Pergerakan Rupiah Dibuka Stabil pada Level 17.446 per Dolar AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 12:30:18 WIB
Mata Uang Indonesia Rupiah (sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau tidak bergerak dan dibuka pada angka Rp17.446 per dolar Amerika Serikat (AS).

Mengacu pada data Bloombergtechnoz, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia berada di posisi 97,96 pada 12 Mei 2026.

Kondisi pasar global turut memperlihatkan harga minyak mentah yang bertahan di level US$104 per barel pada perdagangan hari ini.

Keadaan tersebut memicu dinamika beragam pada mata uang Asia, dengan won Korea Selatan mencatat pelemahan paling dalam mencapai 0,47 persen.

Penurunan won disebabkan oleh prediksi kenaikan tingkat pengangguran di Korea Selatan menyusul gangguan pasokan industri akibat konflik di Timur Tengah.

Selain won, dolar Singapura turut melemah 0,09 persen, disusul yen Jepang sebesar 0,06 persen, dan yuan offshore sebesar 0,03 persen.

Dari faktor domestik, fluktuasi nilai tukar Garuda terpengaruh oleh ketidakpastian kebijakan mengenai penundaan pungutan royalti hasil tambang.

Pemerintah sebelumnya sudah menyosialisasikan rencana kenaikan tarif royalti mineral sebelum akhirnya diputuskan untuk ditangguhkan sementara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa kebijakan tersebut resmi ditangguhkan.

Langkah ini diambil karena pemerintah masih mencari formula terbaik yang mampu menguntungkan seluruh pihak terkait dalam industri ini.

Di samping itu, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan mulai terkikisnya optimisme pada kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah.

Walaupun secara kolektif masih di zona positif, daya beli masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp4 juta mulai terdampak oleh kenaikan harga.

Indeks ekspektasi penghasilan untuk enam bulan mendatang pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta turun ke level 129,2 pada April dari posisi 131,1.

Sebaliknya, tren penguatan optimisme justru tampak pada kelompok ekonomi dengan pengeluaran di atas Rp4 juta untuk periode yang sama.

Kegelisahan investor juga meningkat seiring laporan defisit APBN 2026 yang menembus Rp240 triliun hingga akhir Maret.

Belanja pemerintah pada kuartal I 2026 melonjak tajam hingga 21,81 persen secara tahunan dibandingkan periode sebelumnya.

Ekspansi fiskal yang masif di tengah ketidakpastian global dianggap meningkatkan beban kebutuhan pembiayaan negara oleh para pelaku pasar.

Pemerintah dijadwalkan kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) hari ini dengan target angka sebesar Rp36 triliun.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga telah merilis Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebanyak dua kali dalam satu pekan terakhir.

Upaya otoritas fiskal dan moneter menjaring dana melalui utang berisiko menjadi lebih mahal karena komitmen imbal hasil yang lebih tinggi.

Dilihat dari sisi teknikal, nilai tukar rupiah diprediksi masih memiliki risiko pelemahan dengan potensi menembus level support Rp17.425 per dolar AS.

Apabila tekanan terus berlanjut, support berikutnya diperkirakan menuju level Rp17.450 per dolar AS dalam perdagangan hari ini.

Dalam skenario paling buruk, analisis teknikal memproyeksikan target pelemahan rupiah dapat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Meski demikian, rupiah memiliki level resistance terdekat di posisi Rp17.400 per dolar AS jika terjadi penguatan.

Jika penguatan berhasil melampaui angka tersebut, maka level resistance selanjutnya terkonfirmasi berada di kisaran Rp17.300 per dolar AS.

Terkini