Kurs Rupiah Lemah Tembus Rp17.800 IHSG Berpotensi Alami Volatilitas

Jumat, 29 Mei 2026 | 13:34:40 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah mengalami penurunan tajam hingga melewati batas psikologis baru di atas Rp17.800 per dolar Amerika Serikat.

Kemerosotan ini tidak sekadar memberikan beban tambahan bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, melainkan ikut membayangi kinerja saham sektor perbankan papan atas serta perusahaan yang memiliki beban utang operasional dalam dolar AS.

Di pasar spot, mata uang garuda melemah sebesar 44,50 poin atau setara 0,25 persen sehingga mendarat pada level Rp17.845 per dolar AS saat sesi perdagangan Kamis 28 Mei 2026 berakhir.

Fluktuasi nilai mata uang yang melampaui batas tersebut kini menjadi pusat perhatian utama bagi para pelaku investasi di pasar modal dalam negeri.

Depresiasi nilai tukar ini memicu tekanan langsung terhadap laju pergerakan indeks saham domestik, kendati dampaknya diperkirakan lebih condong bersifat sementara.

Namun, tingkat tekanan yang dihasilkan tetap berada pada skala menengah hingga cukup masif, yang pada akhirnya memicu volatilitas tinggi pada indeks saham.

Kondisi pasar modal kian diperberat oleh adanya indikasi penarikan modal keluar oleh pemodal eksternal dari lantai bursa nasional.

“Jadi tentunya ini bisa menyebabkan terjadi tekanan terhadap IHSG, tapi sifatnya jangka pendek. Dan tekanan tersebut memang bisa cukup besar hingga moderat, di mana pergerakan indeks akan relatif fluktuatif. Belum lagi juga ada outflow sama asing,”.

Pelemahan mata uang ini secara umum memicu aksi pelepasan saham bersih oleh institusi global.

Di tengah ketidakpastian iklim finansial internasional, para pelaku usaha luar negeri memilih memindahkan aset mereka ke instrumen finansial berbasis dolar AS sebagai bentuk perlindungan dari risiko kerugian nilai tukar.

“Karena kalau misalnya pelemahan nilai tukar rupiah biasanya diikuti oleh aksi jualan bersih pelaku investor asing. Belum lagi juga investor global itu cenderung mengamankan aset mereka ke instrumen yang seperti dollar AS,”.

Selama mata uang domestik belum memperlihatkan pola penguatan yang stabil, pergerakan indeks saham nasional diproyeksikan masih terus dibayangi oleh fluktuasi yang tajam.

Situasi ini menuntut para pelaku pasar untuk bersikap lebih berhati-hati dalam merumuskan strategi investasi di tengah maraknya arus keluar dana asing.

Penurunan nilai tukar mata uang dalam negeri ini dipicu oleh perpaduan sentimen luar dan dalam negeri, bukan karena rapuhnya struktur ekonomi makro nasional.

Kondisi fundamental di dalam negeri dinilai masih berada dalam posisi yang kokoh, sementara tekanan yang terjadi murni karena dominasi indeks dolar AS yang menguat.

Keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam ditopang oleh meningkatnya konflik politik di kawasan Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan bunga tinggi bank sentral AS yang bertahan lebih lama.

“Sebenarnya bukan karena fundamental makro ekonomi Indonesia yang rapuh itu bukan, sebenarnya saya yakin fundamental domestik kami masih solid. Kami lihat saja tren dollar mengalami penguatan, ini juga dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, Serta ekspektasi higher for longer dari Fed rate policy, seperti itu,”.

Faktor penekan rupiah lainnya juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan valuta asing pada periode Mei 2026.

Bulan ini merupakan masa puncak pengiriman dana keuntungan ke luar negeri oleh korporasi global di Indonesia, ditambah dengan melonjaknya kebutuhan mata uang asing untuk keperluan musim haji.

Para penanam modal saat ini juga terus mencermati beberapa kebijakan regulasi terbaru dari pemerintah yang dapat memengaruhi psikologis pasar keuangan domestik.

Beberapa poin perhatian tersebut meliputi aturan penyesuaian tarif royalti sektor pertambangan hingga adanya potensi pelebaran defisit pada pos anggaran belanja fiskal negara.

Berbagai aspek ini pada akhirnya turut memengaruhi pandangan para penanam modal asing terhadap stabilitas perekonomian serta prospek pasar keuangan ke depan.

Oleh sebab itu, pasar kini menanti respons taktis dari Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai mata uang lewat intervensi pasar maupun opsi penyesuaian suku bunga acuan.

Terkini