuk penyimpanan dana dengan tenor 6 bulan yaitu menyentuh level 2,75%. Namun jika nasabah mengambil pilihan durasi 12 dan 24 bulan, tingkat suku bunganya kembali landai di posisi 2,50%.
Bank Mandiri turut memberikan fleksibilitas proses pembukaan akun deposito kepada para nasabah setianya. Investasi dapat dijalankan dengan dana minimal Rp 1 juta lewat aplikasi Livin' by Mandiri atau Rp 10 juta secara konvensional di kantor cabang.
Berdasarkan situasi di akhir bulan ini, Bank Mandiri masih mematok persentase bunga senilai 2,25% untuk simpanan berdurasi pendek 1 dan 3 bulan. Ketentuan ini diaplikasikan secara menyeluruh tanpa melihat batas nominal dana nasabah.
Bagi nasabah yang berniat menyimpan dana dalam jangka waktu menengah hingga panjang seperti tenor 6, 12, dan 24 bulan, Mandiri memberikan imbal hasil flat di level 2,50%. Angka investasi tersebut berlaku mutlak bagi seluruh kategori saldo tabungan.
Ketahanan suku bunga deposito yang ditunjukkan oleh kelompok bank BUMN ini dinilai sanggup menjaga kestabilan ekonomi domestik di tengah krisis dunia. Kehadiran jaminan perlindungan dana dari LPS menjadikan deposito sebagai opsi investasi teraman bagi masyarakat.
Para pengamat memprediksi kalangan perbankan akan terus menyesuaikan kebijakan suku bunga mereka secara berkala. Hal ini dilakukan dengan menakar tingkat inflasi domestik serta ketersediaan likuiditas sepanjang triwulan kedua tahun 2026.