JAKARTA – Sebanyak 13 dari 18 emiten yang tergabung dalam indeks IDX BUMN 20 sukses mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sepanjang kuartal I/2026 ini. Berdasarkan laporan keuangan yang dilansir dari Market, tren positif ini didorong oleh lonjakan di sektor infrastruktur, energi, serta stabilitas sektor perbankan.
Pencapaian luar biasa terlihat pada performa PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) yang menempati posisi teratas dalam hal persentase kenaikan. Emiten konstruksi ini meraup laba bersih mencapai Rp154,14 miliar selama tiga bulan pertama di tahun berjalan.
Perolehan tersebut menunjukkan lompatan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 lalu. Sebelumnya, perusahaan hanya mampu mengantongi laba bersih senilai Rp316,59 juta saja pada periode tersebut.
Sektor pertambangan tidak mau kalah dengan menunjukkan taji melalui performa impresif PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Laba perusahaan tambang batu bara ini terpantau melonjak hingga 104,81% year on year (YoY) menjadi Rp801,79 miliar.
Kinerja positif juga dibukukan oleh emiten pertambangan lainnya yakni PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) pada periode ini. Perusahaan berhasil mengamankan laba sebesar Rp3,40 triliun atau setara dengan kenaikan sekitar 59,85%.
Di sisi lain, kelompok emiten perbankan yang tergabung dalam Himbara tetap memegang peran krusial bagi indeks. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi pemimpin klasemen dengan raihan laba sebesar Rp15,49 triliun.
Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan performa yang hampir setara. Bank berlogo pita emas tersebut sukses membukukan laba bersih senilai Rp15,38 triliun pada kuartal pertama.
Meskipun sebagian besar perusahaan mencetak rapor hijau, terdapat beberapa emiten yang masih harus berjuang menghadapi kontraksi. PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR) tercatat mengalami penurunan laba bersih paling dalam mencapai angka 64,62% YoY.
Kondisi serupa dialami oleh pengelola jalan tol milik negara yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR). Laba bersih perusahaan tersebut mengalami koreksi sebesar 16,49% dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
Terlepas dari variasi kinerja tersebut, keberadaan Danantara Indonesia diklaim mampu memberikan dampak besar bagi penerimaan negara. Lembaga ini disebut sukses mengakselerasi setoran dividen BUMN hingga menembus angka Rp140 triliun di tahun 2025.
Statistik dari BUMN Research Group LM FEB UI mengungkapkan bahwa angka dividen tersebut melonjak 72% dibandingkan capaian 2023. Namun, Associate Director BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, menekankan adanya tantangan dalam distribusi profitabilitas.
Fenomena ini terjadi karena sekitar 75% dari total laba konsolidasi hanya disumbangkan oleh enam emiten raksasa saja. Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan keuntungan di antara anggota indeks masih belum merata sepenuhnya.
"Situasi pareto belum menunjukkan perubahan signifikan," ujar Toto Pranoto, Associate Director BUMN Research Group LM FEB UI sebagaimana dilansir dari berita sumber. Laporan tersebut dikutip pada Senin (4/5/2026) sebagai bahan evaluasi atas kinerja perusahaan plat merah.
Sebagai upaya perbaikan di masa depan, muncul rekomendasi agar Danantara mengadopsi model pengelolaan dana baru. Struktur pengelolaan dua dana atau two-fund diusulkan untuk diterapkan seperti yang sudah berjalan di negara tetangga Malaysia.
Strategi ini nantinya akan memisahkan antara pengelolaan dana bersifat komersial dan dana untuk kepentingan strategis. Hal tersebut dipandang mampu mengakomodasi mandat konstitusional tanpa mengorbankan performa bisnis perusahaan secara umum.
Selain itu, skema ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi BUMN yang mengemban beban penugasan publik cukup besar. Melalui tata kelola yang tepat, diharapkan seluruh emiten di bawah IDX BUMN 20 dapat terus bertumbuh.