JAKARTA - Kondisi fundamental ekonomi Indonesia dipastikan tetap berada dalam keadaan yang kuat. Meskipun nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, situasi dinilai masih aman.
Tudingan dari beberapa pihak yang menyebut bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami masalah besar juga dibantah dengan keras.
"Fundamental ekonomi kami bagus, fiskal kami bagus. Besok saya akan jumpa pers masalah APBN. APBN kami yang sebagian majalah ekonomi bilang berantakan, nggak, kami bagus sekali dan mereka nggak ngerti apa yang kami kerjakan," katanya di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Kondisi fiskal nasional ditegaskan masih berada dalam kendali yang sangat baik.
Defisit anggaran belanja negara dipastikan tetap terjaga di bawah batas aman, yaitu sebesar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"fiskal kami masih bisa dikendalikan di bawah 3% PDB. Tahun lalu bukan 2,9 loh, 2,8% dari PDB defisitnya. Jadi nggak ada masalah. Sekarang pun kami hitung defisitnya berapa," ujarnya.
"Jadi kalau ekonom memandang kebijakan fiskal kami berantakan, mereka suruh lihat deh kebijakan negara-negara Eropa berapa defisitnya. Utangnya berapa. Itu mendekati 100% semua dari PDB, utang kami masih 40. Kami masih bagus, harusnya ekonom memuji kami," tuturnya melihat situasi makro.
Situasi ekonomi nasional diyakini akan terus mengalami perbaikan ke depan walaupun kondisi dunia sedang penuh dengan guncangan global.
Masyarakat pun diimbau untuk tidak panik menghadapi situasi saat ini.
"Jangan khawatir. Kami betul-betul memperbaiki ekonomi dan sudah kelihatan di triwulan keempat dan triwulan pertama tahun ini kami sudah tumbuh semakin cepat dan kami akan jaga terus supaya lebih cepat lagi," ucapnya.
Seluruh program kerja yang dijalankan oleh pemerintah saat ini diklaim sudah melalui perhitungan yang sangat matang.
Hal tersebut membuat ketahanan fiskal dalam negeri tetap terjaga kuat dari tekanan luar. "Semuanya sudah kami hitung dengan, dengan baik."
Pemerintah tidak hanya mengandalkan sektor belanja negara saja, melainkan juga terus memacu keterlibatan sektor swasta.
Langkah taktis ini dinilai sudah mulai memberikan dampak yang nyata bagi perekonomian nasional.
"Strategi kami bukan hanya belanja pemerintah, tapi kami juga mengaktifkan sektor swasta. Makanya pertumbuhan ekonomi bisa 5,6% triwulan pertama karena swasta juga mulai bergerak, bukan hanya government saja," jelasnya.
Capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2026 yang menyentuh angka 5,6 persen dinilai sebagai sebuah prestasi besar.
Angka tersebut berhasil diraih di tengah situasi ekonomi global yang sedang bergejolak tidak menentu.
"Triwulan pertama kami tumbuh 5,6% ketika perekonomian global lagi goncang. Jadi itu suatu prestasi yang luar biasa karena kebijakan Pak Presiden melakukan reformasi betul-betul dilakukan sebelum ada negative shock dari global. Jadi strategi pembangunannya amat baik dari Bapak Presiden," terangnya.