OJK Pastikan Likuiditas Stabil Meski IHSG Turun 19,55 Persen YTD

Rabu, 06 Mei 2026 | 12:29:44 WIB
IHSG

JAKARTA - IHSG mengalami penurunan sebesar 19,55 persen secara year to date hingga April 2026 akibat ketidakpastian pasar global, namun likuiditas pasar tetap stabil.

Kondisi ini mencerminkan tantangan berat yang sedang dihadapi oleh instrumen saham di tengah fluktuasi ekonomi dunia yang tidak menentu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan yang cukup dalam mencapai 19,55 persen secara year to date (ytd) sampai dengan periode April 2026.

Penurunan ini merupakan dampak langsung dari tingginya intensitas volatilitas yang terjadi pada pasar keuangan global saat ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengonfirmasi fenomena pelemahan indeks ini melalui konferensi pers yang digelar secara virtual pada Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data terakhir, posisi IHSG kini berada pada level 6.956,80 setelah mengalami tekanan jual di pasar reguler.

Level tersebut memperlihatkan adanya koreksi sebesar 1,3 persen jika dihitung secara bulanan atau month to month (mtm) dari periode sebelumnya.

Faktor eksternal yang belum menunjukkan tanda-tanda stabilitas menjadi pemicu utama pergerakan dinamis pada pasar saham domestik kita.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi ini.

"Pasar saham domestik pada April 2026 masih terlihat bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan secara global," ungkap Hasan Fawzi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati indeks saham sedang berada dalam tren melemah, OJK memberikan jaminan bahwa ketahanan pasar modal nasional masih sangat terjaga.

Hal tersebut dibuktikan dengan kondisi likuiditas yang tetap stabil dan mampu meredam guncangan dari sentimen negatif luar negeri.

Indikator ketahanan ini terlihat jelas dari rata-rata spread bid-ask yang bertahan pada level rendah yakni sebesar 1,33 kali selama bulan April 2026.

Situasi yang berbeda justru ditunjukkan oleh pasar obligasi dalam negeri yang memperlihatkan performa kinerja yang semakin solid.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) terpantau mengalami kenaikan sebesar 0,74 persen secara bulanan menuju posisi 436,38 pada akhir April.

Penguatan di sektor obligasi ini didorong oleh penurunan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 3,9 basis poin secara mtm.

Kepercayaan para investor asing terhadap pasar utang Indonesia juga tampak meningkat dengan catatan beli bersih yang cukup besar.

Nilai beli bersih atau net buy dari investor luar negeri telah menyentuh angka Rp 8,8 triliun hingga tanggal 29 April 2026.

Selain obligasi, industri pengelolaan investasi juga memberikan kontribusi positif terhadap stabilitas sektor keuangan secara keseluruhan.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai angka Rp 711,89 triliun hingga April 2026, atau tumbuh 2,32 persen secara bulanan.

Jika dilihat sepanjang tahun berjalan, pertumbuhan NAB reksa dana nasional tersebut telah berhasil menyentuh angka 5,41 persen.

Kenaikan nilai aset tersebut dipicu oleh derasnya aliran dana masuk melalui aktivitas net subscription reksa dana oleh para pemodal.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir saja, aliran dana masuk melalui mekanisme subscription telah mencapai angka Rp 8,11 triliun.

Secara kumulatif, total aliran dana yang masuk ke industri reksa dana sepanjang tahun 2026 telah menembus angka Rp 37,24 triliun.

Kinerja positif di sektor ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen kolektif masih sangat tinggi dan konsisten.

Hasan Fawzi kembali menekankan bahwa kecenderungan investor untuk tetap menambah posisi investasi menjadi penopang utama industri ini.

"Kinerja industri reksa dana yang tetap terjaga ini ditopang oleh kecenderungan investor reksa dana untuk tetap melakukan subscription dengan angka net subscription sebesar Rp 8,11 triliun secara month to date dan total sebesar Rp 37,24 triliun rupiah secara year to date," pungkas Hasan Fawzi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi pasar modal yang bervariasi ini menuntut para pelaku pasar untuk tetap waspada namun tetap optimistis terhadap fundamental ekonomi.

Meski IHSG masih dibayangi tekanan global, diversifikasi aset ke obligasi dan reksa dana menjadi strategi yang diambil banyak investor saat ini.

OJK akan terus memantau perkembangan pasar keuangan untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap kondusif bagi seluruh lapisan investor.

Terkini