Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Mei 2026 Capai 0,7 Persen

Jumat, 05 Juni 2026 | 13:49:29 WIB
Ilustrasi APBN (sumber foto: NET)

JAKARTA - Realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 berada di angka 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Rasio tersebut mengalami kenaikan tipis jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di posisi 0,64 persen.

Selain itu, realisasi untuk penerimaan pajak pada Mei 2026 juga dilaporkan tumbuh sebesar 22,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Atas dasar capaian tersebut, realisasi APBN hingga bulan kelima tahun ini dinilai masih berada dalam kondisi yang mumpuni.

"Pertumbuhan pajak pada Mei 22,1 persen, jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu. itu suatu hal yang menggerakkan. Mei defisitnya naik sedikit dibanding April 0,7 persen, sampai sekarang masih aman,"

Pada laporan sebelumnya, APBN per 31 April 2026 mencatatkan defisit anggaran sebesar 0,64 persen terhadap PDB.

Angka persentase ini sebenarnya sudah mengecil dari bulan sebelumnya yang sempat menyentuh angka defisit hingga 0,93 persen terhadap PDB.

Merujuk pada data kinerja formal pemerintah, kas negara mengalami defisit anggaran sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB.

Batas maksimal target defisit yang ditetapkan untuk sepanjang tahun ini adalah sebesar 2,68 persen terhadap PDB.

Kinerja defisit ini tercatat lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun lalu, di mana saat itu keuangan negara justru surplus Rp4,3 triliun atau 0,02 persen terhadap PDB dari target setahun penuh sebesar 2,53 persen.

Kondisi APBN yang mengalami defisit ini dipicu oleh jumlah pendapatan negara yang masih lebih kecil dibandingkan dengan total pagu belanja negara yang dikeluarkan.

Untuk rincian realisasi pendapatan negara hingga 31 April 2026 baru terkumpul Rp918 triliun atau sekitar 29,1 persen dari keseluruhan target setahun penuh yang dipatok sebesar Rp3.153 triliun.

Meski demikian, hasil ini tumbuh sebesar 13,3 persen dari pendapatan negara pada periode yang sama di tahun lalu.

Di sisi lain, nilai realisasi belanja negara telah menyentuh Rp1.082,8 triliun atau setara 28,2 persen dari total target belanja setahun penuh yang dianggarkan sebesar Rp3.842 triliun.

Angka belanja ini melonjak hingga 34,3 persen dibandingkan dengan realisasi belanja pada periode yang sama tahun lalu.

Oleh karena situasi tersebut, pemerintah mesti menggulirkan pembiayaan anggaran yang mencapai Rp298,5 triliun atau sebesar 43,3 persen dari total target pembiayaan sepanjang tahun yang senilai Rp689,1 triliun.

Jumlah pembiayaan ini terkerek naik sebesar 6,2 persen dari realisasi tahun lalu pada periode yang sama.

Untuk posisi keseimbangan primer saat ini terpantau berbalik arah menjadi surplus sebesar Rp28 triliun, setelah sebelumnya sempat menorehkan defisit yang cukup dalam hingga Rp95,8 triliun pada Maret 2026.

Melalui hasil ini, dapat disimpulkan bahwa pemerintah sudah tidak melakukan penarikan utang baru hanya demi menutup beban utang yang lama.

Walaupun demikian, pencapaian surplus keseimbangan primer ini masih terhitung lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama di tahun lalu yang mampu menyentuh angka surplus sebesar Rp173,9 triliun.

Terkini