JAKARTA - Di tengah perkembangan industri fintech peer to peer (P2P) lending, komposisi sumber pendanaan menjadi salah satu indikator penting keberlanjutan bisnis dan dampak sosial yang dihasilkan.
PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencatat bahwa hingga saat ini, pendanaan dari lender institusi masih menjadi penopang utama dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor ultra mikro.
Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, mengungkapkan bahwa porsi pendanaan dari lender institusi secara konsisten berada di atas pendanaan dari lender retail.
Kondisi ini mencerminkan kepercayaan institusi terhadap model bisnis dan pengelolaan risiko yang dijalankan Amartha, sekaligus menunjukkan peluang yang masih terbuka bagi peningkatan partisipasi masyarakat ritel.
“Saat ini, porsi pendanaan dari lender institusi berada sekitar 70%. Sementara itu, retail-nya sekitar 30%. Diharapkan retail terus naik. Jadi, makin banyak yang berpartisipasi,” ungkap Julie.
Dorong Peran Retail Dukung Sektor Ultra Mikro
Meski pendanaan institusi mendominasi, Amartha menaruh perhatian besar pada peningkatan kontribusi lender retail. Julie menjelaskan bahwa perusahaan secara aktif mengajak masyarakat untuk menyalurkan pendanaan melalui platform Amartha, terutama untuk mendukung sektor ultra mikro yang selama ini menjadi fokus utama perusahaan.
Menurutnya, keterlibatan lender retail bukan hanya soal menambah sumber dana, tetapi juga memperluas dampak sosial dari pembiayaan yang disalurkan.
Dengan semakin banyak masyarakat berpartisipasi, dukungan terhadap pelaku usaha ultra mikro khususnya di wilayah pedesaan diharapkan dapat semakin merata.
Julie menilai bahwa potensi pertumbuhan ekonomi daerah masih sangat besar. Oleh karena itu, peningkatan pembiayaan ke sektor ultra mikro diyakini mampu mendorong aktivitas ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Dalam hal akses, Amartha memberikan kemudahan bagi lender retail untuk mulai berpartisipasi. Julie menyampaikan bahwa lender retail dapat menyalurkan dana dengan nominal yang relatif terjangkau.
“Untuk pendanaan di Amartha, lender retail bisa menyalurkan dana paling kecil sebesar Rp 1 juta,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, Amartha berharap semakin banyak individu yang terlibat langsung dalam mendukung pembiayaan usaha kecil, sekaligus memperoleh imbal hasil dari pendanaan yang disalurkan.
Distribusi Borrower Jawa dan Luar Jawa Relatif Seimbang
Dari sisi penyaluran pembiayaan, Amartha mencatat bahwa jumlah borrower atau penerima pembiayaan saat ini relatif seimbang antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.
Julie mengatakan bahwa meskipun distribusi sudah cukup merata, perusahaan tetap melihat adanya peluang besar untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan ke wilayah luar Pulau Jawa.
Ia tidak menampik bahwa permintaan pembiayaan dari segmen ultra mikro di pedesaan, khususnya di luar Pulau Jawa, masih sangat besar. Selain itu, potensi pasar di wilayah tersebut dinilai masih terbuka lebar dibandingkan dengan Pulau Jawa.
“Kalau di Jawa, tentu sudah lebih crowded dan akses finansialnya juga jauh lebih banyak. Kalau makin ke luar Pulau Jawa, makin ada opportunity. Ditambah, kami juga pengin melakukan pemerataan pembiayaan,” tuturnya.
Menurut Julie, kondisi ini menjadi pertimbangan utama Amartha untuk terus memperluas jangkauan layanan pembiayaan ke daerah-daerah yang selama ini belum tersentuh secara optimal oleh layanan keuangan formal.
Pulau Jawa dan Luar Jawa Sama-Sama Prospektif
Meski melihat peluang besar di luar Pulau Jawa, Amartha menilai bahwa baik Pulau Jawa maupun wilayah lainnya tetap memiliki prospek yang sama-sama menarik untuk penyaluran pembiayaan ke depan. Julie menyebutkan bahwa kebutuhan pembiayaan usaha ultra mikro masih terus tumbuh di kedua wilayah tersebut.
Dengan pendekatan yang seimbang, Amartha berharap porsi penyaluran pembiayaan dapat terus meningkat secara merata, baik di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa. Strategi ini juga sejalan dengan visi perusahaan untuk mendorong inklusi keuangan dan pemerataan akses pembiayaan di seluruh Indonesia.
Julie menegaskan bahwa Amartha tidak melihat satu wilayah lebih unggul dibandingkan wilayah lainnya. Sebaliknya, masing-masing daerah memiliki karakteristik dan potensi ekonomi yang berbeda, yang dapat dikembangkan melalui pembiayaan yang tepat sasaran.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kualitas pembiayaan sekaligus memperluas dampak sosial yang dihasilkan oleh aktivitas pendanaan Amartha.
Kinerja Penyaluran dan Kualitas Pembiayaan Amartha
Hingga akhir 2025, Amartha mencatat telah menyalurkan lebih dari Rp 37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia. Capaian ini mencerminkan skala penyaluran pembiayaan Amartha yang semakin luas, khususnya pada segmen ultra mikro.
Dari sisi sektor usaha, sebanyak 53% borrower Amartha berasal dari sektor perdagangan. Sementara itu, 22% borrower bergerak di sektor pertanian, 9% di sektor peternakan, 6% di sektor jasa, serta 7% lainnya berasal dari industri rumah tangga dan sektor lain.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan Amartha menyentuh berbagai sektor ekonomi riil yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat desa.
Berdasarkan situs resmi perusahaan, Amartha juga mencatatkan Tingkat Keberhasilan Bayar atau TKB90 sebesar 95,61%. Angka ini menjadi indikator kualitas pembiayaan dan manajemen risiko yang dijalankan perusahaan dalam menyalurkan dana kepada pelaku usaha ultra mikro.
Dengan kombinasi pendanaan institusi yang kuat, peningkatan partisipasi retail, serta kualitas pembiayaan yang terjaga, Amartha optimistis dapat terus memperluas kontribusinya dalam mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi daerah ke depan.