Pergerakan IHSG 9 Juni 2026 Masih Rentan Alami Pelemahan Lanjutan

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:44:41 WIB
Ilustrasi IHSG (sumber foto: NET)

JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026 diproyeksikan masih rentan mengalami pelemahan oleh sejumlah pengamat pasar modal, yang sekaligus membagikan deretan saham pilihan.

Berdasarkan data pasar terbaru, indeks saham domestik sebelumnya ditutup merosot sebanyak 254,36 poin atau anjlok sebesar 4,11 persen menuju ke posisi 5.941,07.

Sepanjang sesi perdagangan tersebut, indeks bergerak fluktuatif dengan batas bawah pada angka 5.842 dan batas atas mencapai level 6.213,18.

Aktivitas pasar mencatat total nilai transaksi menembus angka Rp25,19 triliun, didukung oleh volume perdagangan mencapai 36,2 miliar lembar saham.

Adapun intensitas perdagangan di bursa terpantau sebanyak 2,72 juta kali transaksi selama sesi berlangsung.

Kondisi pasar didominasi oleh koreksi harga dengan rincian:

75 saham mencatatkan kenaikan

726 saham merosot

158 saham lainnya bergerak mendatar

Beberapa emiten berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45 yang menjadi penekan utama pergerakan indeks antara lain:

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Menyusut 14,91 persen ke posisi Rp3.310.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Melemah 12,12 persen ke posisi Rp2.320.

Saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Terpangkas 11,98 persen ke posisi Rp294.

Saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) Terkoreksi 11,82 persen ke posisi Rp2.610.

Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) Melemah 10 persen ke posisi Rp1.305.

Analisis teknikal pasar mengindikasikan bahwa posisi indeks saat ini diperkirakan tengah melaju pada fase gelombang penurunan tertentu dari siklusnya.

"Cermati 5.184-5.282 sebagai area koreksi berikutnya," menurut proyeksi tertulis lembaga riset pasar.

Adapun batas batas bawah atau support indeks diperkirakan berada pada rentang 5.261 hingga 5.191, sedangkan batas atas atau resistance dipatok pada level 5.462 sampai 5.594.

Pelaku pasar disarankan untuk mencermati opsi pembelian saat harga melemah atau buy on weakness untuk emiten seperti ASII, BULL, JPFA, dan NICL.

Secara teknikal, pergerakan di pasar modal dinilai masih dikuasai oleh tren penurunan yang kuat tanpa adanya indikasi pembalikan arah yang sah.

Dalam situasi pasar yang berisiko ini, langkah utama yang perlu diambil adalah menjaga modal dengan membatasi investasi pada saham lapis kedua dan ketiga yang sepi peminat.

Selain itu, pelaku pasar diimbau agar tidak melakukan pembelian cicil ke bawah secara berlebihan sebelum kondisi mata uang lokal stabil dan harga saham menyentuh titik terendah.

”Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, tetapi tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI,” menurut keterangan resmi pengamat pasar modal.

Terkini