Rupiah Terdepresiasi 5 Persen Terhadap Dolar AS Hingga Mei 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 12:30:07 WIB
Dolar Amerika dan Rupiah (sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.400 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026.

Pergerakan ini menandai tren negatif mata uang Garuda yang terus mendekati titik terendah sepanjang masa jika dilihat dari data perdagangan terkini.

Berdasarkan data pasar spot pagi ini, mata uang rupiah mencatatkan penurunan sebesar 1,82 persen dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Secara akumulatif hingga Mei 2026, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sebesar 5,00 persen terhadap greenback atau dolar Amerika Serikat.

Bank Indonesia terus memantau fluktuasi ini melalui mekanisme Kurs Transaksi yang mencakup 25 mata uang asing utama di pasar keuangan.

Masyarakat seringkali mempertanyakan penyebab rupiah melemah terhadap dollar di tengah kondisi ekonomi domestik yang sebenarnya cukup stabil belakangan ini.

Pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan tekanan global. Cadangan devisa tercatat turun selama empat bulan berturut-turut hingga April 2026.

Di sisi lain, indikator ekonomi Amerika Serikat memberikan tekanan besar setelah tingkat inflasi di sana melonjak menjadi 3,30 persen pada Maret 2026.

Hal ini memperkuat posisi dolar AS karena ekspektasi kebijakan moneter ketat. Penurunan cadangan devisa membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk intervensi.

Kondisi tersebut membuat rupiah rentan terhadap aksi jual investor asing yang melakukan penyesuaian portofolio di pasar keuangan dalam negeri.

Selain terhadap dolar AS, pergerakan rupiah juga menjadi sorotan para pekerja migran di Jepang yang menanyakan harga 1 yen berapa rupiah sekarang.

Bagi pelaku bisnis, memahami cara hitung kurs bank indonesia sangat penting untuk menentukan harga pokok penjualan produk hasil impor.

Secara umum, perhitungan menggunakan nilai tengah antara harga jual dan harga beli dari otoritas terkait guna menjaga transparansi nilai transaksi.

Meskipun rupiah tertekan, indikator makroekonomi Indonesia pada April 2026 menunjukkan performa stabil dengan inflasi domestik di angka 2,42 persen.

Sektor ketenagakerjaan juga membaik dengan tingkat pengangguran turun menjadi 4,68 persen pada Maret 2026 meskipun suku bunga tetap tinggi.

Analis memantau dampak dollar naik bagi masyarakat, terutama pada harga barang elektronik dan pangan impor akibat kenaikan biaya logistik internasional.

Langkah pemerintah dan Bank Indonesia akan bergantung pada rilis data ekonomi dunia selanjutnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta likuiditas valas.

Terkini