IHSG Berpeluang Rebound Hari Ini Usai Turun Tajam 2,86 Persen

Senin, 11 Mei 2026 | 09:49:54 WIB
Ilustrasi Monitor IHSG (Sumber foto: NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki kesempatan untuk 'rebound' atau mengalami pembalikan arah menguat pada hari ini. Hal tersebut terjadi setelah indeks merosot cukup dalam pada penutupan perdagangan di akhir pekan lalu hingga sebesar 2,86 persen ke posisi 6.969.

Penurunan tersebut dibarengi dengan aksi jual bersih (net sell) saham oleh investor mancanegara dengan nilai mencapai Rp485 miliar. Sejumlah saham yang paling banyak dilepas oleh pihak asing meliputi BMRI, BUMI, BREN, ADRO, serta DSSA.

"IHSG berpotensi short term teknikal rebound hari ini ke 7.070-7.130. Tetapi gunakan untuk 'sell on high' karena IHSG masih rentan kembali koreksi," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam analisisnya, Senin, 11 Mei 2026.

Istilah "sell on high" sendiri merupakan sebuah strategi untuk melepas saham ketika harganya telah menyentuh level tertinggi atau sedang mengalami kenaikan yang berarti. Langkah ini diambil demi mengamankan keuntungan (profit taking) sebelum harga berpotensi kembali mengalami penurunan.

Fanny memberikan proyeksi bahwa pergerakan IHSG pada hari ini akan berada di rentang 6.650-6.850 untuk level support. Sementara itu, tingkat resistansi diprediksi akan berada di kisaran 7.070-7.130.

Kondisi bursa saham global terpantau bergerak secara variatif pada akhir pekan kemarin. Bursa saham di Amerika Serikat menunjukkan tren menguat, namun sebaliknya bursa saham di wilayah Asia justru ditutup di zona merah.

"Indeks saham S&P 500 & Nasdaq mencapai rekor tertinggi didorong oleh menguatnya saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI)," ucap Fanny. Indeks S&P 500 tercatat naik 0,84 persen, Nasdaq menguat hingga 1,71 persen, dan Dow Jones Industrial Average mengalami kenaikan tipis 0,02 persen.

Di samping itu, laporan mengenai data pekerjaan di AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dari prediksi semula, yang menandakan ketangguhan pasar tenaga kerja di sana. Angka pengangguran pada bulan April juga tetap berada di level stabil yakni 4,3 persen.

"Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga untuk beberapa waktu. Yakni antara 3,50-3,75 persen hingga akhir tahun," ujar Fanny.

Di sisi lain, munculnya rasa optimisme terkait pendapatan perusahaan membantu para investor untuk tidak terlalu menghiraukan adanya serangan terbaru yang melibatkan pasukan AS dan Iran di kawasan Teluk.

Namun di wilayah Asia, pasar saham terpantau melemah pada akhir pekan lalu akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Ketegangan tersebut kembali menimbulkan rasa khawatir yang menguji daya tahan rally pasar saham belakangan ini.

Di negara Jepang, indeks Nikkei 225 mengalami penurunan sebesar 0,19 persen, sedangkan di Korea Selatan, indeks Kospi justru naik 0,11 persen. Untuk indeks harga saham di Hang Seng Hong Kong terpantau turun 0,87 persen, Taiex Taiwan melemah 0,79 persen, dan CSI 300 Tiongkok juga terkoreksi 0,58 persen.

Terkini