Rupiah Alami Overshooting Ekonom Desak Bauran Kebijakan di 2026

Jumat, 29 Mei 2026 | 13:34:40 WIB
Ilustrasi Rupiah (sumber foto: NET)

JAKARTA - Kondisi kurs mata uang garuda terhadap dolar Amerika Serikat dinilai sedang dalam tahap overshooting. Gejala pelemahan ini dipandang telah melewati batas kewajaran fundamental ekonomi jangka panjang tanah air.

Rupiah saat ini menjadi tameng utama dalam meredam gejolak ekonomi global. Tekanan internasional yang ada semestinya terbagi secara proporsional ke bermacam sektor domestik lainnya.

Kondisi mata uang domestik yang memikul beban sendirian ini terjadi karena adanya langkah kuat dalam menahan adaptasi di sektor dalam negeri. Kebijakan proteksi berupa penahanan harga energi demi menjaga stabilitas sosial justru membuat tekanan global bergeser ke fluktuasi mata uang.

Berdasarkan teori Dornbusch Overshooting, jika harga di pasar domestik kaku sementara pasar finansial melesat sangat cepat, maka kurs otomatis merespons secara drastis.

Pasar keuangan global kini tidak sekadar memantau data yang tersaji secara sekilas pada hari ini saja. “Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas,”.

Faktor luar negeri yang membawa tekanan besar ini didominasi oleh perpaduan keperkasaan dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury, serta meluasnya fragmentasi perdagangan internasional.

Dari sisi internal, pelaku pasar melihat belum adanya keselarasan antara kebijakan fiskal dan moneter yang memicu beban otoritas moneter menjadi kian berat. Langkah dari Bank Indonesia yang bergerak maju lewat pendekatan pre-emptive serta ahead the curve patut diapresiasi.

Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin dinilai sebagai keputusan penting dalam mengembalikan kredibilitas serta menjaga jangkar pasar keuangan.

Walau demikian, upaya stabilisasi mata uang garuda ini tidak bisa dipasrahkan kepada Bank Indonesia sendirian. Pihak pemerintah membutuhkan bauran kebijakan yang seimbang antara lini moneter dan fiskal.

“Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,”.

Apabila koordinasi lintas sektor ini timpang, efek negatifnya dikhawatirkan bakal menjalar ke sektor riil domestik yang sekarang mulai memasuki fase mengkhawatirkan.

Kendati dibayangi tantangan yang berat, ada optimisme bahwa mata uang domestik masih mempunyai celah penguatan yang cukup besar ke depan. Posisi nilai tukar saat ini dinilai terlalu lemah jika diukur dari kapasitas serta daya tahan ekonomi riil Indonesia.

Mata uang garuda diproyeksikan punya peluang menguat kembali menuju rentang level:

Rp16.800 per dolar AS

Rp17.000 per dolar AS

Syarat utamanya adalah pemerintah harus segera memaparkan roadmap pemulihan yang tegas serta pembagian beban kebijakan yang masuk akal antara lini fiskal dan moneter.

Pelajaran paling berharga dari situasi ini adalah bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak bisa dipikul oleh satu instansi saja, melainkan butuh struktur ekonomi yang tangguh lewat kerja sama lintas sektor.

Pada kesempatan berbeda, pengamat pasar uang dan komoditas memperkirakan kurs rupiah masih dibayangi tekanan yang amat kuat. Mata uang domestik berpotensi mendekati level psikologis baru yakni Rp18.000 per dolar AS saat pasar dibuka pada Jumat (29/5/2026).

Rentetan tekanan hebat tersebut terus dipicu oleh perpaduan faktor eksternal dan internal yang dinilai kian memberatkan mata uang nasional dari waktu ke waktu.

Merujuk pada dinamika pasar terbaru, mata uang rupiah berada pada posisi Rp17.855,5 per dolar AS atau mengalami penurunan sekitar 54,5 poin. Bahkan pada pergerakan harian, nilai tukar sempat menyentuh rentang Rp17.870 per dolar AS.

Dalam menyikapi sentimen penutupan pekan, kemungkinan besar pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Terkini