JAKARTA - Petani di Kabupaten Gunungkidul didorong untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka sehingga hasil panen yang dihasilkan benar-benar berkualitas dan dapat menjadi pemasok bahan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, dalam sebuah podcast yang mengangkat tema memperjuangkan peran petani dalam program nasional tersebut.
Dorongan Peningkatan Kapasitas Petani
Menurut Rismiyadi, Gunungkidul merupakan salah satu sentra utama tanaman pangan dan sayuran. Dengan posisi tersebut, hasil produksi daerah berpotensi besar untuk menyediakan bahan baku bagi Program MBG. “Gunungkidul adalah sentra tanaman pangan dan sayuran, harapannya hasilnya tersebut bisa untuk memasok ke program MBG,” kata Rismiyadi ketika diwawancarai pada 18 Februari 2026.
Namun, ia menekankan bahwa tidak semua hasil panen dapat langsung dipasok begitu saja. Terdapat sejumlah kriteria yang harus dipenuhi oleh para petani jika ingin produknya masuk ke dalam rantai pasok MBG. Hal ini bertujuan agar bahan baku yang diterima oleh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) benar-benar layak untuk digunakan dalam penyediaan makanan bergizi.
Kualitas dan Kuantitas sebagai Syarat Utama
Salah satu poin penting yang ditekankan Rismiyadi adalah soal kualitas hasil panen. Menurutnya, baik sayur-sayuran maupun beras yang akan dipasok wajib memenuhi standar kualitas tertentu agar bisa diterima oleh SPPG penyelenggara MBG. “Untuk bisa memasok bahan baku ke program ini, ada sejumlah kriteria yang wajib dipenuhi. Pertama, dari sisi kualitas, sayur atau beras yang akan dipasok harus benar-benar berkualitas,” ujarnya.
Tidak hanya kualitas, jumlah pasokan juga harus memadai dan berkelanjutan. Rismiyadi menegaskan bahwa petani tidak boleh hanya sekali memasok kemudian berhenti. Supaya kontribusi terhadap program dapat terus berjalan, petani harus mampu menjaga kontinuitas pasokan mereka ke SPPG. “Jadi tidak boleh hanya sekali pasok, terus berhenti. Petani harus terus bisa memasoknya karena ikut berperan dalam keberlanjutan program MBG,” tutur Rismiyadi.
Peran Koperasi Desa Merah Putih
Untuk membantu petani dalam memenuhi persyaratan pemasokan bahan baku MBG, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mulai mendorong sinergi antara kelompok petani dan organisasi lokal. Salah satu strategi yang tengah dijalankan adalah memanfaatkan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang sudah mulai dibangun infrastrukturnya.
Rismiyadi berharap bahwa KDMP bisa berperan sebagai penjembatan antara petani dan pengelola SPPG. Dengan keterlibatan koperasi, hasil panen petani dapat difasilitasi untuk dipasarkan langsung ke pengelola MBG, sehingga mereka tidak perlu bersaing dengan pemasok dari luar daerah. “Kami berharap KDMP bisa menjadi penjembatan antara petani dengan SPPG yang melaksanakan program MBG,” ujarnya.
Partisipasi Petani Masih Terbatas
Meskipun program ini menawarkan peluang baru bagi para petani lokal, kenyataannya pemanfaatannya masih relatif sedikit. Rismiyadi menyebutkan bahwa saat ini hanya kurang dari 10 persen petani di Gunungkidul yang sudah terlibat dalam program pemasokan bahan baku MBG. Persentase yang kecil ini menandakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar keterlibatan petani meningkat.
Untuk itu, ia mengatakan pihaknya akan terus melakukan komunikasi dan pendampingan agar jumlah petani yang berkontribusi pada MBG dapat terus bertambah. Selain itu, pengembangan hasil pertanian di berbagai titik di Gunungkidul juga perlu terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas panen.
Harapan di Balik Keterlibatan Petani
Rismiyadi melihat keterlibatan petani lokal dalam Program MBG bukan hanya soal penyediaan bahan baku semata, tetapi juga sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Bila petani mampu memasok bahan baku secara konsisten dan berkualitas, hal ini dapat memberikan dampak ekonomi yang positif secara langsung kepada para produsen lokal.
Dengan meningkatnya serapan hasil panen oleh pengelola MBG, diharapkan petani lokal tidak hanya menjadi sekadar penghasil komoditas, tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem ketahanan pangan nasional. Rismiyadi optimistis bahwa dengan dorongan yang tepat, kualitas dan kapasitas produksi petani Gunungkidul akan semakin meningkat di masa mendatang.