Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif dan Berpotensi Menguat

Kamis, 11 Juni 2026 | 12:51:19 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026, diperkirakan bakal bergerak fluktuatif, namun memiliki kecenderungan untuk berakhir menguat pada kisaran Rp17.900 sampai Rp18.000 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, yaitu Rabu, 10 Juni 2026, mata uang rupiah tercatat mengalami penguatan sebesar 1,08 persen ke posisi Rp17.940 per dolar AS.

Lonjakan performa mata uang Garuda ini terjadi di tengah tren pelemahan yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS.

Beberapa mata uang yang melemah antara lain:

  • yen Jepang sebesar 0,05 persen
  • yuan China sebesar 0,07 persen
  • dolar Singapura yang turun 0,12 persen

Penurunan juga dialami oleh won Korea Selatan sebesar 0,10 persen, dolar Taiwan sebesar 0,16 persen, dan baht Thailand yang terdepresiasi sebesar 0,04 persen.

Sebaliknya, beberapa mata uang Asia lainnya justru berhasil menguat bersama rupiah, seperti peso Filipina yang naik 0,24 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,05 persen, serta rupee India sebesar 0,08 persen, sementara dolar Hong Kong terpantau bergerak stagnan.

Penguatan signifikan yang dialami rupiah didorong oleh melesatnya optimisme para pelaku pasar terhadap kebijakan bank sentral yang dinilai masih membuka peluang untuk mengerek suku bunga lebih lanjut.

Langkah dari pemerintah yang menaikkan harga BBM jenis Pertamax juga direspons positif oleh pasar karena dinilai mampu memperbaiki neraca eksternal sekaligus menjaga roda stabilitas makroekonomi.

Tren positif ini diperkirakan masih memiliki ruang untuk berlanjut pada perdagangan hari ini, sepanjang tidak ada tekanan eksternal yang berarti, khususnya terkait eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah global.

Namun, terdapat faktor pembatas penguatan rupiah yang perlu diwaspadai, salah satunya yakni rencana rilis data inflasi dari Amerika Serikat.

Sementara dari sisi domestik, perhatian para pelaku pasar saat ini sedang tertuju pada rilis data kinerja penjualan ritel untuk periode April 2026.

Di lain pihak, diproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan berada dalam tren penguatan jangka panjang pada tahun 2027 dengan target rerata di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Proyeksi optimis mengenai penguatan nilai mata uang Garuda tersebut dinilai sudah sejalan dengan target yang ditetapkan pemerintah dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM-PPKF 2027.

Terdapat lima pilar utama yang menjadi dasar keyakinan bank sentral terhadap potensi apresiasi nilai tukar rupiah di masa mendatang.

Faktor pertama adalah keyakinan bahwa tensi ketidakpastian global akan mulai mereda, serta faktor kedua yaitu kondisi fundamental ekonomi domestik yang dinilai akan semakin solid ke depan.

"Demikian juga imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik, pasar keuangan yang berkembang, serta dukungan kecukupan cadangan devisa," kata Perry dalam rapat pengantar pembahasan KEM-PPKF 2027 dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Faktor ketiga berkaitan dengan langkah pemerintah yang sedang merancang regulasi ekspor sumber daya alam melalui sistem satu pintu lewat pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia serta penerapan aturan baru Devisa Hasil Ekspor.

Faktor keempat yakni komitmen penuh dari bank sentral untuk memaksimalkan seluruh instrumen bauran kebijakan yang dimiliki guna membentengi stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi pasar spot maupun transaksi forward domestik dan luar negeri.

Faktor kelima yang menjadi penentu adalah penguatan sinergi dan koordinasi yang semakin erat antara bank sentral dan pihak Kementerian Keuangan.

Kedua lembaga otoritas keuangan tersebut telah menyepakati komitmen bersama untuk saling menopang dalam menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memacu akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Terkini