Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Melemah pada Rentang Rp18.350

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:44:42 WIB
Ilustrasi Rupiah (sumber foto: NET)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa, 9 Juni 2026, diperkirakan berjalan fluktuatif namun memiliki kecenderungan ditutup melemah di kisaran angka Rp18.200 sampai Rp18.350 per dolar AS.

Berdasarkan pencatatan data pasar paling baru, mata uang rupiah ditutup terkoreksi sedalam 0,75% menuju level Rp18.170 per dolar AS pada akhir sesi perdagangan hari Senin (8/6/2026) kemarin.

Penurunan nilai tukar rupiah ini terjadi bersamaan dengan tren depresiasi yang dialami oleh sebagian besar mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS, dengan rincian:

Yuan China melemah 0,27%

Dolar Taiwan turun 0,01%

Ringgit Malaysia terdepresiasi 1,12%

Baht Thailand melemah 0,24%

Dolar Hong Kong turun 0,03%

Yen Jepang terkoreksi 0,04%

Di pihak lain, terdapat beberapa mata uang di kawasan regional yang terpantau masih sanggup mencatatkan penguatan terhadap dolar AS, di antaranya:

Won Korea Selatan terapresiasi 1,77%

Rupee India naik 0,76%

Peso Filipina menguat 0,09%

Sementara itu, untuk pergerakan nilai mata uang dolar Singapura terpantau berjalan relatif mendatar tanpa perubahan berarti.

Koreksi yang dialami oleh rupiah ini didorong oleh naiknya sentimen risk-off di pasar global, penguatan indeks dolar AS, serta tensi konflik di wilayah Timur Tengah yang kian memanas sehingga membuat investor beralih ke aset aman.

Dari dalam negeri, pergerakan rupiah juga kian terbebani oleh sentimen negatif berupa krisis kepercayaan dari para pelaku pasar serta menyusutnya cadangan devisa Indonesia yang terus menekan mata uang Garuda.

"Rupiah melemah cukup besar di tengah sentimen risk-off global dan penguatan dolar AS. Dari domestik, sentimen yang berkembang masih berkaitan dengan krisis kepercayaan pasar serta menurunnya cadangan devisa," ujarnya.

Tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah ini diperkirakan masih akan berlanjut pada sesi perdagangan Selasa (9/6/2026) hari ini lantaran bayang-bayang dari sentimen negatif domestik dinilai belum mereda.

Sedangkan dari faktor eksternal, para pelaku pasar bakal terus memantau perkembangan eskalasi konflik di Timur Tengah yang dinilai kian menjauh dari kesepakatan damai.

Selain hal itu, tekanan jual yang masif di pasar saham global akibat koreksi tajam pada saham-saham di sektor teknologi juga berisiko memberikan beban tambahan bagi pergerakan aset berisiko seperti rupiah.

Meski demikian, asosiasi pengusaha kawasan industri berpandangan bahwa penurunan nilai rupiah serta koreksi Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) sejauh ini belum mengikis daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

Di tengah situasi tekanan ekonomi dunia saat ini, Indonesia dinilai mempunyai peluang besar untuk menjaring modal asing karena banyak perusahaan multinasional yang tengah mengkaji ulang rantai pasok global mereka.

Langkah utama yang mesti diambil saat ini bukanlah panik terhadap fluktuasi pasar, melainkan berfokus penuh dalam memastikan komitmen investasi dapat segera masuk dan terealisasi dengan cepat di dalam negeri.

Aspek krusial yang menjadi penentu kemenangan dalam persaingan investasi global ini meliputi simplifikasi regulasi, akselerasi perizinan, penyelarasan aturan pusat dan daerah, kepastian tata ruang, pemenuhan pasokan energi, serta peningkatan mutu infrastruktur.

"Investor pada dasarnya mencari tiga hal, kepastian, kecepatan, dan kemudahan. Ketika ketiga hal tersebut dapat diberikan secara konsisten, maka Indonesia akan tetap kompetitif meskipun dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik," katanya.

Di sisi lain, kebijakan yang ditempuh oleh jajaran pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas keuangan tetap mendapatkan apresiasi positif karena dinilai konsisten dalam menjaga stabilitas sektor keuangan domestik demi memelihara kepercayaan pasar.

Terkini