IHSG Anjlok Serta Rupiah Melemah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:44:42 WIB
Ilustrasi IHSG (sumber foto: NET)

JAKARTA – Pasar keuangan di dalam negeri mengalami tekanan yang sangat besar dalam satu minggu belakangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hingga ke posisi paling rendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir, sementara nilai tukar rupiah melemah dan menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Pada penutupan perdagangan di hari Jumat (5/6/2026), IHSG tercatat jatuh sebanyak 245,02 poin atau setara dengan 4,2% menuju ke level 5.594.

Jika dihitung dalam sepekan terakhir, akumulasi penurunan IHSG mencapai angka yang cukup tajam, yaitu sebesar 8,73%.

Kondisi penurunan ini juga dibarengi dengan adanya aksi jual bersih oleh para investor asing yang nilainya menyentuh Rp13,78 triliun pada periode yang sama.

Penurunan yang terjadi pada IHSG dinilai sangat signifikan karena masih didominasi oleh pergerakan tekanan jual dalam volume yang relatif besar.

Apabila dilihat dari sisi sentimen, terdapat aliran modal asing yang keluar sepanjang tahun berjalan ini dengan nilai mencapai Rp57,63 triliun.

Di waktu yang bersamaan, nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS juga mengalami pelemahan sebesar 1,3% dalam waktu satu minggu ini.

“Pelemahan pasar diperkirakan dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan yang terjadi di Indonesia,” katanya, pada Jumat (5/6/2026).

Di sisi lain, adanya ketidakjelasan pada beberapa kebijakan dari pihak pemerintah serta desas-desus yang direspons secara negatif oleh pelaku pasar turut memicu kembali aksi jual di pasar modal dalam negeri.

Salah satu faktor pemicunya yaitu perubahan pada Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang menimbulkan rasa khawatir terkait potensi terganggunya independensi pada lembaga keuangan.

Selain itu, realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara hingga bulan Mei 2026 dilaporkan mengalami defisit senilai Rp180,4 triliun atau sekitar 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan defisit periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp20,9 triliun atau 0,09% dari PDB.

Kendati demikian, jumlah defisit yang tercatat tersebut sebenarnya masih berada di bawah angka target defisit untuk sepanjang tahun 2026 yang dipatok pada nilai Rp689,1 triliun atau sebesar 2,68% dari PDB.

Selanjutnya, posisi nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,46% ke angka Rp18.049 per dolar AS.

Tren penurunan rupiah yang terus berlanjut ini menimbulkan dugaan di kalangan pasar bahwa otoritas moneter akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) darurat di luar jadwal resmi yang telah dijadwalkan pada tanggal 17 hingga 18 Juni 2026 mendatang.

Untuk pergerakan di hari Senin (8/6/2026), IHSG diperkirakan masih memiliki risiko untuk melanjutkan tren pelemahannya dengan batas bawah di level 5.517 dan batas atas di level 5.734.

Faktor sentimen yang membayangi pasar pada minggu ini diprediksi masih akan terus berlanjut pada pekan depan.

Untuk pilihan saham yang direkomendasikan, terdapat beberapa opsi yang dapat dicermati, yaitu:

ANTM dengan target harga Rp3.020-Rp3.200

BRMS pada level harga Rp610-Rp660

MBMA dengan target nilai Rp472-Rp520

Sementara itu, para pelaku pasar dan investor juga akan mengamati dengan saksama beberapa rilis data ekonomi krusial pada pekan depan.

Beberapa rilis data penting tersebut dijadwalkan pada hari-hari berikut:

Data cadangan devisa periode Mei 2026 pada hari Senin (8/6)

Indeks keyakinan konsumen periode Mei 2026 pada hari Rabu (10/6/2026)

Data penjualan eceran periode April 2026 pada hari Kamis (11/6/2026)

“Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” jelasnya.

Terkini